"Lha kok nyimut!" Begitu kira-kira.

Sore minggu kemarin, karena kebiasaan nggak pake aplikasi pemandu arah, saya sempat kesasar di bilangan Klender.

Entah dapat bisikan dari mana, pas melintas di jalan putar ring road taman Viaduct, saya memilih poros jalan Raya Bekasi.

Melintas beberapa ratus meter tak jauh dari pasar Klender, tiba-tiba entah bagaimana mata saya melirik ke sisi kiri jalan raya.

Ada baliho besar warna hijau berhias tulisan warna putih, jika dieja pelan-pelan, terbaca ‘Mat Lengket’

Baliho Besar Warna Hijau Penanda Keberadaan Warung Mat Lengket.

Entah gaya pendorong apa yang membuat kendaraan yang saya naiki mengajak kedua tangan saya untuk berbelok ke kiri, padahal tadinya saya sedang tersesat dan berupaya mengikuti jalan yang lurus.

Saya parkir kendaraan lalu melenggang pelan menuju depan warung, tempat antrian banyak orang.

Saya melihat, mengamati sekeliling. Selain banyak orang lagi pada ngantri, oh! Kucing-kucing yang berkeliaran terlihat pada kurus-kurus.

“Ini warung mesti masakannya enak. Soalnya tak ada sisa buat gank kucing.” Begitu pikir saya, lanjut berujar dalam hati, “Miiyaaww.

Sampai di ujung depan antrian, saya ditanya mau bungkus apa santap di tempat.

“Santap di tempat.” Jawab saya, mantab.

Eh, saya langsung dipersilakan masuk, nggak perlu ngantri.

Lah! Buat apa saya tadi ngantri?

Soalnya saya merasa nggak membaca ada tulisan, seperti begini; ‘Mbungkus Ngantri, Ngandok Masuk!’.

Pemandangan Etalase Depan Membuat Pengantri Tak Sabar untuk Segera Menikmati Nasi Uduk dan Ayam Goreng olahan Mat Lengket.

Apapun lah, saya pun masuk warung, memilih tempat duduk dan meja untuk menikmati hidangan.

Sudah banyak orang ternyata di dalam. Semua asyik menikmati hidangan, saling bercengkerama riang dengan orang-orang semeja makan.

Saya memilih tempat yang dekat kipas angin dinding, yang lagi berputar-putar menggeleng ke kanan dan ke kiri.

Datanglah pramusaji, Mbak-mbak yang ramah menyampaikan daftar menu.

Saya baca isi menu, pilihannya berkisar nasi putih, nasi uduk, ayam goreng, ati ampla, sambal, lalapan sama semur jengkol. Juga ada teh manis, teh tawar, jeruk manis, air mineral, juga es teh sama es jeruk.

Kali ini tulisan dalam menunya benar. Soalnya kadang-kadang ada daftar menu yang maksudnya menawarkan es teh, tulisannya es the.

Teh jadi The, berarti pas ngetik word, laptopnya belum tersetting bahasa Indonesia.

Balik ke inti petualangan cita rasa.

Saya pilih nasi uduk, ayam goreng, lalap, sambal. Lalu saya memilih minuman teh tawar panas beneran, bukan anget.

Ayam goreng saya pilih bagian paha atas, sambil mewanti-wanti ke Mbak-mbak Pramusaji, agar jangan lupa memilih paha atas sebelah kanan. Biar lebih besar.

Sama apa lagi ya kok saya lupa?

Oh iya, saya bareng sama istri saya pas itu.

"Nggak pesen semur jengkol mas?"

"Nggak ah, pernah jengkolan."

"Kapan?"

"Dulu taun 1998 pas masih bujang."

"Sekarang kan sudah nggak bujang?"

"Yo wes, melu." Saya menyerah, kena sekakmat.

Kebiasaan kalo bertandang ke rumah makan, saya mesti melihat kondisi kamar kecilnya. Rumus empirisnya, kalo toiletnya bersih, memasak masakannya juga mesti bersih.

Bersih kok toiletnya. Ada juga tempat cuci tangan yang sedia sabun cair sama kertas tisu tebal, yang bukan tisu gulungan.

Masakan pesanan tak lama tiba.

Aromanya gurih menendang-nendang ujung syaraf indera penciuman, lalu bereaksi berantai antara simpul syaraf sampai ke otak, lalu otak memberi instruksi melalui reaksi berantai lagi menuju indera pengecap rasa agar segera memulai petualangan cita rasa, sekaligus ke jari-jemari agar segera beraksi mengambil potongan ayam kampung bagian paha atas sebelah kanan, lalu memotong, menyobek dan memotek, terus dioles sambal, ditumpuk nasi uduk lalu disuapinDuh, panjang.

“Nyozz!” Rasanya menyentak relung hati terdalam.

Padahal tulisan di baliho warna ijo di depan bilang ‘Lengket’. Tapi olahan ayam goreng Mat Lengket sama sekali tak lengket. Gurih, empuk tanpa ada unsur perlawanan sama sekali, meski hasil olahan ayam kampung.

Sambalnya kategori sambal bajak, seolah mampu membajak sawah agar bisa ditanami taburan bibit kata-kata hati yang menuai rasa lega dan bahagia.

Istri saya juga demikian, diam-diam saya meliriknya mengamati isi hati perasaannya yang terwujud dalam setiap gerakan sebagai bahasa tubuhnya.

Betapa tekun dan tetap bersahaja menikmati hidangan yang kami pesan, begitu telaten menyuwir dan memilah bagian-bagian daging ayam kampung goreng bagian dada, yang memang paling banyak mengandung daging daripada tulang, bagai seorang ilmuwan wanita yang tengah meneliti dan mendalami struktur anatomi benda hayati.

Dalam keheningan suasana, kami irit berkata-kata, hanya tebaran angan yang memuji kenikmatan olahan masakan.

Tiba-tiba, sepiring kecil berisi semur jengkol tersorong di hadapan saya.

"Iki cobaen enak." Hanya tiga kata yang terucap dari bibir mungil istri saya.

Saya melihat sejenak wajah istri saya yang masih menunduk menikmati petualangan cita rasa. Hidungnya yang mancung menjadi pemikat pandangan saya.

Memang saya akui, cinta saya berawal dari pertama kali saya terpikat memandang hidung mancung istri saya. Tapi, karena tak mungkin saya hanya mengawini hidungnya saja, maka saya mengawini pula segenap jiwa dan raga milik istri saya.

Saya menghentikan lamunan tentang istri saya. Saatnya kembali fokus ke petualangan cita rasa.

Saya ambil itu semur jengkol satu keping saja. Lalu, saya campur dengan sejumput nasi uduk hangat yang ada di piring saya, terus saya suap ke mulut saya sendiri.

Lagi-lagi suara mak “Nyozz!” datang menggema memenuhi ujung langit-langit hati nurani saya.

Wis jan uenak e pol itu semur jengkolnya. Trauma pernah kena jengkolan puluhan tahun sebelumnya mendadak sirna. Sensasi manis, pedas, gurih dan empuk klenyem semur jengkol yang terhidang, mengalahkan banyak pengalaman bercita rasa yang kurang nyaman.

Saya pun mengambil satu keping lagi, sebagai penyempurna kesan pertama. Masih tetap sama, gema suara mak 'Nyozz!' lagi-lagi datang menggema.

Sambil tetap menunduk, saya pun hendak mengambil sekeping semur jengkol lagi.

Apa daya, piring kecil isi semur jengkolnya kembali ditarik oleh istri saya sebagai pemilik hak utama, sebagai konsekuensi pemesan pertama.

Sambil terdiam saya amati wajah istri saya yang meski tanpa berkata-kata, saya bisa menerjemahkan kata hatinya;

"Lha kok nyimut!" Begitu kira-kira.

Cita Rasa Semur Jengkol olahan Mat Lengket Bakal Membuat Nostalgia Pernah Kena Jengkolan Tak Lagi Lengket.

Tandaslah sudah semua hidangan yang tadinya menumpuk dalam piring-piring di atas meja. Seolah tak tersisa, hanya tumpukan tulang belulang minim daging bahkan tulang-tulang rawan lunaknya.

Menjadi jawaban pertanyaan mengapa banyak kucing-kucing kurus yang berkeliaran, atas pengamatan saya tadi pas mengantri di depan warung.

Istri saya pun lalu memanggil Mbak-mbak pramusaji yang ramah dan cekatan itu sekali lagi.

Kali ini istri saya memesan lagi menu yang sama sebagai bungkusan oleh-oleh buat anak-anak yang sedang mengerjakan tugas dan PR-PR sekolah daring di rumah. Semur jengkol juga tak lupa menjadi pesanan bungkusan, meski anak-anak belum tentu suka.

Sehabis mencuci tangan, lalu berbincang ringan seputar perjalanan, kami menanti pesanan bungkusan tiba.

Tak perlu lama, dua kantung kresek berisi masakan hangat dibawa oleh Mbak-mbak pramusaji yang selalu riang. Sehabis mengucapkan terima kasih, dia terus segera berlalu untuk membersihkan meja-meja lain, yang berisikan hamparan gelas-gelas dan piring-piring kosong, hanya berisi sisa-sisa tulang belulang dan sedikit potekan sayur lalapan saja.

Berkemas kami hendak pamit pulang, menuju kasir di ujung pintu depan. Sebagai pria, kali ini saya menyilakan istri saya untuk bertandang ke kasir.

‘Ladies first', begitu istilah kerennya.

Bukan sekedar adab sopan santun sebagai pria, namun juga karena kartu ATM beserta isi di dalamnya, istri saya yang bawa.

Usai sudah petualangan cita rasa kami di warung Mat Lengket, yang berawal dari tersesat jalan dalam putaran hiruk-pikuk ibu kota.

Tiba di rumah, anak-anak menyambut riang gembira. Langsung saja, aneka ayam goreng kampung yang masih hangat disantap nikmat penuh khidmat, bersama nasi pulen panas masakan rumah, yang kebetulan baru saja matang.

Saya lalu mencoba beraksi ala intelijen yang tengah menjalankan sebuah operasi senyap. Diam-diam, saya sembunyikan bungkusan semur jengkol, ke tempat yang menyusup di seputar meja dapur.

Esok pagi, tak dinyana semur jengkol telah terhidang hangat di meja makan. Rupanya habis dipanaskan.

Hati saya bertanya-tanya, bagaimana bisa ditemukan?

Bungkusan yang menyusup di meja dapur, ternyata masih ada!

Lekas saya buka karena penasaran.

Oh!

Ternyata isinya irisan timun saja.


Agar Tak Kesasar Seperti Penulis, Ini Posisi Warung Mat Lengket Tampak Dalam Google Map.