Sudah hampir sepuluh bulan sejak Rusia menginvasi Ukraina dan hingga saat ini tak kunjung ada titik terang bagi penyelesaian perang yang tengah bergulir saat ini. Terhitung sejak 24 Februari 2022, Rusia kerap kali melancarkan serangannya kepada Ukraina. 

Serangan-serangan tersebut dilancarkan oleh Rusia dengan dalih upaya pertahanan negara. Meskipun hingga saat ini masih banyak negara maupun organisasi internasional yang menyuarakan kecamannya terhadap Rusia, hal tersebut tak kunjung membuat Rusia menarik pasukannya dari Ukraina.

Selama hampir 10 bulan perang ini bergulir, Rusia kerap kali melancarkan serangannya yang pada akhirnya membuat korban jiwa kembali berjatuhan.

Seperti yang terjadi ketika Rusia menyerang Kharkiv Ukraina yang mengakibatkan 6 orang tewas dan 16 orang terluka, atau saat Rusia menyerang Zaporizhzhia Ukraina yang menyebabkan 23 orang tewas dan 28 orang terluka. Meskipun telah banyak memakan korban jiwa namun Rusia tetap tidak gentar untuk melakukan penyerangan terhadap Ukraina. 

Pada bulan ketujuh sejak berlangsungnya perang ini, dikonfirmasi oleh PBB, Ukraina telah mengkonfirmasi bahwa setidaknya telah tercatat 14.059 warga sipil yang menjadi korban dimana 5.767 orang tewas dan 8.292 mengalami luka-luka.

Tak hanya dari sisi warga sipil saja, perang ini juga telah menewaskan puluhan ribu pasukan Rusia dan Ukraina. Kehilangan pasukan dalam jumlah yang tidak sedikit ini tak menggoyahkan keputusan Rusia untuk tetap melancarkan serangannya.

Rusia yang sejak awal menginvasi Ukraina tidak pernah mengindahkan perintah Ukraina untuk menarik mundur pasukannya dari wilayah Ukraina. Namun keputusan mengejutkan telah dibuat oleh otoritas Rusia ketika Kementerian Pertahanan menyatakan akan menarik mundur pasukannya dari Kherson, Ukraina. 

Keputusan ini sangat mengejutkan karena Kherson adalah satu-satunya ibu kota regional yang berhasil direbut oleh Rusia dalam masa invasi. Rusia benar-benar menarik mundur 30.000 pasukannya dari Kherson pada tanggal 9 November 2022.

Namun Rusia tetaplah Rusia, ditarik mundurnya pasukan tersebut tidak lantas membuat Rusia menghentikan seluruh serangannya terhadap Ukraina. Pada pertengahan November, Rusia kembali menghujani Ukraina dengan Rudal.

Apabila mengacu pada teori dalam hubungan internasional, aksi yang dilakukan oleh Rusia ini sejalan dengan pandangan realisme. Dalam teori realisme memandang bahwa hubungan internasional pada dasarnya memang bersifat konfliktual dan konflik tersebut diselesaikan melalui perang.

Hubungan antara Rusia dan Ukraina yang bersifat konfliktual dalam waktu yang lama ini pada akhirnya harus diselesaikan dengan jalan perang. Sejalan dengan teori realisme, Rusia terus melancarkan serangannya kepada Ukraina hingga saat ini. 

Seperti yang terjadi pada pertengahan bulan November 2022 dimana Rusia menghujani Ukraina dengan rudal dan menargetkan fasilitas energi Rusia. Sirine serangan udara di Ukraina berbunyi kemudian setelah itu terdengar ledakan dari rudal-rudal yang jatuh hampir di seluruh kota-kota besar Ukraina.

Menurut Ukraina serangan itu menjadi gelombang serangan rudal terberat dari Rusia setelah berperang selama hampir sembilan bulan. Dalam serangan ini diperkirakan 110 rudal dan 10 drone serangan telah diluncurkan ke Ukraina. Hal ini tentunya meninggalkan dampak yang cukup berpengaruh bagi Ukraina. 

Serangan Rusia pada pertengahan bulan November ini sebagian besar dilancarkan melalui udara yang menargetkan seluruh wilayah Ukraina dan berakhir menghantam infrastruktur energi utama serta daerah pemukiman.

Dilansir dari pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri Ukraina, Denys Shmyhal bahwa Rusia menembaki produksi gas dan perusahaan yang terletak di Dnipro.

Dilansir dari The Washington Post selama berminggu-minggu rudal Rusia telah menargetkan komponen utama dari sistem transmisi listrik Ukraina. Hal ini menyebabkan kelumpuhan trafo vital Ukraina yang akhirnya berdampak pada pasokan listrik yang tidak dapat lagi menyuplai ke rumah-rumah warga, bisnis, kantor pemerintah, sekolah, rumah sakit, maupun fasilitas penting lainnya.

Tidak hanya menyerang trafo utama Ukraina, Rusia juga memperluas targetnya. di wilayah Kharkiv dan Poltava yang menghantam 10 fasilitas produksi gas di wilayah-wilayah tersebut. Shebelinka sebagai salah satu area produksi dan pengeboran terbesar di Ukraina juga tak luput dari serangan Rusia. 

Akibat dari serangan Rusia ini sekitar 40 persen dari sistem energi Ukraina telah mengalami kerusakan dan bahkan sudah ada yang hancur. Tak hanya sistem energi yang hancur, namun timbul juga korban jiwa dari serangan ini. 

Kerusakan yang cukup parah terhadap infrastruktur energi Ukraina ini memberikan keresahan bagi warga dan juga pemerintah Ukraina karena hal ini terjadi berdekatan dengan musim dingin. 

Hal tersebut tentunya memunculkan kekhawatiran akan krisis kesehatan dan kedinginan yang sangat mungkin melanda Ukraina. Terkait serangan terbaru ini, Dewan Keamanan PBB telah menggelar pertemuan darurat untuk dapat menghentikan serangan Rusia. 

Namun tampaknya hal tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya karena Rusia tidak gentar untuk terus menghujani Ukraina dengan serangan rudalnya.

Komitmen Rusia untuk terus melakukan serangan terhadap Ukraina, dan tak kunjung dilaksanakannya dialog perdamaian di antara kedua negara ini membuat konflik yang sedang bergulir menjadi tebal seperti bola salju. Kedua negara yang sama-sama memiliki kepentingan dan ego membuat susahnya ditemukan jalan tengah bagi penyelesaian konflik ini.