Pamong Sanggar
3 minggu lalu · 336 view · 10 min baca · Lingkungan 12998_80002.jpg
Foto: Dokumen Pribadi

Tak Keruh Laut oleh Ikan, Tak Runtuh Gunung oleh Kabut

Bermula dari lembaran yang di dalamnya menyimpan banyak kata, perahu kertas itu saya buat dengan sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi sebuah perahu mungil dan siap berlayar ke samudra yang menghamparkan sejuta mimpi indah bagi kehidupan.

Dalam lautan imajinasi saya, perahu kertas itu akan berlayar ke mana angin akan membawanya kepada sebuah harapan semoga laut segera kembali sehat dan dapat mempercantik wajah bumi, agar tampak berkilau biru cerah kembali.

Namun kesedihan perlahan merambati hati dan jiwa ini. Kertas tentu akan kembali menjadi bubur ketika molekul air membasuhnya dengan sempurna saat berada di lautan. Mungkinkah doa dan harapan indah itu akan sampai sebelum akhirnya perahu kertas itu menyatu dengan alam dan kembali ke asalnya?

Kertas memang berusia pendek di tanah tropis, namun demikian ia telah mewarnai banyak potret kehidupan dan turut menyaksikan sejarah panjang kehidupan kita sebagai masyarakat yang hidup di tanah surga, di mana hutan, gunung, sawah dan lautan membentangkan keindahannya dengan sempurna. 

Sebagai cucu dari nenek moyang yang seorang pelaut, tentu saja laut merupakan tempat pelabuhan hati di mana mata memandang ke laut, yang tampak adalah kehidupan surgawi. Kail dan jala sudah cukup untuk menghidupi, hidup bahagia dan tenteram hanya dengan menjaga laut. Mengambil secukupnya dari alam untuk makan dan tidak berlebih.

Samudra memang tak hanya menyediakan sumber makanan yang melimpah, ia juga menguasai hubungan saling memengaruhi antara daratan, atmosfer dan air yang membentuk iklim dunia. Sebagai penampung akhir air hujan, samudra  memang telah berjasa dalam menyejukkan suhu planet ini. 

Samudra sendiri merupakan harta karun berharga namun terbatas yang dimiliki manusia yang sayangnya kini sedang dalam kondisi terancam kelestariannya. Dikarenakan oleh penangkapan ikan dan eksplorasi terhadap laut secara berlebihan yang berdampak pada berkurangnya keberagaman biologis yang dimilikinya. Belum lagi monster sampah dari plastik yang kini terus menggerogotinya.

Mungkin kita (manusia) memang telah melupakan pesan nenek moyang untuk senantiasa tahu diri dan menghormati alam yang telah menyediakan kebutuhan seluruh makhluk di bumi dengan tanpa pamrih. Di era kehidupan yang serba instan ini, bisa jadi aktivitas hidup kita  (manusia) terkadang memang malah memupuk keserakahan atas nama kemakmuran ekonomi secara sadar maupun tidak sadar.

Memang tak mudah hidup di era digital dengan masih mempertahankan tradisi nenek moyang, kecuali kita bisa mengambil esensi dari pesan-pesannya dan menerapkannya secara dinamis dengan tanpa mengabaikan keseimbangan alam. Hingga jejak tradisi itu tetap tampak menjadi pengingat lupa kita.

Semestinya kita bisa hidup bahagia di tanah surga, bersinergi dengan alam, baik itu di gunung maupun di lautan. Saling memberi, saling menerima dan saling melengkapi. Karena hidup di tanah Nusantara yang subur ini, secara alamiah sebenarnya kita telah mewarisi kehidupan sebagai orang gunung dan juga masyarakat laut.

Dapat hidup sebagai petani ataupun pelaut yang di mana kita tinggal, di sanalah kita bisa menikmati indahnya hidup dengan hanya memelihara dan menjaga alamnya dengan rasa syukur. Maka tidaklah mengherankan bila munculnya kehidupan selain itu (industri) yang tidak sinergi, malah merusak alam yang sudah sungguh indah.


Tak bisa dipungkiri lagi, penyerapan karbon dioksida dan pelepasan oksigen secara alamiah memang tak lagi terjadi semenjak era industri hadir dalam kehidupan kita yang berdampak pada perubahan iklim ekstrim, yang otomatis meningkatkan suhu bumi.

Tanggung jawab bersama

Kertas sendiri tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia dalam banyak hal. Dalam perahu kertas itu pun terselip doa, harapan dan cita-cita yang luhur. Meskipun perahu itu tak kan sanggup berlayar secara nyata ke lautan, tapi ia memiliki kekuatan nenek moyang seorang pelaut yang berani menerjang ombak dan menembus badai dengan tak melupakan daratan. 

Semangat itulah yang kini masih tersisa, yang masih bisa digunakan para cucu pelaut untuk berani bangkit ke laut, membersihkan sampah plastik dan menenggelamkan yang merusak laut.

Andai kita semua menyadari bahwa sebenarnya samudra telah banyak berkontribusi dalam membersihkan udara dengan adanya tanaman laut yang subur yang mampu menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen secara alamiah, tentu kita tak akan semena-mena memperlakukan laut dengan tetap menjaga tradisi nenek moyang yang senantiasa menjaga alam. Tapi bagaimanakah bila kini monster sampah plastik yang menjadi penghuni lautan dan terus menghambat proses keseimbangan alam tersebut? 

Sampah plastik yang bermuara di lautan memang telah menjadi masalah yang cukup serius bagi samudra kita, karena ia telah merusak habitat para biota laut dan menyebabkannya mati. Namun sayangnya, tetap saja produksi dan penggunaan plastik terus semakin meningkat, mengancam kelestarian laut kita.

Dari selembar kertas, perahu mungil itu bisa berubah wujud menjadi perahu yang membawa harapan indah. Maka sebagai cucu seorang pelaut, sudah sepatut dan sepantasnya kita mulai berani menggali kesadaran kita untuk menjaga kelestarian laut. Mengubah rupa laut yang suram menjadi kembali indah dengan bersama-sama membangun semangat memulai dari diri sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari kita. 

Memanfaatkan sampah plastik untuk didaur ulang dan bukan membuangnya dengan sembarangan yang pada akhirnya menuju ke lautan, mungkin adalah hal yang sederhana. Tapi dari kebiasaan sederhana ini, tentu sangat memungkinkan dapat mengurangi sampah plastik dan membebaskan lautan dari monster yang menggerogoti kehidupan di dalamnya. Laut pun menjadi sehat dan dapat mempercantik wajah bumi kembali.

Beberapa kebijakan pemerintah dalam upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan pengelolaan sampah yang benar memang patut diapresiasi. Namun harusnya kebijakan itu berimbang dengan pengurangan produksi plastik itu sendiri.

Berbagai pihak diharapkan juga dapat turut andil dalam hal ini, terutama dari dunia pendidikan apakah itu di lingkungan keluarga, masyarakat maupun lembaga pendidikan (sekolah) agar mulai membangun pola pikir generasi berikutnya untuk menjadi generasi penerus bangsa yang tidak melupakan jati dirinya yang sejati sebagai bangsa gunung dan juga bangsa laut sesuai alam membentuknya.

Meskipun hidup di era industri, mereka diharapkan tetap bisa hidup selaras, serasi, seimbang dan sinergi dengan alam. Tetap menampakkan jejak tradisi yang luhur dengan penuh percaya diri.

Akuakultur

Kehidupan di bumi memang selalu berkaitan erat dengan laut. Maka, manusia tentu sangat berkepentingan untuk melindungi samudra-samudra terhadap penyalahgunaan lebih lanjut. Memelihara ikan, kerang, udang atau lobster sebagai sumber pangan yang disebut sebagai akuakultur bisa menjadi salah satu cara untuk memulihkan populasi jenis binatang laut tertentu yang kian menipis.

Pihak-pihak yang terkait dengan kelautan baik pemerintah maupun swasta, ilmuwan maupun masyarakat umum tentu dapat memberikan dukungannya bagi kepentingan budi daya air (akuakultur) dengan membiakkan dan memelihara spesies-spesies laut di lingkungan yang bisa tumbuh subur seperti di alam liar (menetaskan ikan di tangki/kolam dekat laut). Kemudian selain bisa dipelihara dan dipanen, sebagian lagi bisa dilepaskan agar ikan tersebut dapat bermigrasi ke laut demi lestarinya kehidupan laut dan samudra.

Kalau laut kita bersih dan sehat, tak ada sumbatan sampah dalam alirannya, mulai dari gunung sampai ke laut, keramba lepas pantai pun kelak bisa digunakan untuk memelihara ikan air asin maupun rumput laut dan juga tanaman laut lainnya sebagai sumber pangan, bahan baku alternatif pembuatan kertas, bahan bakar dan juga pupuk. Ilmu kelautan yang semakin maju tentu dapat mengembangkan budi daya air tersebut.


Sayangnya, sekarang ini saja kita  masih berhadapan dengan mafia penyelundupan benih lobster ke luar negeri maupun mafia penyelundupan sampah plastik ke dalam negeri yang juga menjadi salah satu penghambat upaya pelestarian harta karun berharga namun terbatas yang kita miliki.

Maka saya pun akhirnya merelakan perahu kertas itu berlayar ke samudra secepat deru ombak menderu saat cahaya senja mulai redup. Dengan perlahan namun pasti, saya pun memerdekakan takdir membawa perahu mungil itu membangkitkan seluruh kekuatan alam dari tidur panjangnya, sebelum sang perahu yang membawa serat selulosa itu menyatu ke dalam air di lautan dan kembali menjadi bubur kertas.

Kilatan cahaya dari langit pun tiba-tiba menerangi seluruh samudra, tanda alam bahwa semesta pun turut mendukung cita-cita luhur tersebut. Saya pun tersentak seketika menyadari tanda alam itu seolah begitu nyata di hadapan saya. Maka, saya pun yakin kekuatan dari alam sendirilah yang nanti pada akhirnya datang ke lautan dengan cahaya terangnya, mengambil kembali yang telah terampas dan memulihkan yang telah rusak.

Kertas dari ampas rumput laut merah

Perahu mungil itu terbuat dari kertas dan merupakan salah satu simbol dari potret yang tak dapat kita ingkari lagi bahwa kertas memang telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat kita. Dengan kembali sehatnya laut, rumput laut yang dapat tumbuh subur di tanah tropis, tentu dapat menjadi salah satu bahan baku alternatif pembuatan kertas selain dari kayu. 

Ini sangat memungkinkan karena tiga perempat dari bentangan permukaan bumi kita adalah laut dan samudra. Untuk menjaga keseimbangan alam, kita memang perlu mulai memikirkan budi daya air selain dari daratan (hutan) untuk pembuatan kertas.

Meskipun sampah kertas ramah lingkungan, secara tidak langsung proses pembuatannya sampai menjadi sebuah kertas tetaplah turut menyumbang kerusakan alam. Tak bisa dipungkiri, sejak era industri menyapa kehidupan manusia, pola pikir dan gaya hidup manusia pun juga ikut berubah yang dampaknya mungkin baru disadari setelah munculnya monster-monster sampah  berkeliaran bebas menggerogoti tubuh bumi.

Operasional pabrik kertas berbahan baku kayu sekarang ini sepatutnya memang perlu melirik pada bahan baku alternatif lainnya selain dari daratan, mengingat pentingnya kertas bagi kemajuan peradaban bangsa yang tak bisa dihentikan produksinya, dan juga permintaan pasar dunia yang tetap tinggi.

Bubur ampas dari rumput laut merah memungkinkan keberadaan kertas tetap  terjaga dengan menjadi salah satu alternatif bahan baku pembuatan kertas yang ramah lingkungan. Bahan baku alternatif pembuatan kertas dari rumput laut ini tentu menjadi kabar yang menggembirakan bagi industri kertas. Selain dapat menyelamatkan hutan, mempertahankan kualitas udara dan air, penebangan pohon pun otomatis dapat ditekan sehingga menghemat penggunaan kayu.

Proses pembuatan kertas dari bahan baku rumput laut sendiri nyaris tidak menggunakan bahan kimia, kecuali untuk proses pemutihannya yang masih menggunakan klorin. Karena kualitas kertas yang dihasilkan dari bahan baku rumput laut juga sangat baik dan aman bagi kesehatan karena kandungan racunnya yang minim, tentu ini juga memungkinkannya memiliki peluang untuk dapat dijadikan kemasan makanan cepat saji menggantikan plastik.

Secara umum proses pembuatan kertas dari bahan rumput laut hampir sama. Dan karena pengolahannya nyaris tanpa bahan kimia, hampir tidak ada limbah yang keluar. Sehingga tidak berdampak mengganggu kesehatan dan memang lebih ramah lingkungan. 

Bila keseimbangan alam terjaga, laut pun akhirnya dapat turut menyumbangkan kertas bagi kemajuan peradaban manusia. Namun bila berbicara tentang industri, produksi dalam skala besar tentu tetap harus memikirkan dampak terhadap lingkungannya secara menyeluruh. 

Kisah kertas dalam perahu

Pada momen ini saya berharap kertas akan dapat menorehkan kisah dalam perahu, bahwa laut dan daratan memang memiliki jalinan yang erat seperti serat selulosa maupun serat agalosa dalam kertas. Sekaranglah waktunya kita bangga menjadi bangsa gunung dan bangsa laut, kembali ke jati diri yang sejati sesuai alam membentuk.

Kini hendaknya kita dapat bersama-sama bergotong royong membersihkan sampah dari gunung sampai ke laut. Mencari dan memperbaiki hambatan dari semua alirannya, mulai dari hulu hingga ke hilir. Kemudian kembali hidup sebagai bangsa gunung dan juga bangsa laut. Mengambil dari alam secukupnya untuk hidup, selebihnya hanya bersyukur dan menikmati tanah surga.

Baca Juga: Perahu Kertas

Sebagai bangsa gunung dan bangsa laut, adakalanya kita memang meluangkan waktu untuk bekerja. Dan sekaligus sebagai masyarakat holistik, sekali waktu kita beristirahat dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, menikmati tanah surga dan mengikuti gerakan alam menuntun hidup dengan benar di waktu yang tepat.

Perahu kertas itu memang tak harus berlayar secara nyata ke laut. Tapi pesan, doa, harapan dan semangatnya diharapkan dapat sampai kepada generasi masa depan negeri ini yang merupakan cucu dari nenek moyang yang seorang pelaut. Dan kita sebagai cucu-cucunya, sepatut dan sepantasnya memiliki tanggung jawab moral dan tahu apa yang harus kita lakukan dalam menjaga laut dari penyalahgunaan-penyalahgunaan lebih lanjut.

Perahu adalah simbol yang nyata. Ia pembawa sekaligus perantara. Karena perahu mungil itu dari kertas, kekuatannya memang terlihat tak mungkin berada di lautan. Tapi keyakinan yang ada di dalamnyalah yang akan menjadikannya nyata, mewujudkan harapan dan cita-cita yang luhur.

Dan bila suatu hari nanti kita memiliki kesempatan memandang lepas ke tepi pantai membayangkan nenek moyang kita berdiri dengan gagahnya di hadapan laut, hawa laut yang khas tentu akan menyadarkan kita betapa nenek moyang kita dulu memang benar-benar seorang pelaut sejati yang gemar mengarungi luasnya samudra. Berani menerjang ombak dan tiada pernah takut menempuh badai. Mereka memang sosok pelaut sejati yang tangguh.

Demikian pula saat angin bertiup dan layar terkembang. Saat ombak berdebur di tepi pantai. Segenap pemuda pun harusnya bangkit sebagai pemberani. Pergi ke laut beramai-ramai. Membersihkan sampah yang mengotorinya. Menenggelamkan yang merusak lautnya. Dan bangga menjadi pemuda masa depan yang tangguh. Tidaklah mengherankan bila itu bisa terjadi, karena mereka mewarisi darah seorang pelaut.

Perahu kertas itu kini telah berlayar jauh ke dalam lautan imajinasi saya. Kesedihan pun tak lagi merambati hati dan jiwa ini. Angin malam telah mengabarkan sang perahu tak tenggelam di lautan dan akan segera kembali ke daratan dengan rupa yang lebih indah dan bercahaya. 

Ia telah menyusuri pantai tanpa terburu-buru dan mengarungi samudra dengan mengikuti tuntunan alam. Kadang pelan, kadang bahkan berhenti di tengah hantaman gelombang, namun sekali waktu melaju dan melesat secepat kilatan cahaya menyusuri jejak nenek moyang yang selalu menjaga tradisi leluhur. 

Maka, tinggal di tanah surga dengan tetap menjunjung tinggi adat istiadat, hidup sebagai bangsa gunung maupun bangsa laut yang holistik adalah merupakan anugerah terindah dari Tuhan Yang Maha Esa. Karena demikianlah ketetapan alam, disaksikan oleh lembaran kertas yang senantiasa mengiringi perjalanan hidup manusia, memanglah tak keruh laut oleh ikan, tak runtuh gunung oleh kabut.

Artikel Terkait