Dalam sebuah training yang pernah saya ikuti, ada satu sesi yang cukup menarik. Ketika fasilitator meminta kami para peserta duduk berputar pada jarak tertentu dengan membawa kertas dan alat tulis. Lalu kami masing-masing diminta membuat empat kotak besar dalam selembar kertas tersebut. Pada kotak pertama kami diminta untuk menuliskan lima sifat baik masing-masing.

Saya perhatikan setiap orang dapat mengerjakan tugas ini dengan cepat. Beberapa peserta tampak tersenyum-senyum seakan-akan tugas ini terlalu mudah untuk dikerjakan. Dan sepertinya menuliskan sepuluh sifat baik pun tidak akan ada yang mengalami kesulitan. Saat fasilitator bertanya pada masing-masing orang apa yang dituliskannya, kami semua bisa menjawabnya dengan lancar. Kami bisa menjelaskan kelebihan kami masing-masing tanpa keraguan.

Tugas berikutnya fasilitator meminta kami menuliskan lima sifat buruk masing-masing pada kotak kedua. Disinilah saya perhatikan para peserta tampak mulai berpikir. Ada yang mengerjakan dengan tenang, tapi ada juga yang tampak kebingungan. Lalu tiba-tiba salah seorang peserta bertanya pada fasilitator "Perfeksionis itu termasuk sifat baik atau buruk?" Fasilitator pun mengembalikan pertanyaan kepada semua peserta sebagai bahan diskusi, dan jawaban kami sangat beragam.

Seorang peserta menjawab perfeksionis merupakan sifat yang baik, karena membuatnya menjadi seseorang yang lebih disiplin dan bertanggungjawab pada tugas. Sementara saya yang juga merasa memiliki sifat perfeksionis, lebih cenderung meletakkan sifat ini pada sisi buruk. Walaupun awalnya saya bingung meletakkan sifat ini pada sisi mana. Menjadi sisi baik ketika sifat perfeksionis membuat saya lebih berhati-hati dalam  perencanaan. Akan tetapi sisi buruknya membuat saya tidak bahagia saat mengerjakannya, karena selalu diiringi rasa kuatir akan kegagalan.

Peserta yang lain juga mengatakan perfeksionis merupakan sifat buruk. Karena bisa membuatnya menjadi seseorang yang baperan, mudah marah dan mudah tersinggung. Terlalu berharap sesuatu yang sempurna dan mudah kecewa bila harapan tidak sesuai kenyataan. Bahkan peserta lain mengatakan sifat perfeksionisnya buruk sekali, hingga membuatnya tidak bisa tidur. Hanya karena memikirkan hal-hal detail yang harus dikerjakannya esok pagi, atau  hanya karena memikirkan belum sempat berbenah rumah yang berantakan. Waduh. Ternyata sampai sebegitunya sifat perfeksionis bisa mempengaruhi seseorang.

Mengenal Sifat Perfeksionis

Tentunya setiap manusia menginginkan hidupnya lancar jaya, lurus dan bebas hambatan seperti jalan tol. Tidak ada manusia yang ingin hidupnya rumit, berbelok-belok, menembus hutan belantara, naik gunung, melewati batu-batu besar yang menghambat perjalanan, apalagi masuk ke dalam jurang. Dorongan keinginan untuk terus menerus memiliki kesempurnaan dalam kehidupan itulah yang disebut dengan sifat perfeksionis. Dan sifat perfeksionis ini bisa mempengaruhi pemikiran dan sikap seseorang, dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi.

Sifat perfeksionis dalam pekerjaan, menyebabkan seseorang lebih teliti dalam membuat perencanaan. Rencana kerja akan dibuat dengan lebih hati-hati dan detail. Seringkali terkesan ribet dengan printilan-printilan kecil, yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain. Rasa kuatir terhadap kegagalan, membuat seseorang yang perfeksionis paranoid dengan kesempurnaan. Selalu mengerjakan tugas dengan totalitas, untuk mendapatkan hasil yang terbaik tanpa cela.

Sifat perfeksionis dalam kehidupan pribadi akan membuat seseorang lebih fokus dan berorientasi pada tujuan. Seseorang yang perfeksionis akan berupaya keras untuk mencapai cita-citanya, dan selalu berusaha keras berbuat yang terbaik untuk masa depannya. Membuat target-target pribadi yang terencana dengan perhitungan yang matang. Disiplin dan tanggung jawab terhadap diri sendiri sangat besar, untuk mencapai target-target pribadi yang telah dibuatnya.

Karena selalu menginginkan kesempurnaan, sifat perfeksionis pada dasarnya kurang bisa mentoleransi hambatan apalagi kegagalan. Hambatan bisa berasal dari lingkungan yang kurang mendukung, baik lingkungan keluarga, pertemanan maupun pekerjaan. Hambatan juga bisa berasal dari kondisi di luar kendali, seperti musibah yang menimpa diri atau keluarga, atau kondisi force majeure lainnya. Hambatan ini menyebabkan target-target tidak tercapai dengan optimal, atau malah tidak tercapai sama sekali alias mengalami kegagalan.  

Dampak Buruk dari Sifat Perfeksionis.

Fasilitator meminta kami mengisi kotak ketiga dengan dampak yang terjadi dari sifat buruk kami. Fasilitator menjadikan sifat perfeksionis sebagai contoh, seperti yang tadi sudah kami sampaikan. Bagaimana sifat perfeksionis itu menyebabkan saya tidak bahagia, capek hati dan capek pikiran. Atau seperti yang peserta lain rasakan,  menjadi baperan, mudah marah dan mudah tersinggung.  Bahkan ada yang sampai mengalami gangguan tidur karena hal-hal yang sepele.

Rasa kuatir harapan tidak sesuai dengan kenyataan, dan rasa kecewa ketika harapan itu tidak tercapai. Entah karena harapannya yang ketinggian, atau karena berbagai hambatan di luar kendali diri. Nyatanya tidak semua hal yang kita inginkan dapat terlaksana, dan kesempurnaan itu menjadi sesuatu yang sulit untuk diwujudkan.

Sifat perfeksionis juga berdampak buruk pada kehidupan pribadi, menjadikan hidup  terasa "sangat ngoyo" dan terlalu berambisi untuk mewujudkan tujuan. Membuat seseorang overthinking, memiliki rasa kuatir atau rasa cemas yang berlebihan.  Sikapnya menjadi terlalu keras pada diri sendiri dan  sulit menerima perubahan. Tidak fleksibel, terlalu kaku dengan berbagai hal di luar perencanaan.  Menjadi masalah ketika dalam perjalanan mewujudkan cita-citanya mengalami hambatan.  Ketidaksempurnaan menimbulkan kekecewaan yang mendalam, hingga frustasi dan rasa putus asa.

Mengatasi Dampak Buruk Sifat Perfeksionis

Selanjutnya fasilitator meminta kami mengisi kotak keempat dengan solusi terbaik yang perlu kami lakukan untuk mengatasi dampak sifat buruk kami. Terkait dengan sifat perfeksionis, fasilitator kembali meminta pendapat kami dalam diskusi, beragam pendapat disampaikan peserta.

Ada yang mengatakan perlunya menyadari kekurangan diri dan menurunkan target bila memang dirasa terlalu tinggi. Pendapat lain mengatakan agar lebih relaks, lebih sabar dan lebih tenang menghadapi berbagai situasi. Ada juga yang menyarankan menikmati hidup dan memberikan penghargaan untuk diri sendiri. Melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan untuk sejenak melepaskan ketegangan.

Saya sendiri berpendapat perlunya memaafkan diri sendiri atas segala kekurangan dan menyadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna.  Bila hidup begitu sempurna, kita tidak akan pernah mengenal hambatan dan kita tidak akan pernah belajar dari kegagalan. Artinya kita tidak akan pernah belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik.  Selalu mensyukuri apa yang ada, apa yang kita punya dan apa yang bisa kita capai, “Tak Perlu Sempurna untuk Membuat Kita Bahagia”.

Dan begitulah akhir dari sesi training kami hari itu. Kami mendapatkan lima sifat baik di kotak pertama, dan lima solusi terbaik untuk memperbaiki diri di kotak keempat. Sehingga kami mempunyai sepuluh hal baik yang bisa terus kami kembangkan. Secara keseluruhan kami juga mempunyai bahan instropeksi diri tentang kesempurnaan dan kebahagiaan. (IkS).