Dalam lingkup pergaulan masyarakat Indonesia, terutama bila hal tersebut menyangkut basa-basi ketika bertemu teman lama atau keluarga yang sudah lama tak dijumpai--selalu umum mempertanyakan 3 hal ini selain kabar seseorang terutama--pekerjaan, status hubungan dan yang tidak bakal ketinggalan adalah jumlah anak.

Sebab seringnya basa-basi ini dilontarkan dalam pergaulan, kesannya menjadi biasa dan tak lagi tabu, sekalipun sesungguhnya hal ini jelas melanggar ranah privasi seseorang.

Bagi orang macam saya yang tidak enakan, mungkin akan menjawab dengan gelengan kepala saja pada ketiga pertanyaan ini disertai dengan senyum yang dipaksakan. Namun, sebagian juga bisa saja bereaksi berlebihan seperti diam, marah atau pergi begitu saja. Namun, dengan resiko akan jadi bahan gunjingan baru keesokan paginya.

Ketiadaan anak dalam sebuah keluarga lebih sering membebani karakter perempuan yang memang lebih diasosiasikan sebagai penghasil anak, dibanding pribadi laki-laki dengan tanpa berpikir penyebab apa saja yang terlibat di dalamnya

Alasan mengapa seorang wanita tidak memiliki anak diusia pernikahan tertentu pun bisa terjadi oleh banyak sebab, seperti faktor alami menyangkut masalah kesehatan tertentu misalnya, sedangkan faktor lainnya bisa saja dipicu karena ketidak inginan pribadi wanita tersebut.

Untuk alasan pertama biasanya para wanita lainnya dalam komunitas tertentu akan lebih mudah menunjukkan simpati. Namun, jika alasan itu disebabkan faktor non medis alias pilihan pribadi, ini akan menimbulkan gunjingan maupun cibiran-cibiran pedas. Apalagi jika latar belakang sosial ekonomi perempuan tersebut dianggap cukup mapan dan sukses. Maka bisa dipastikan ia akan dianggap sebagai perempuan egois yang hanya sibuk mengejar karir dan tak peduli keluarga sepenuhnya. Sekalipun ini tidak sepenuhnya benar, sebab tiap wanita berhak atas keputusan apapun mengenai diri dan masa depannya.

Sayangnya hal ini diabaikan. Sesama kaum perempuan yang memang cenderung gampang sekali menjustifikasi sesamanya akan lebih senang mengedepankan pandangan buruk.

Ajang gontok-gontokan dan cela mencela dalam dunia perempuan bisa dibilang lebih keras dibandingkan dunia laki-laki.

Tak ayal sikap demikian membuat perempuan-perempuan ini merasa tersisihkan dari dunia pergaulan sosial yang didominasi para ibu. Keputusan mereka tidak dihormati bahkan kadangkala harus puas ketika dikatai tak mengerti sulitnya mengurus anak karena tak pernah punya anak.

Komentar-komentar demikian dilontarkan dengan amat entengnya seolah perempuan yang memutuskan tak memiliki anak memiliki hati batu.

Kenyataannya, pengambilan keputusan apapun dalam rumah tangga selalu didiskusikan berdua dengan pasangan. Namun, lagi-lagi aspek ini tersingkirkan dengan mudah sebab alasan klasik bahwa semua perempuan memiliki naluri keibuan dan naluri keibuan ini mengharuskan mereka untuk memiliki anak dan melanjutkan keturunan.

Berekproduksi memang sejak lama telah menjadi insting dasar manusia dan hal ini boleh kita telusuri setidaknya sejak masa nenek moyang manusia mulai memasuki masa evolusi.

Kini sebaliknya, seturut perkembangan zaman yang mulai modern, insting berkembang biak tidak lagi dianggap sebagai hal dominan. Dibandingkan ratusan bahkan jutaan tahun lalu kehidupan manusia jauh lebih aman, tak banyak ancaman hingga spesies manusia mampu bertahan dalam rentang usia panjang dibandingkan dahulu.

Namun, anehnya pemikiran ini tak disambut baik semua orang. Sebagian masih menitik beratkan pada nilai fundamental sosial, di mana kehadiran anak-anak dianggap memiliki peran besar dalam kehidupan rumah tangga dengan tugas utama mendamaikan kedua orangtua sekaligus demi menghindari konflik destruktif. Sekalipun faktanya tak jarang kehadiran anak-anak lebih sering sebagai tameng belaka.

Peran anak dalam keluarga entah sengaja atau tidak seringkali dikecilkan. Ia tak lebih hanya 'status' demi memuaskan status sosial orangtua, sekaligus melindunginya dari kemungkinan menanggung malu, sebab khawatir dianggap tak bisa berekproduksi yang sekaligus dianggap sebagai cacat sosial.

Anggapan ini yang tak jarang melahirkan orangtua dengan pribadi tak bertanggungjawab, acuh tak acuh dan masa bodoh.

Peran mereka baru akan terasa menguat saat seorang anak melakukan kesalahan yang merusak bukan hanya secara individual namun juga terutama sosial.

Sementara dalam keadaan demikian, anak tetap berada dalam posisi yang paling rentan disalahkan. Atau pada keadaan tertentu demi melindungi secara sosial, kesalahan anak akan disembunyikan dan dengan tak langsung membuatnya menjadi pribadi cacat moral yang tak bisa bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahan maupun tindakan-tindakannya di masa depan.

Patut digaris bawahi bahwa melahirkan anak tak melulu demi mendapat gelar 'orangtua' ia memiliki tanggungjawab materiil dan moril yang tak hanya berlangsung pada masa itu, melainkan sampai seumur hidup.

Sayangnya, banyak orangtua tak mengerti hal ini dan lebih condong mendeskreditkan orang-orang berpaham sebaliknya. Bahkan pada tahap yang cukup ekstrim misalnya, mengetahui bahwa seorang perempuan tak ingin memiliki keturunan, ia bakal disumpahi atau ditakut-takuti bahwa masa tua tanpa anak akan membuat seseorang tersisihkan tanpa seorangpun hendak merawat, seolah tuntunan adanya seorang anak hanya diperlukan dengan alasan demikian.

Belajar membuka mata, dibandingkan sibuk mengurusi ranah privasi orang lain yang seolah tiada akhirnya ini, lebih penting kiranya untuk saling menghormati keputusan masing-masing di ranah pribadi tiap orang.

Ada tidaknya seorang anak tidaklah jadi penentu tingkat kebahagiaan seseorang. Dan tidak berhak satu dari kita menilai dengan cara dangkal demikian, berlandaskan melihat kebahagiaan kita sendiri lantas dibandingkan dengan cara orang lain berbahagia. Inilah satu rasanya yang hilang dari tradisi luhur masyarakat Indonesia.