Berbicara soal privilese memang tiada habisnya. Privilese jadi bahan pembicaraan di media sosial ketika salah satu figur publik mendapat prestasi terbaik atau mendapat jabatan penting di perusahaan maupun pemerintahan.

Apalagi jika orang tersebut berasal dari keluarga berada. Kata privilese banyak dibicarakan oleh warganet karena dinilai menguntungkan beberapa pihak saja, padahal ada beberapa warganet yang belum mengerti apa itu privilese.

Bagi yang baru mendengar dengan istilah privilese, privilese merupakan suatu hak istimewa untuk mendapatkan sesuatu yang tidak sembarang orang dapatkan, seperti mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi dan berkuliah di luar negeri.

Privilese sosial ini biasanya digunakan untuk mempermudah seseorang untuk meraih keinginannya dengan cara yang lebih mudah. Ada banyak orang mampu menggunakan privilesenya dalam meraih kesuksesannya.

Namun, tak sedikit juga orang sukses berasal dari keluarga tidak berada dan kurang mampu. Mereka mendapat kesuksesannya tentu dengan berbagai perjuangan yang tak mudah

Sukses karena Privilese

Orang biasa cenderung berpikir bahwa orang sukses yang sering diceritakan dalam kisah motivasi berjuang dari nol untuk menuju kesuksesan. Pada kenyataannya, banyak anak dari orang kaya dan elit sering kali mendapatkan jabatan di perusahaan, dan meraih popularitas di masyarakat.

Kita ambil contoh Bill Gates. Bill Gates merupakan bos dari Microsoft yang menjadi orang terkaya kedua setelah Jeff Bezos. Microsoft di masa awalnya bermarkas di garasi rumahnya. Sekilas perjuangan yang dihadapi Bill Gates menuju kesuksesan cukup sulit karena dia mendirikan perusahaan dari nol.

Namun faktanya, dia memanfaatkan dana pemberian ayahnya yang merupakan seorang pengacara dan ibunya yang merupakan pimpinan dari sebuah perusahaan bank di Amerika Serikat.

Jadi apa yang dimiliki oleh Bill Gates bukanlah didirikan dari nol dan dia memanfaatkan privilese orang tuanya untuk mengembangkan usahanya hingga sukses.

Hal ini juga menunjukkan bahwa privilese bagi yang mampu adalah suatu kenyataan yang tidak terbantahkan. Privilese dapat membuat orang mampu lebih mudah dalam meraih apa yang mereka inginkan dibandingkan dengan yang tidak memilikinya.

Sukses Tanpa Privilese

Meski orang sukses kebanyakan berasal dari lingkungan berada dan memiliki keistimewaan sosial, ada yang mampu meraih kesuksesan tanpa memiliki latar belakang keluarga mampu dan elit.

Sekilas peluang orang yang tidak memiliki privilese kecil, tetapi beberapa orang sudah membuktikan bahwa impian dapat tercapai meski berasal dari keluarga kurang berada. Untuk mendapatkan impian tersebut, diperlukan perjuangan yang tak mudah.

Perjuangan tak mudah tersebut dialami oleh salah satu pengusaha sukses, Chairul Tanjung. Chairul Tanjung lahir dari keluarga sederhana yang tinggal di losmen sempit. Dikarenakan ayahnya kehilangan pekerjaannya, Chairul ingin menaikkan derajat dirinya dan keluarganya dengan cara berbisnis.

Dengan ketekunannya, ia mampu mendirikan konglomerasi yang menghasilkan miliaran rupiah dan menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Ia melakukan bisnisnya tanpa campur tangan orang tuanya dan mampu mengembangkan usaha dengan tenaga dan pikirannya sendiri.

Dengan melihat kisah di atas, orang tidak berada dan memiliki privilese pun juga bisa dan berhak untuk sukses. Orang kurang mampu memiliki usaha yang tidak mudah dan mengorbankan banyak hal agar mereka mampu menaikkan kelasnya.

Faktor di Luar Privilese

Baik yang memiliki privilese maupun yang tidak, semua orang memiliki perjuangannya masing-masing. Dari dua kisah orang sukses di atas, mereka sama-sama memiliki pengaruh lingkungan dan keluarga yang besar agar mereka dapat meraih impian dan juga mempertahankan kesuksesannya

Lingkungan dan keluarga akan mengarahkan seseorang dalam meraih impiannya. Juga, dua hal tersebut memiliki andil yang besar dalam merancang rencana masa depannya.

Hal ini diperkuat dengan survei SMERU Institute di Jakarta dan Makassar pada 2015 yang melibatkan anak yang tinggal di pemukiman miskin.

Hasil survei menyatakan bahwa lingkungan di sekitar anak tersebut menjadi penyebab terbesar mengapa anak dari orang miskin cenderung miskin di masa dewasanya.

Lingkungan miskin cenderung membuat anak untuk “melestarikan” budaya kemiskinan yang ada di sekitarnya. Budaya miskin inilah yang memicu orang tua menjadi otoriter.

Juga, di survei ini dijelaskan, orang tua kurang mampu cenderung otoriter dan ingin melestarikan budaya miskin yang membuat minat dan bakat anak tidak berkembang.

Jika pola pikir orang tua mendukung minat dan bakat anak dengan baik, walaupun dengan segala keterbatasan harta, anak dapat meraih kesuksesannya dan peluang untuk meraih impian akan meningkat.

Melihat fakta di atas, lingkungan dan keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam merancang impian seseorang dan mewujudkannya. 

Jika lingkungan tidak mendukung mereka dalam meraih impian, maka orang yang tidak memiliki privilese akan kehilangan impiannya. Sebaliknya, orang memiliki privilese yang memiliki lingkungan dan keluarga yang mendukung dapat mewujudkan impiannya dengan lebih mudah.

Jadi, orang yang memiliki privilese memiliki kans besar untuk sukses karena mereka memiliki fasilitas yang memadai. Mereka memanfaatkan jaringan yang luas dan dukungan keluarga dengan baik.

Namun, bukan berarti orang tidak punya privilese itu tidak bisa menjadi sukses. Orang tidak mampu pun juga dapat bersaing dengan yang lainnya. Mereka dapat memaksimalkan potensi dan kemampuan yang telah ada.

Juga, mereka dapat berjuang dengan memperluas jaringan dan mencari lingkar sosial yang mendukung agar mereka dapat belajar langsung dari orang lain tentang jalan menuju kesuksesan.

Untuk orang tua, mereka harus mendukung apa yang diinginkan anaknya selama itu baik dan tidak otoriter terhadap anak. Ini dilakukan dengan melakukan komunikasi dengan anak tentang minat dan bakat anak serta mendukung anak dalam mengembangkan talentanya.

Dengan melakukan hal tersebut, bukan tidak mungkin, orang kurang mampu dapat memiliki potensi besar dalam meraih impiannya dan mencapai apa yang orang sukses lainnya dapatkan.