Memasuki bulan April pasti identik dengan hari Kartini yang bertepatan dengan tanggal 21 April. Pada hari Kartini banyak sekali perayaan yang diadakan di Indonesia, mulai dari di sekolah-sekolah yang mewajibkan siswanya menggunakan pakaian adat, hingga adanya berbagai perlombaan dengan tema Kartini atau tema perempuan.

Tapi tahukah kamu, bahwa ada hari yang menarik di tanggal 22 April dan pernahkah kamu merayakan hari itu seperti kamu merayakan hari Kartini?

Mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa 22 April selalu diperingati sebagai hari Bumi. Sebelum membahas lebih lanjut, yuk kita simak bagaimana awal mula hari Bumi dan kenapa sih hari Bumi dirayakan di tanggal 22 April?

Dilansir dari laman earthday, sekitar tahun 1960an  sampai 1970an, kondisi lingkungan Amerika Serikat sangat buruk, pada saat itu masyarakat Amerika belum memiliki kesadaran akan lingkungan. 

Kesadaran masyarakat mulai terbentuk ketika buku berjudul Silent Spring karya Rachel Carson yang menyoroti tentang lingkungan diterbitkan pada tahun 1962.

Pada tahun 1969, seorang Senator Gaylord Nalson  memimpin gerakan lingkungan modern, pada saat itu masyarakat Amerika masih belum mengenal istilah daur ulang. Gerakan ini terinspirasi dari gerakan mahasiswa anti-perang.

Hari Bumi pertama kali dirayakan pada 22 April 1970 sebagai bentuk unjuk rasa para mahasiswa untuk menyadarkan masyarakat Amerika Serikat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan dampak polusi udara dan air bagi kesehatan.

Tanggal 22 April dipilih untuk melakukan unjuk rasa karena merupakan hari kerja yang jatuh antara liburan musim semi dan ujian akhir, hal ini bertujuan untuk memaksimalkan partisipasi mahasiswa, dan aksi tersebut berhasil dilakukan serta berjalan lancar. 

Sejak saat itu, setiap tanggal 22 April selalu diperingati sebagai hari Bumi. Pada tahun 1990 hari Bumi mulai dirayakan di seluruh dunia.

Bumi tempat kita tinggal sudah sangat “sakit” dengan banyaknya permasalahan lingkungan yang terjadi. Kita perlu berterima kasih kepada pandemi, karena kondisi pandemi ternyata membawa dampak baik bagi bumi. Sebelum membahas apa saja dampak baik itu, mari kita mundur sedikit, melihat kondisi bumi sebelum kedatangan pandemi.

Banyak permasalahan-permasalahan lingkungan yang sudah sering kita dengar dan sudah banyak pula gerakan-gerakan untuk mengajak masyarakat menjaga lingkungan, hal ini dikarenakan kondisi lingkungan yang memburuk, mulai dari polusi dimana-mana, udara yang kotor, sungai yang tercemar, hingga menyebabkan pemanasan global.

Bisa dibilang bahwa polusi dan permasalahan lingkungan adalah “pandemi” bagi bumi.

Tapi apakah semua gerakan yang dilakukan itu sudah cukup untuk menyembuhkan bumi? Semua upaya telah dilakukan untuk menjaga lingkungan, tapi pada akhirnya hal itu belum mampu membuat bumi bernapas dengan lega.

Akhir tahun 2019, seluruh dunia dihebohkan dengan adanya virus menular bernama Covid-19. Virus ini menyebar dengan sangat cepat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak aturan-aturan baru ditetapkan, mulai dari pembatasan hingga karantina total.

Apa akibatnya? Orang-orang harus mulai melakukan semua hal dari rumah dan dilarang untuk bepergian, hal ini berdampak pada jumlah kendaraan di jalanan yang mulai berkurang. Pandemi juga menyebabkan ditutupanya sejumlah tempat wisata alam, salah satunya adalah pantai. Tapi sadar atau tidak, hal-hal tersebutlah yang memang dibutuhkan bumi sebagai “obat”.

Dengan berkurangnya aktivitas manusia di luar rumah yang diikuti dengan berkurangnya jumlah kendaraan di jalanan, maka semakin sedikit asap dan gas karbon yang ditimbulkan.

Dilansir dari laman bbc.com, Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) mencatat bahwa pada saat pandemi, emisi CO2 mengalami penurunan hingga 17% dan di Indonesia juga mengalami penurunan emisi maksimum mencapai 18,2%.

Ditutupnya tempat wisata seperti pantai juga memberikan dampak baik bagi biota laut, karena dengan sedikitnya wisatawan yang datang, maka akan mengurangi kebisingan yang menyebabkan ikan-ikan di laut mengalami stress.

Indonesia sebagai Negara Agraris, di mana sebagian besar masyarakatnya bekerja di sektor pertanian juga bisa merasakan dampak baik adanya pandemi. Masalah yang sering dihadapi para petani adalah kondisi gagal panen yang disebabkan oleh kemarau yang berkepanjangan.

Musim kemarau yang panjang bisa disebabkan karena tingginya suhu udara. Adanya pandemi menyebabkan jumlah kendaraan yang ada di jalanan berkurang, hal ini sejalan dengan berkurangnya jumlah gas karbon. 

Dengan berkurangnya jumlah gas karbon di udara, maka suhu udara akan menurun dan hal tersebut bisa membuat musim kemarau kembali berjalan normal.

Mari kita lihat lagi apa yang terjadi sekarang setelah beberapa saat bumi bisa bernapas. Saat ini, semua kebijakan mulai dilonggarkan, banyak aktivitas mulai kembali berjalan normal, kemacetan mulai dihadapi kota-kota besar.

Kita bisa melihat bahwa tak lama lagi kita akan kembali ke kondisi bumi yang penuh dengan polusi dan pencemaran. 

Hal terebut bisa terjadi karena membaiknya kondisi bumi yang hanya sesaat tidak diikuti dengan upaya untuk menjaga bumi agar tetap sehat, semua elemen mulai dari pemerintah hingga masyarakat masih berfokus kepada penanganan pandemi.

Tentu kita tidak mau kan tinggal di tempat yang penuh dengan polusi dan pencemaran?

Dalam rangka merayakan hari Bumi, mari kita bersama-sama lebih meningkatkan kesadaran diri sendiri dan meningkatkan kesadaran orang lain akan pentingnya tinggal di lingkungan yang bersih dan nyaman. Namun, hal ini bukan berarti kita hanya menjaga lingkungan pada saat tanggal 22 April.

Menjaga lingkungan perlu dilakukan dimana saja dan kapan saja, dan pada saat momentum hari Bumi tanggal 22 April, bisa menjadi sebuah ajang apresiasi atas usaha kita dalam menjaga lingkungan.

Sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk saling bahu membahu menjaga lingkungan tempat kita tinggal, adanya pandemi ini bisa menjadi sebuah isyarat bahwa kita sebagai manusia hendaknya memberikan waktu untuk bumi agar memulihkan diri. 

Apakah harus ada pandemi-pandemi lain yang harus turun tangan untuk memulihkan bumi? Pandemi Covid-19 mungkin sebuah virus mematikan bagi manusia, tapi pandemi ini adalah sebuah obat yang menyembuhkan bumi kita.