Malam sabtu itu, jadwal pengajian rutin Jam’iyah kami di kampung. Pengajian ini dilaksanakan setiap dua minggu sekali. Waktu itu bertempat di kediaman Ustadz Zainudin. Tumben, pengajian ini berjalan dengan tertib dan khyusuk, padahal biasanya para teman-teman kalo gak sibuk berdiskusi bersama teman di sampingnya, pasti sibuk dengan handphone masing-masing.

Seperti biasa, sebelum kajian kitab klasik dimulai, kami bersama-sama membuka pengajian tersebut dengan membaca yasin dan tahlil. Sambil mengikuti membaca, saya pun sempat-sempatnya memperhatikan teman-teman, ada yang benar-benar khusyuk membaca, karena hafal ia tidak perlu lagi melihat teks, ada yang membaca melalui gadgetnya, biasa menggunakan aplikasi Al-Qur’an digital, namun ada juga yang hanya komat-kamit membaca hafalan yang ia tahu, karena memang diketahui ia tidak bisa mengaji Al-Qur'an.

Setelah selesai, Ustadz Syafi’i memulai kajian kitabnya. Pada malam tersebut beliaulah yang bertugas untuk menyampaikan kajian dalam pengajian kami. Dalam ceramahnya, agar ke khusyukan pengajian itu tidak terasa membosankan, beliau mencoba menambahkan dengan cerita-cerita menarik.

Beliau bercerita, bahwa zaman dahulu kala, ada seorang pemabuk yang sedang melakukan ritual rutinnya yaitu mabuk, berjalan pada suatu malam menuju ke rumah kawannya. Malam yang tak begitu gelap, diterangi sinar rembulan yang terlihat sempurna. Dengan langkah yang zig-zag sempoyongan, di tengah perjalanan, pemabuk tersebut singgah di tepi sumur dan menengok ke dasar sumur itu. Ia melihat bulan tenggelam di dasar sumur tersebut.

Meskipun langkah perjalanannya tak sempurna, karena pandangan mata pada sesuatu di depannya menjadi ganda bahkan lebih, ia pun sampai di rumah kawannya. Dengan tanpa basa basi, ia dengan semangat menceritakan kejadian di perjalanannya tadi.

“Aku tadi melihat bulan tenggelam di sumur.” Ungkapnya dengan wajah yang serius.

“Terus...terus?” Tanya kawannya, sambil tersenyum geli melihat wajah pemabuk itu memerah.

“Aku bergegas mengambil timba besar, ku masukan timba ke dalam sumur untuk meraih bulan itu dan kutarik dengan sekuat tenaga, sehingga terpental timbanya ke atas, dan kulihat bulan itu bergelantungan di langit.”

Waw. Sambil tertawa, kawannya berujar dengan canda, “Hebat sekali kau”. Seraya melanjutkan sejuta pingkalnya.

“Iya, untung saja ada aku, kalau tidak, bulan itu masih tenggelam di dalam sumur itu”. Semakin bangga saja, tanpa ia sadari, kawannya telah menertawakan dirinya.

Masih khusyuk. Dengan seksama teman-teman mendengarkan cerita yang tidak membosankan itu, kesan lucunya membuat mata-mata malam itu tidak mengantuk. Sambil menunggu, apakah cerita itu masih berlanjut atau sudah selesai dan dijelaskan maksud dari cerita tersebut.

Akhirnya, tanpa menjelaskan apa makna dari kisah yang disampaikannya, Ustadz Syafi’i pun dengan tanpa merasa bersalah menyudahi ceramahnya. Semua jamaah mempertontonkan ekspresi wajah yang kebingungan. Khusnudzon saya, beliau seakan bermain teka-teki, memerintahkan kita untuk berpikir untuk mempelajari, apa maksud dari cerita yang disampaikannya. Ah, sudahlah. Saya biarkan saja kebingungan itu lenyap dengan sendirinya, sampai pengajiannya bubar.

***

Sedang ramai-ramainya masyarakat membahas friendly match  permainan catur antara Dadang Subur alias Dewa Kipas melawan Grand Master Woman (GMW) Irene Kharisma Sukandar di studio Poscast Deddy Corbuzier. Pertandingan dimenangkan oleh Irene dengan skor 3-0. Dengan viralnya, pertandingan yang disiarkan secara live online itu memecahkan rekor dunia, dengan disaksikan lebih dari satu juta penonton.

Awalnya, pertandingan tersebut ditenggerai oleh kasus Ghotam Chess yang melaporkan ke Chess.com untuk memblokir akun @Dewa_Kipas, yang menjadi lawannya dalam permainan catur secara online. Ghotam Chess menganggap Dewa Kipas telah bermain curang dengan menggunakan bot alias program catur otomatis.

Ali Akbar, anak dari Dadang Subur yang mengetahui permasalahan ayahnya, lalu memposting di akun facebooknya, Ali tidak terima akun bapaknya diblokir oleh Chess.com. Ali menganggap, ayahnya dengan cara sportif telah menang atas Ghotam Chess. Selain itu, ayahnya pemain catur yang pernah memenangkan turnamen di Kota Singkawang tahun 2005. Namun karena sudah tua, ayahnya pensiun dan sekarang bermain catur secara online.

Sontak, para netizen Indonesia yang melihat permasalahan ini, dengan semangat nasionalismenya menyerang dengan ramai akun dari Ghotam Chess. Saya pun yang mengetahui hal tersebut ikut mendukung Dewa Kipas, karena dalam hal ini saya anggap, Ghotam Chess tidak mengakui kekalahannya dan menuduh seorang bapak berumur 60 tahun berlaku curang.

Lebih dari pada itu, yang saya ketahui permainan catur adalah permainan sederhana saja, yang semua orang pun bisa menguasainya. Lebih-lebih dalam kasus itu adalah pertandingan yang sama-sama ahli dalam bermain catur. Yah, apalagi kan itu pertandingan pasti ada menang ada kalah. Sederhana saja!

Permasalahan yang dianggap sensitif ini, mengundang perhatian para pecatur-pecatur nasional. Salah satunya adalah Irene. Dalam sebuah wawancara dengan Deddy Corbuzier, Irene berkesimpulan bahwa sesuai data Dewa Kipas 95% berbohong. Lebih lanjutnya lagi, ia menjelaskan bahwa catur itu adalah ilmu, untuk dirinya menjadi Grand Master Dunia saja perlu waktu 9 tahun. "Jika grafik permainan Dewa Kipas itu benar, maka ia akan jadi juara dunia mas!" Tegas Irene dalam wawancara tersebut.

Akhirnya, belajar dari kasus ini, saya mengambil kesimpulan bahwa, catur bukan permainan biasa yang secara mudah bisa dikuasai secara maksimal. Tetapi, catur adalah ilmu mengasah otak yang sistematis dengan strategi-strategi khusus, membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan dengan konsisten menaikan level lawan bertanding untuk bisa mencapai kelas Pecatur Internasional. maka, di sinilah kita perlu kembali memahami betapa pentingnya merasa, bukan sekedar merasa bisa.