Saat asyik berselancar didunia maya mencari informasi, jari-jemari menuntun pada link Qureta. Ternyata, ada pengumuman lomba menulis essai bekerjasama dengan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas. Saya baru membacanya malam hari, 9 Januari 2018 sedang deadline keesokan harinya. Tema besarnya mengangkat ‘Cerita Tentang Kertas’. Lalu, tersaji beberapa pilihan topik. Sebagai seorang masyarakat biasa dan bukan penulis profesional tak banyak pilihan tersisa.

Blank, kosong ide, semua terasa berat alias tidak sesuai disiplin keilmuan. Jika, mau gampang tinggal gunakan jurus Control+V (Copy Paste). Tapi, semua bisa begitu dan plagiat adalah salah satu perbuatan yang merusak dunia kepenulisan. So, kenapa tidak melirik sub tema ‘Fungsi Kertas Dalam Kehidupan Sehari-hari’. Bila dipikir-pikir, selain makan, minum dan pakaian. Kertas adalah kebutuhan yang teramat penting.

Berangkat dari latar belakang tersebut, hanya ingin bercerita ‘Tak Bisa Hidup Tanpa Kertas’. Saya pun, iseng sekaligus survei kecil-kecilan. Mengumpulkan barang/benda dirumah yang berbahan Kertas. Hasilnya, terkumpulah Kardus TV, Kotak Obat, Koran, Slip Transfer, Kartu Listrik, Tisu, bahkan sampai ke Uang.

Belum puas, saya membuka lemari didapatilah Buku, Kartu Keluarga, Buku Nikah, serta dokumen dan arsip penting lainnya semuanya berbahan Kertas. Tak terbayangkan, bilamana Kertas menghilang dari peredaran. Mungkinkah hidup tanpa kertas ?

Bukan kapasitas saya membantah teori pakar informasi asal Inggris, pada 1978 Frederick Wilfrid Lancester memaparkan teori paperless society. Katanya, akan tiba zaman nir-kertas. Dan kini kita lihat, ramalan itu tidak terbukti 100 persen.

Satu catatan penting, tidak dipungkiri dan memang benar adanya pergeseran arus informasi semula media utamanya adalah Cetak (berbahan Kertas) kini bergeser. Saya pernah membaca tulisan Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, dan CEO Jawa Pos Group. Koran itu mati bukan karena bahan dasar (Kertas, red) habis. Melainkan, kemajuan teknologi kehadiran Radio, Televisi, dan kini Smartphone + internet.

Zaman now, informasi bisa diakses dalam hitungan detik. Walaupun, banyak perusahaan penerbitan yang gulung tikar. Perlu diingat bukan kertas lah penyebabnya, bisa jadi managerial yang buruk dan ketidakmampuan dalam bersaing. Nyatanya Koran Kompas tetap terbit, Pikiran Rakyat di Bandung tetap eksis. Sampai hari ini pun, 2018 bahan dasar utama koran adalah Kertas.

Kertas dan Teknologi, barang siapa tidak bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi akan terlindas/tenggelam. Sebaliknya, bagi orang yang pandai dalam memanfaatkannya justru menuai keuntungan/manfaat. Kita tidak bisa menolak perkembangan zaman. Lihatlah, produk olahan berbahan Kertas makin menjamur sebagai pembungkus dan pembersih. Tanpa kecanggihan mesin, mana mungkin dapat melakukan produksi secara besar-besaran.

Kertas Sebagai Pembungkus, ada yang tahu kenapa kertas menjadi media pembungkus favorit. Pertama, dari sisi masa lebih ringan. Kedua, mudah dibawa/diangkat. Dan pastinya sebagai pembungkus peran utamanya ialah melindungi/menutup. Kertas dapat dikombinasikan bersamaan plastik, busa dan lain-lain.

Kertas sebagai pembersih, tisu misalnya merupakan produk yang dihasilkan dari inovasi olahan kertas. Tidak hanya mudah digunakan, memberikan rasa kenyamanan dalam hidup (menjaga kebersihan) dan ramah lingkungan.

Setiap hal didunia ini selalu ada sisi positif dan negatifnya. Nah, berbicara masalah kertas kita tidak bisa menutup sebelah mata. Berdasarkan pengamatan pribadi dalam keseharian, kertas bekas menjadi sampah rumah tangga, maupun sampah dilingkungan masyarakat. Selain itu, penggunaan Kertas dianggap merusak lingkungan. Penyebabnya, penebangan pohon tanpa memikirkan kelestarian sumber daya hayati (hutan).

Coba cari saja lewat internet, melalui kementerian industri atau situs media online. Maka, akan didapatilah berbagai macam dampak negatif yang ditimbulkan oleh kehadiran Industri Pulp dan Paper. Tidak banyak perusahaan yang mau memikirkan hal tersebut.

Mengutip data Kementerian Perindustrian Indonesia, tahun 2020 kebutuhan kertas dunia diperkirakan mencapai 490 juta ton. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Panggah Susanto menambahkan, insdustri pulp dan kertas memiliki potensi untuk berkembang dan memiliki daya saing tinggi. Alasannya, beberapa negara pengekspor sudah tidak memiliki lagi ruang (kehabisan lahan,red).

Sedang kita tahu, di Indonesia tanah dan hutan masih luas. Lalu, apa boleh kita tebang secara membabi buta. jika dilakukan demikian, alamat suatu saat Indonesia mengulangi kesalahan yang sama dilakukan oleh negara lain. Untunglah hal tersebut disadari betul oleh APP Sinar Mas, berdasarkan pres relase dilaman website. Pihak perusahaan mengakui sejak 2013 tidak lagi menggunakan pohon yang berasal dari Hutan alam Indonesia.

APP Sinar Mas dan anak perusahaannya, menanam dan memanen sendiri Pohon yang akan dijadikan olahan Kertas dan Pulp. Ini adalah bukti, jika masih ada perusahaan yang memikirkan keberlangsungan lingkungan. Disatu sisi memikirkan keuntungan, tapi tidak merusak ekositem alam.

Kertas membawa kesejahteraan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional. Industri Pulp dan Paper ditetapkan sebagai salah satu industri prioritas.

Sumbangsinya terhadap pertumbuhaan ekonomi negara, memberikan pemasukan devisa miliar-an dollar per tahun. Di 2015 saja 5,38 miliar dollar, angka ini diperkirakan terus meningkat setiap tahunnya. Sebab di Indonesia Industri Pulp dan Paper masih terbuka lebar untuk berkembang. Ratusan ribu pekerja secara langsung terserap. Sekitar 1,1 juta orang tenaga kerja secara tidak langsung ikut kecipratan rejeki.

Kertas setelah digunakan sebagai pembungkus dan pembersih, akan jadi sampah?. Bisa iya, bisa tidak. Tergantung, ditangan siapa dan bagaimana mindset manusia itu sendiri. Si A misalnya, sehabis membeli barang elektronik kotak pembungkusnya disimpan. Tanpa disadari dia telah melakukan Reduce (mengurangi) penyebaran sampah. Namun, Si B setiap koran yang dibacanya pagi hari langsung dibuang kekotak sampah esoknya. Padahal, bisa dikumpulkan dan dijual kembali ke pengepul. Atau bisa pula dibuat kerajinan seperti souvenir, tas, dan bahkan dapat di Daur Ulang.

Tapi jangan ditanya, bagaimana perilaku masyarakat Indonesia. Dari orang miskin sampai kalangan berada masih berstatus Jorok. Boro-boro mau memisahkan sampah organik non organik, membuang tisu toilet saja kedalam saluran pembuangan. Melempar tisu dari jendela mobil adalah pemandangan yang tidak asing lagi. Dikit-dikit membuang kertas kalau salah print, bukanya memanfaatkan sisi sebelahnya.

Diakhir essai ini, penulis mencoba memberikan pandangan. 1. Kehadiran Industri Pulp dan Paper, ditengah-tengah masyarakat haruslah memperhatikan kelestarian lingkungan. Boleh meraup untung, namun jangan sampai merugikan alam dan warga lokal.

2. Produk berbahan Kertas, setelah digunakan sebagai pembungkus dan pembersih akan menjadi sampah. Namun, alangkah bijaknya bagi kita semua untuk berusaha mengurangi dengan cara menyimpan Kotak pembungkus, mengarsipkan dokumen atau membuat klipingan. Menggunakan kembali kertas yang tidak terpakai. Terakhir yaitu membudayakan lagi daur ulang, selain memacu kreatifitas dapat pula menghasilkan pundi-pundi rupiah.

3. Kertas adalah Kebutuhan Hidup, tanpa kertas kenyamanan akan terganggu. Kertas membawa kesejahteraan bagi bangsa dan negara, masyarakat dan kita semua. Selama masih ada Hutan dan Pohon, diringi kemajuan teknologi. Percayalah ‘Cerita Tentang Kertas’ tidak akan ada habisnya. Saya yakin, produk olahan kertas terus berinovasi mengikuti perkembangaan zaman. Apalagi perusahaan Industri Pulp dan Paper semisal APP Sinar Mas tetap konsisten dengan Visi dan Misinya.  

Sebagai salam penutup, izinkan penulis bertanya : Siapa yang bisa hidup tanpa KERTAS ? Saya tidak, lalu bagaimana dengan Anda ?.