2 tahun lalu · 11844 view · 6 menit baca · Politik imam_besar.png

Tak Akan Ada yang Mampu Menghalangi FPI Menjadi Partai Besar!

Berbeda dengan opini banyak pihak yang cenderung meremehkan, mengecilkan dan menganggap enteng sepak terjang Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Shihab (selanjutnya dibaca HMRS) belakangan ini, saya justru menilai HMRS akan mampu "menjadi sesuatu" dalam kancah perpolitikan Indonesia kini dan di masa mendatang.

Yang saya maksud sesuatu di sini mengandung banyak kemungkinan. Pertama, bila FPI ingin bermetamorfosis menjadi sebuah partai politik, tangan dingin HMRS sangat potensial untuk menjadikannya sebuah partai yang penting.

Kedua, bila mendirikan partai dan berhasil menarik cukup suara pada Pemilu 2019 mendatang, HMRS sangat mungkin menjadi lawan tanding sepadan bagi Presiden Jokowi yang saat ini sedang dihantam dari berbagai penjuru mata angin.

Ketiga, kalaupun tidak tertarik mendirikan partai, HMRS pun tetap berpotensi menjadi sosok penentu (king maker) yang layak diperhitungkan pengaruhnya oleh para pemain politik manapun.

Hanya saja, dalam dunia perpolitikan, soal berapa suara aktual yang kita punya sangat menentukan kedudukan kita. Kemungkinan ketiga ini agak sulit diterima partai-partai dan para politisi bilamana HMRS belum mampu menerjemahkan popularitasnya saat ini ke dalam bentuk pencapaian elektoral.

Karena itu, mendirikan partai adalah sesuatu yang mutlak dan perlu. Bila HMRS ingin mewujudkan visi-misinya tentang NKRI Bersyariah secara kaafah alias menyeluruh, mau tidak mau dia harus melakukan itu.

HMRS tidak bisa terus-menerus menumpang atau menitipkan aspirasi dan visi-misinya kepada pihak lain jika tidak ingin titipan itu terkorupsi atau malah menyeleweng dari tujuan yang hendak dia capai.

Lantas apakah kira-kira HMRS mampu mendirikan dan membesarkan sebuah partai—taruhkah kita beri nama Partai Pembela Islam—yang sesuai dengan visinya tentang NKRI yang bersyariah?

Berbeda dengan opini banyak orang yang meragukannya, saya percaya itu sangat mungkin dengan berbagai alasan.

Pertama, semenjak sukses mengorganisir dan memobilisasi dua demonstrasi besar Aksi Bela Islam 411 dan Aksi Bela Islam 212, kita menyaksikan HMRS telah menjadi pusat dan magnet yang mampu menyatukan dan merekatkan berbagai lapisan elemen umat Islam.

Aktor-aktor politik Islam tradisional seperti Amien Rais, Din Syamsuddin, Hidayat Nur Wahid atau lainnya, mau tidak mau harus bermakmum belaka kepada HMRS.

Secara de facto, HMRS telah ditahbiskan alam untuk menjadi Imam Besar umat Islam dan berhasil pula menjadi episentrum perpolitikan Islam Indonesia yang tak dapat lagi dipandang sebelah mata.

Bahkan salah satu calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 3 yang kini sedang berkompetisi, Anies Baswedan, suka tidak suka harus sowan, “melakukan pertobatan” dan meminta restu Petamburan guna mendongkrak suaranya yang relatif tertinggal menurut berbagai survei.

Kedua, kesuksesan mengonsolidasi berbagai elemen umat Islam dari berbagai penjuru Nusantara dalam dua Aksi Bela Islam itu juga menunjukkan bahwa HMRS telah punya jaringan yang luas dan punya kemungkinan membesarkan sebuah partai politik Islam yang ideologis dan militan.

Lebih dari tujuh juta umat yang diklaim ikut serta dalam dua Aksi Bela Islam itu boleh jadi menunjukkan adanya gejala kerinduan akan sebuah partai pembela Islam yang murni dan konsekuen dalam memperjuangkan aspirasi-aspirasi Islam.

Sejauh ini, aspirasi Islam yang murni dan konsekuen itu tampak belum secara konsekuen dan militan diperjuangkan oleh aktor-aktor politik Islam yang telah ada.

Partai-partai Islam yang kini ada justru tampak mengalami moderasi dan larut dalam real politik Indonesia yang sangat rumit. Alih-alih mampu mengubah wajah dan lanskap perpolitikan Indonesia yang cenderung korup dan dinastik menuju perpolitikan yang Islami, merekalah yang justru diubah oleh real politik.

Pada ranah ini, munculnya semacam partai pembela Islam yang ultra-konservatif boleh jadi akan mampu menyediakan semacam wadah untuk menampung aspirasi sebagian masyarakat Islam Indonesia yang kian konservatif.

Kecenderungan ini mungkin saja dapat menggeser pamor partai-partai Islam tradisional yang telah ada. Preseden dari negara lain pun sebenarnya sudah ada.

Di Mesir, kaum Salafi yang baru pertama kali ikut pemilu, mampu meraih 20% dukungan rakyat Mesir dalam pemilu demokratis 2011--pasca lengsernya Presiden Husni Mubarak. Jika Mesir saja bisa, kenapa Indonesia tidak?

Ketiga, mau tidak mau, dunia perpartaian Indonesia masih sangat lekat dengan sosok dan figur tertentu. HMRS bagi saya dapat juga menjadi figur sentral penting dalam perpolitikan Islam di masa mendatang.

Kuatnya kharisma HMRS tidaklah kalah dibandingkan figur-figur seperti Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Soesilo Bambang Yudhoyono, apalagi Surya Paloh dan Wiranto. Bahkan dalam aspek kemampuan berorasi dan membius pendengarnya, HMRS tampak jauh lebih hebat dari semua sosok-sosok tersebut.

Partai-partai Islam seperti PKS, PAN dan PKB, malah tidak punya sosok figur sentral dan orator ulung seperti HMRS. Karena itu, bagi saya HMRS dapat menjadi sosok Sukarno dari kubu ideologi yang berseberangan.

Orasi-orasi dan pidatonya--terlepas dari aspek isinya dibandingkan dengan Sukarno--mampu menyampaikan pesan dengan jelas dan sederhana, serta berhasil pula menggerakkan pendukung fanatiknya untuk melakukan aksi.

Saya tak yakin sosok seperti Surya Paloh mampu menggerakkan pendukungnya untuk beraksi atas dasar ideologi yang dia injeksikan.

Keempat, jika setia menjadi pembela Islam dan pengusung aspirasi NKRI bersyariah, HMRS boleh jadi akan mendapat simpati lebih dibanding partai-partai Islam lainnya. Selama ini, partai-partai Islam yang sudah ada tampak segan dan malu-malu dalam mengeksplisitkan dasar-dasar perjuangan dan tujuan mereka yang hakiki.

Karena itu, bila konsisten mengusung panji-panji syariah dan nahi munkar, partai yang dibidani HMRS ini boleh jadi akan dipandang sebagai alternatif oleh umat Islam Indonesia untuk menyalurkan aspirasi mereka.

Kelima, dari aspek media, tampak pula bahwa Muslim Cyber Army yang saat ini dikomandoi oleh HMRS terbukti cukup tangguh dan efektif dalam mengimbangi pemberitaan media mainstream dalam menyampaikan pesan dan aksi-aksi mereka.

Bahkan konglomerat media seperti Harry Tanoe tampak ikhlas pula mengabdikan salah salah kanal tivinya (INews) untuk menyuarakan dan mendukung aksi-aksi HMRS. Beberapa media mainstream lainnya juga tampak berpihak pada umat Islam dan secara cuma-cuma rela membesarkan aspirasi HMRS.

Ini artinya, konglomerasi media bukanlah syarat yang mutlak untuk membesarkan sebuah partai. Terlebih lagi saat ini masyarakat sudah sangat terpapar oleh internet dan media sosial sehingga mereka akan mencari sendiri sumber-sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi meraka.

Kemampuan HMRS dalam memobilisasi massa juga dapat pula menggentarkan hati para pemilik media untuk cenderung berpihak kepada aspirasi HMRS.

Keenam, di tingkat dunia, demagogi dan populisme pun kini sedang mencuat dan sedang naik daun. Tidak kurang dari negara seperti Amerika pun kini tak segan memilih demagog dan sosok populis semacam Donald Trump sebagai pemimpin puncak mereka.

Ini belum lagi populisme di berbagai negara Eropa Barat yang akhir-akhir ini juga kian menguat seperti di Inggris, Belanda dan Jerman.

Jika masyarakat paling rasional seperti Amerika dan Eropa Barat saja dapat berpihak pada demagogi dan populisme, tidak ada alasan bagi masyarakat Indonesia untuk tidak mengarah pada kecenderungan serupa. Ini adalah peluang dan kesempatan yang mau tak mau akan direbut dan diisi oleh siapapun.

Semangat anti-Cina, anti-PKI, dan anti-anti lainnya, kalaupun tidak digaungkan HMRS, akan tetap diambil dan direbut oleh aktor-aktor politik Indonesia lainnya.

Berbekal sejumlah alasan di atas, saya tak melihat ada halangan bagi HMRS untuk menjadi sosok yang sentral dalam perpolitikan Indonesia sampai 2019.

Ketimbang kesempatan emas itu diambil dan direbut oleh sosok-sosok ingusan seperti Agus Yudhoyono yang istrinya masih enggan menutup rambutnya yang indah—umpamanya saja—mungkin lebih masuk akal bagi umat Islam Indonesia untuk memilih seorang habib yang keislamannya terjamin dan konsistensi dan staminanya terjaga dalam membela dan memperjuangkan aspirasi Islam.

Saya tak melihat ada halangan besar bagi HMRS untuk tampil menjadi Imam Besar umat Islam Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama.

NU dan Muhammadiyah—dua ormas Islam terbesar di Indonesia—atau partai-partai Islam yang sudah ada, pada hakikatnya sering cemen dan hanya besar di atas kertas saja. Mereka tak akan mampu menghalangi niat mulia membela Islam yang kini sedang dijalankan HMRS dan kawan-kawan.

Tak akan ada kekuatan manapun yang mampu menghalangi umat Islam untuk membela agama dan mengangkat imamnya. Bila Allah sudah berkehendak, tentu tak akan ada makar apapun yang mampu menandingi kelihaian makar-Nya.

Bukankah begitu, akhi dan ukhti?

Artikel Terkait