7 bulan lalu · 323 view · 3 min baca · Budaya 32223_34806.jpg
Photo by Wendy van Zyl from Pexels

Tak ada Penulis di Era Online, Kita Adalah Pengetik Tulen

Inspirasi tiba-tiba muncul dari kamar mandi, ketika enak-enaknya sikat gigi. Sehingga terpikirlah suatu keresahan yang benar-benar mengusik waktu mandiku. Oh, ternyata zaman sekarang memang tidak ada yang murni menjadi "penulis". 

Meskipun sudah berhasil mengarang ribuan cerita, esai, opini, tetap saja bukan penulis, tapi disebut sebagai pengarang. Lalu siapakah orang-orang yang selama ini mencurahkan ide lewat bacaan-bacaan di internet? Saya rasa, mereka adalah pengetik; dengan keyboard, bukan pena. Lewat share, bukan kartu pos.

Akhirnya saya sudahi mandiku, pakai baju, berwudhu dahulu, lalu kembali ke meja laptop; sekadar meresapi renungan tadi, merefleksi diri sendiri;

Saya membuka file document, melihat-lihat hasil karangan, dan ada pun seusai saya baca satu per satu, membuat saya bergumam dalam hati: "Ini ketikan, itu ketikan, di sini ketikan, di situ pula ketikan."

Lantas, banyak juga kawan-kawan yang ingin membaca karangan saya dari laptop. Terus terang mereka berkata, "Kamu jadi penulis aja, ngarang-ngarang buku. Toh tulisan kamu bagus-bagus." Oh, mereka memuji.


Saya pun berhipotesis, apa gerangan yang membuat kawan-kawan memuji? Apa karena karangan ini bertuliskan di laptop, huruf-hurufnya sejajar, ber-font tidak menclas-menclos supaya enak dibaca ataukah isi pesan dari karangan saya yang bagus-bagus?

Pernah saat di mana saya belum punya laptop, saya masih menulis cerita lewat pena. Tulisannya memang tidak serapi di laptop. Begitu melihat respons kawan-kawan, "Kok tulisan kayak ceker bebek?" mereka tertawa. 

Ya, padahal isi dari cerita tidak jauh beda dengan yang diketik di laptop; berarti yang dijuluki penulis itu berdasarkan bagus tidak bagusnya tulisan bukan dari pesannya yang tersirat. Sehingga saya merenung, alangkah indahnya bila tulisan saya seperti ketikan di laptop. 

Zaman pun berubah, orang-orang beralih kiblat bacaan dari tulisan tangan menuju ketikan. Yang biasa menulis diari, beralih pada blog-blog. Padahal sama saja, isinya cerita-cerita tentang dirinya saja. Tapi yang amat disayangkan, keterampilan menulis dengan pena kian tergerus dan menyerupai "ceker bebek".

Guru saya—sejak SD—pernah mengajar tulis-menulis, dan itu memberi efek keterampilan luar biasa sehingga masih berguna di praktik sehari-hari; menulis catatan kelas, teori di mata kuliah, bahkan kasbon utang. Ya, yang beda ialah dokter. Entah dari mana inspirasinya, tulisan dokter memang bermazhab sendiri dengan goresan tinta yang awut-awutan; yang tak harus ditafsirkan secara menelaah.

Tulisan-tulisan itu berawal dari gerakan tangan, mengalun-alun, mengenai dinding kertas, timbullah coretan yang terciprat dari tinta, kembali menuai aksara yang dimengerti orang. Maka jadilah tulisan, otomatis dia yang melakukan disebut penulis.

Sementara huruf-huruf yang keluar setelah usai keyboard ditekan, lalu muncul huruf di layar sesuai apa yang kita tekan, ditekan lagi sampai berwujud kata, lalu kalimat, dan seterusnya. Semestinya, mereka itu disebut pengetik, bukanlah penulis-penulis yang sebagaimana lumrahnya. Lantas, dengan pede-nya banyak yang bercita-cita sebagai penulis.

Bayangkan kita menulis sampai beratus-ratus halaman. Kemungkinan tidak ada yang ingin jadi penulis. Semisal ada, paling kertas penuh dengan coretan, tidak rapi dengan bercak putih-putih tipe-x.

Kalau benar-benar ingin menulis (di layar komputer), sebutlah dengan spesifik, misalkan ia maestro menulis cerita pendek maka namanya cerpenis. Begitu pula novelis, esais, atau fabelis. Tidak harus mencantumkan kata "penulis". Sebut saja pengarang—bila secara umum memang sering merangkai cerpen atau karya sastra lainnya.


Ah, dasar penulis...

Aku pun sejatinya bukanlah penulis. Untuk menulis saja, malasnya luar biasa. Mungkin efek panjangnya liburan. 

Di era online, yang menyebut dirinya penulis, mungkin dia terlalu mendedikasikan dirinya pada tulisan. Padahal yang ia kerjakan selama ini hanya berwujud ketikan yang disusun lalu di-share di media blog atau semacamnya. 

Kalau ingin jadi penulis murni, tengoklah zaman-zaman Yunani kuno, masa-masa keislaman, atau Zaman Renaissance. Dari sana kita bisa merasakan bagaimana esensi murni dari tulis-menulis yang menjadi bahan persaingan antarbangsa dan harga diri. 

Oleh karena jasanya, banyak pula karya-karya beliau yang sampai di pembaca milenial. Dan tahukah Anda, mereka menulis dengan jemarinya sendiri, dengan tinta celup manual! Hanya saja, di era online seperti ini, tulisan mulai diketik, dipublikasi, dan dijilid sebagaimana buku-buku beredar lainnya.

Meski KBBI menganggap kegiatan menulis sama halnya mengarang, tetap saja aku mengaku. Aku hanyalah pengarang yang andal mengetik, bukan yang andal menulis. Ya, sebab tulisanku jelek.

Salam dari ketik-mengetik.


Artikel Terkait