Selama ini, kita disesatkan dengan adagium sederhana : “Tak ada kawan abadi. Tak ada musuh abadi. Yang abadi hanyalah kepentingan.” Entah disengaja tidak tidak, adagium populis itu malah diaminkan dan dipraktekkan oleh para politisi di negeri ini.

Adagium di atas menunjukkan, seakan-akan dunia politik adalah dunia yang buas, tidak beradab, steril dari budaya etis. Menjustifikasi bahwa segala kekotoran dan kerendahan sifat hewani anak manusia yang berkecimpung di dalamnya adalah sah-sah saja, dalam meraih kepentingan pribadi ataupun kelompok / golongannya. 

Hingga, tak heran, jika kemudian muncullah fenomena pecah koalisi pendukung, politisi kutu loncat, lompat pagar dan lainnya. Yang menunjukkan pergeseran kepentingan sehingga tidak bisa lagi seiring sejalan di dalam satu komando.

Alhasil, muncullah stereotype bahwa politik itu busuk. Dan pelakunya disebut sebagai politisi busuk. Semua hanya berorientasi kepada kepentingan dan kekuasaan semata.

Nyatanya, politik tidak selebar gedung parlemen saja. Dinamika politik tidaklah sesingkat pesta demokrasi dalam bentuk pemilihan umum semata. Kehidupan yang kita jalani saat ini semuanya tak lepas dari sebuah atau mungkin bisa pula banyak keputusan politik. Yang satu dan yang lainnya berkelindan-sengkarut.

Namun meski demikian, hingga saat ini, kita harus tetap bersyukur bahwa negara kita masih aman, damai dan tentram. Barang-barang kebutuhan tetap ada, walaupun mungkin ada kenaikan, sebagai imbas dari adanya inflasi. Tetap terjaga, hingga tidak sampai terjadi krisis besar-besaran seperti yang sekarang tengah terjadi di negeri kaya minyak, Venezuela.

Tapi kita juga tidak menutup mata atas kenyataan pahit yang menunjukkan, bahwa selingkuh antara – ah ya, jangan lupa sematkan kata “oknum” – oknum politisi dengan pengusaha hitam semakin nyata tersibak dengan kesigapan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dalam membongkarnya

Setidaknya, ini menujukkan kepada kita, bahwa pemerintah masih menjalankan tugas-tugas dan amanahnya dalam rel yang benar. Dalam rangka menjaga stabilitas keamanan, ekonomi dan politik.

Jika ada gejolak ataupun gonjang-ganjing tak mengenakkan, itu semua adalah dinamika. Lha, wong di jalan raya, setertib apapun tetap saja berpotensi ribut antar sesama pengguna jalan. Apalagi ini urusan negara. Bisa pecah kepala seorang Presiden memikirkannya siang dan malam.

Kembali ke Khittah Politik - Mewujudkan Kebaikan Bersama

Sesuai dengan bahasanya, Politik itu berasal dari kata Polis (kota/negara). Dan beberapa kata turunannya, menisbatkan kepada kata kota atau negara. Seperti polites yang berarti warganegara, politeia (segala sesuatu yang berhubungan dengan negara), politika (pemerintahan negara), dan politikos (kewarganegaraan). 

Sehingga dapatlah dibuat kesimpulan sederhana, bahwa politik merupakan kumpulan kata kerja yang mejemuk untuk menyebut suatu sistem dengan subjek dan objek yang kompleks dalam urusan sistem politik. 

Kita harus memurnikan kembali posisi politik ini dengan mengingat pesan klasik Aristoteles, bahwa Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non-konstitusional. Selain itu, tujuan mulia dari politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa Politik adalah seni dan sekaligus ilmu. Keindahan dan keteraturan. Sebagai seni, politik memberikan ruang yang fleksibel untuk berlaku lincah. Sebagai ilmu, politik juga menawarkan perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Jadi, mulai sekarang jangan apatis dengan politik. Karena sejak dari sanalah, segala kepentingan dan hajat hidup orang banyak ditentukan.

Penulis sendiri mulai bersinggungan dengan para praktisi politik ini semasa berstatus mahasiswa dahulu. Dan semakin intens bergaul, selepas kuliah dengan beberapa aktivis kampus yang bermetamorfosa menjadi aktivis kepartaian.

Tak dipungkiri, bahwa perilaku para politisi menggambarkan ‘keruhnya’ teladan yang bisa diberikan oleh kalangan terhormat ini. 

Namun demikian, kedekatan dengan teman-teman pergerakan yang kini aktif di dalam parlemen tersebut memberikan sedikit pencerahan kepada penulis. Bahwa, kita – orang muda, jangan buta politik.  

Karena, menurut Bertolt Brecht sang penyair berkebangsaan Jerman, “Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dll semua tergantung pada keputusan politik”.

Sangat menarik pernyataan di atas. Setiap kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak – mulai dari impor pangan, harga sembako hingga tarif listrik dan kenaikan BBM dipengaruhi oleh keputusan politik. 
Jika kita tidak peduli dan sengaja mengambil sikap apatis, maka itu berarti kita membiarkan diri menjadi teraniaya dengan sendirinya.

Berpartisipasi bukan sekedar menjatuhkan pilihan saat berada di bilik suara saja. Partisispasi lebih jauh adalah dengan belajar tentang kondisi politik riil, lalu menyampaikannya kepada orang awam sebagai bentuk edukasi. Sehingga 'buta politik' dapat diberantas selayaknya 'buta aksara' sehingga mempercepat tercapainya tujuan kebaikan bersama.

Apapun perubahan sikap yang dipengaruhi oleh pengetahuan kita terhadap politik tersebut, adalah lebih baik daripada ikut-ikutan memilih dengan alasan di luar kesadaran. Hanya karena kegantengan, kedekatan marga ataupun tergoda oleh polesan manis tim marketing sang calon.

Bahkan tidak memilih pun adalah hak kita sebagai pemilih, jika memang dalam suatu masa, kita tidak menemukan alasan untuk memilih seorang calon. Atau, kita tidak mampu melihat kadar kemudharatan paling rendah sekalipun di antara pilihan yang ada.

Namun semua tersebut akan dicela sebagai aib, jika pilihan untuk tidak memilih dilakukan, hanya karena sikap generalitas akut yang menyamakan semua calon, semua partai politik sebagai sebuah entitas yang busuk.

Ingat, kita tidak ingin selamanya menjadi floating mass yang hanya diperebutkan setiap lima tahun sekali saja. Atau menjadi pion-pion akar rumput yang beradu dan rela diadu di ruang lini massa media sosial, tanpa sedikitpun memiliki pengetahuan yang memadai untuk mempertanggungjawabkannya secara cerdas. Memilih atau tidak memilih kita wajib memiliki alasan yang logis.

Bukan begitu? #lombaesaipolitik