Tadi malam saya ngopi dengan sahabat yang kebetulan menjadi fans berat Manchester United. Saya membuka obrolan dengan mengungkit hasil seri MU kala menjamu Arsenal pekan lalu. Dengan santai, sahabat saya menjawab, “Selama masih ada Mourinho, saya cuti dulu mendukung MU.”

Mendengan jawaban itu, saya pun tercengang. Ternyata, istilah cuti yang selama ini hanya dikenal di dunia kerja, juga dapat berlaku dalam urusan cinta, termasuk cinta pada klub sepak bola.

Benarkah ada cuti dalam mencintai? Saya pribadi meyakini bahwa pada hakikatnya tak boleh ada cuti dalam mencintai. Mencintai mesti menjadi aktifitas yang abadi. Tak boleh ada kata cuti, yang perlu adalah bagaimana rasa cinta itu terus selalu terbarui. Memperbarui cinta hanya dapat dilakukan apabila rasa yang ada sudah menyatu dengan jiwa.

Bagaimana dengan mencintai klub sepak bola? Apakah dapat mengenal istilah cuti? Saya rasa, dalam hal apa pun, tak boleh ada kata istirahat dalam masalah cinta, termasuk dalam sepak bola. Mencintai klub kesayangan memang perlu pengorbanan dan perjuangan yang melelahkan. Pengorbanan yang dimaksud bukan hanya soal waktu saja, melainkan memberikan sesuatu yang berkualitas, utamanya dalam hal rasa.

Rasa Benci yang Mengurangi Rasa Cinta

Saya pernah mendengar seseorang berkata bahwa hakikat dari benci, adalah cinta yang ternodai. Mungkin, apa yang dirasakan sahabat saya di atas adalah ekspresi kebencian terhadap sosok Mourinho yang dianggapnya arogan. Dan, di matanya, Mourinho bukan the special one.

Tentu saja, mencintai atau membeci seseorang adalah hak siapa saja, termasuk sahabat saya itu. Namun, pilihan cuti mendukung klub kesayangan sebab di dalamnya terdapat sosok yang tak disenangi, merupakan pilihan tak wajar, meski harus saya hormati.

Jika hakikat benci adalah cinta yang ternodai, maka kebencian sahabat saya terhadap Mourinho juga berawal karena adanya cinta. Mungkin, awalnya sahabat saya mencintai Mou. Tapi saat Mou melatih Chelsea dan mampu menggusur dominasi MU, rasa cinta itu kemudian ternoda.

Akhirnya, rasa cinta yang awalnya sudah ada, kemudian berganti benci yang memenuhi hati. Dan, parahnya, rasa benci itu tak dapat berkurang meski sekarang, yang dibenci sudah melatih klub kesayangan.

Bagaimanapun, rasa benci dapat membuat seseorang berpikir tidak sehat. Jika sudah benci, benar pun dianggap salah. Berbuat baik selalu dicurigai sebagai pencitraan. Bahkan diam pun tetap saja disalahkan. Rasa benci yang hinggap dalam diri dapat menjadi selubung yang menutup hati dan pikiran untuk menghargai seseorang.

Rasa benci adalah penyakit yang mesti segera disembuhkan. Sebab, bila dibiarkan, rasa benci pada akhirnya akan menjadi dengki. Rasa benci dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa cinta. Rasa benci yang tak berkesudahan hanya akan menjebak seseorang pada situasi tidak nyaman.

Dengan demikian, tak ada alasan untuk memberi ruang sedikit pun pada rasa benci di hati kita. Sehingga, kalaupun tak suka pada seseorang, jangan sampai ketidaksukaan itu lahir dari rasa benci yang tak berkesudahan. Tak suka pada orang sebenarnya biasa saja. Sebab, dalam kehidupan ini, kita tak dapat dipaksan untuk suka pada semuanya.

Namun, yang penting, di balik ketidaksukaan itu jangan sampai terselip rasa benci di dalamnya, apalagi bila sampai meningkat menjadi dengki.

Akhirnya, dalam dunia sepak bola, cintai klubnya, bukan pemain atau pelatihnya. Jika klub yang dicintai, siapa pun yang datang dan pergi, rasa cinta tetap di hati. Ingat, pemain dan pelatih itu fana’, sedang klub, baqa’. Pemain dan pelatih boleh datang dan pergi, sedang klub, abadi.