“Aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?”

Seorang teman bertanya, “seandainya ada yang mengajukan proposal seperti itu kepadamu, apa kamu akhirnya akan menikah?”

Ditanya seperti itu saya tertegun beberapa saat. Bukan karena pertanyaannya menohok. Tetapi saya tengah memikirkan cara untuk meringkas jawaban atas perkara yang memancing tawa itu.

Pertama, saya ingin mengatakan bahwa dialog seperti itu biasa terjadi dalam film romantis saja. Dalam kehidupan nyata, orang bahkan sering lupa, atau tidak begitu peduli dengan ekspresi cinta yang demikian.

Menikah ya menikah saja. Urusan cinta mari kita tunda, atau mari kita simpan dalam bisu. Atau, mari kita berpura-pura. Sebab, apa itu cinta saja sesama pasangan bisa silang pendapat. Yang satu memaknai cinta seperti Erich Fromm misalnya, sementara satunya lagi menghayati cinta laiknya karakter dalam sinetron.

Erich Fromm memaknai cinta sebagai seni, yang karenanya harus dipelajari dan dibongkar maknanya. Sementara peniru karakter sinetron tak tahu menahu soal itu. Mereka hanya mengikuti apa yang disaksikannya di layar kaca. Jadinya, jika pecinta gaya Fromm dengan peniru sinetron ini disatukan dalam pembicaraan soal cinta, maka tidak akan pernah ketemu.

Karena itu, urusannya akan jadi ribet. Lebih baik dijawab dengan cepat: “i love you too,” saat satu di antara mereka mengucapkan kata itu lebih dulu.

Kedua, kalau memang ada yang melamar demikian, saya akan balik bertanya: “Sampai kapan kau bisa mencintaiku?”

Ini pertanyaan yang sangat realistis. Karena dia mengawali lamarannya dengan ungkapan: “Aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?”

Lalu bagaimana jika suatu saat cinta itu memudar, atau sama sekali menghilang? Apakah kita bercerai saja? Urusannya bakal jadi panjang. Karena soal-soal terkait perceraian memang dibikin ribet (seperti halnya perkawinan). Dan, ingat, manusia sendiri yang menciptakan kerumitan itu.

Pertanyaan di atas sangat realistis, karena saya percaya tidak ada cinta manusia yang abadi.

Begini, dikatakan tidak ada yang abadi karena cinta itu sendiri adalah rekayasa pikiran manusia. Artinya, bukan saja konsep cinta itu bikinan manusia, tetapi apa yang kita percayai sebagai perasaan cinta itu sendiri, menurut hasil kontemplasi saya, adalah sesuatu yang diciptakan oleh pikiran manusia yang bersangkutan.

Sebagian besar dari kita tentu pernah mengalami ini: Ketika berjumpa dengan sosok yang sangat memikat, sangat cocok dengan selera personal, maka saat itulah bergejolak pertimbangan-pertimbangan dalam kepala kita untuk mendekat pada orang tersebut.

Lalu kita mulai mencuri-curi perhatiannya. Lalu sampai pada tahap mengenalnya lebih jauh. Lalu, pada momen yang dianggap tepat, tibalah saat untuk mengungkapkan keinginan (yang kerap dipercayai sebagai “perasaan") dari/terhadapnya. Sukur jika diterima. Kalau ditolak, kita bicarakan lain kali.

Habis itu, ada-ada saja perilaku orang yang (percaya) tengah dikenai cinta ini. Beberapa dari mereka yang punya kecenderungan psikopat, ketika berada dalam situasi yang sering disebut sebagai “jatuh cinta” ini, bisa juga beralih profesi jadi stalker atau penguntit. Kemanapun orang tersebut pergi, akan dibuntutinya; apapun yang tengah disukai orang tersebut, akan masuk di daftar terfavorit kamus hidupnya.

Atau, ada juga yang kecenderungannya mirip-mirip “Drama Queen”, yang kalau terkena demam cinta bawaannya melankolis. Konyol, kadang-kadang.

Ada sih memang, yang karena kesurupan cinta jadi overdosis semangat. Tapi yang terakhir ini tidak banyak, saya kira.

Maksud saya, jika prosesnya seperti itu, maka apa yang kita sebut sebagai cinta tak lebih dari keinginan-keinginan terpendam yang tak mampu diungkap dan (apalagi) dicapai.  Karena sedari awal, kita mengorientasikan apa yang disebut perasaan cinta terhadap (kualitas) yang dikandung seseorang yang ingin dikenai perasaan tersebut. Lalu, cara mewujudkannya pun tak ubah sebentuk katarsis untuk harapan-harapan terpendam dalam jiwa kita.

Pasti akan muncul pertanyaan: Bagaimana dengan cinta sejati? Bukankah ia mewujud tanpa alasan dan tuntutan? Sebab itu lahir pandangan: Mencintailah karena cinta.

Kalau begitu, saya balik bertanya: Apa mungkin mencintai tanpa alasan?

Begini, cinta sejati sering diartikan sebagai cinta yang tulus. Cinta yang tak menuntut, yang tak beralasan. Makanya kemudian muncul defenisi cinta sejati sebagai: Mencintai karena cinta.

Karena dia tak beralasan, maka setiap perubahan yang terjadi pada orang yang dikenai cinta sejati itu, tidak akan pernah melunturkan rasa cinta yang kita miliki. Karena itu cintanya sejati, plus kemungkinan abadi.

Pertanyaannya, mungkinkah ada cinta yang seperti itu?

Sementara, tumbuhnya cinta sendiri tidak tiba-tiba. Saya yakin betul terhadap yang satu ini. Orang jatuh cinta, ya karena melihat unsur-unsur material dalam diri orang yang dikenai cintanya itu: fisik, skill, sikap. Atau karena sudah mengenal dan bersamanya begitu lama, hingga keintiman tersebut dimaknai sebagai cinta.

Maka, cinta pada akhirnya selalu mengandung alasan. Dan karena setiap unsur yang menjadikan sesuatu itu sebagai alasan akan sangat mungkin berubah—sebab pandangan manusia memang selalu berubah-ubah—maka cinta rentan tak bertahan selamanya.

Jadi cinta sejati menurut saya, jika ia dipahami sebagai cinta yang tanpa alasan dan karenanya bisa abadi, hampir tidak mungkin dalam kehidupan nyata. Apalagi jika melihat kompleksitas manusia dengan berbagai keinginannya yang tidak statis.

Cinta kemungkinan bisa abadi jika ia tak pernah terpuaskan. Jika ia tak pernah diwujudkan dalam bentuk tindakan yang memuaskan. Bisa saja abadi. Itulah mengapa Romeo dan Juliet cintanya abadi, sebab keduanya tak pernah berhasil dipersatukan. Tapi tetap, cinta mereka bukan tanpa alasan.

Lalu, konsep mencintai karena cinta itu di telinga saya kok malah terdengar lucu, ya?

Bagaimana mencintai karena cinta menjadi definisi dari cinta sejati nan abadi? Sementara cinta dan segala perangkatnya sendiri adalah sesuatu yang lahir dari pikiran manusia. Ia berasal dari kehendak pribadi, yang akhirnya berhasil/tidak berhasil diwujudkan dalam bentuk tindakan. Dan semuanya berakar dari pikiran manusia itu sendiri.

Mencintai karena cinta maka bisa diartikan: mencintai atas dasar sesuatu yang kita pandang sebagai “cinta”. Kalau begitu jadinya, maka mencintai karena cinta berarti: mencintai diri sendiri.

Maka balik lagi pada pertanyaan teman saya di atas, bagaimana jika ada yang melamar saya dengan mengatakan: “Aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?”

Jawaban saya selanjutnya: “Jika kau tak siap bercerai, maka menikahlah dengan diri sendiri. Karena hanya dirimu yang tak akan pernah berhenti kau cintai.”