Adakah yang lebih romantik dari berbicara tentang cinta? Lantas, apa itu cinta? Apakah kebenaran lebih romantik daripada cinta? Itu adalah beberapa pertanyaan khas para filsuf zaman dahulu, yang terus berulang sampai saat ini.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebetulnya menunjukkan adanya usaha dari manusia untuk memahami diri dan dunia di luar dirinya. Tak heran, cinta menjadi tema abadi dalam peradaban manusia. Cinta lalu menjadi inspirasi bagi lahirnya beragam puisi, buku, lagu, maupun film.

Kita semua tentu pernah merasakan jatuh cinta. Saat cinta hadir, hati serasa berbunga, hari pun seakan lebih cerah. Namun, tak jarang cinta justru berakhir pada duka. Hati yang berbunga tiba-tiba layu diganti rasa kecewa. Sebagian orang lalu melanjutkan hidup tanpa harapan. Tak sedikit, yang akhirnya memilih kematian sebagai solusi. Tapi apa itu cinta sehingga begitu penting? 

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyadari bahwa manusia adalah makluk simbolik. Artinya, segala hal yang dilakukan manusia selalu berkenaan dengan simbol-simbol yang mengitarinya. 

Manusia pada awalnya terlahir sebagai daging, tapi setelah itu, ia tumbuh dalam suatu tatanan simbolik. Tatanan simbolik itu mendaptkan salurannya lewat kebudayaan. 

Bahasa itu adalah simbol. Lewat bahasa kita bisa berkomunikasi dan saling memahami. Di balik simbol selalu ada makna. Tapi makna itu abstrak. Ia tak konkret. Maka ia membutuhkan penjelasan atau simbol lain yang konkret. 

Cinta pun demikian. Ia adalah sesuatu yang abstrak. Tak heran sebagian orang memang bisa merasakan cinta, tapi saat ditanya soal apa itu cinta, mereka kesulitan untuk mendefinisikannya.

Cinta adalah konsep yang abstrak. Oleh sebab itu, ia membutuhkan sesuatu yang konkret. Misalnya, memberi bunga, memberi perhatian, memberi ciuman, dan lain sebagainya.  

Sebagian orang beranggapan bahwa cinta adalah sesuatu yang sakral, suci, dan tak bisa dijelaskan. Apakah memang seperti itu? Menurut saya, tidak. Cinta adalah soal rasional. Orang membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang. Baik itu Martinus, Paul, Ahmad, Luna, Mince, Maria, dan sebagainya.

Cinta tak tumbuh dari ruang kosong. Ia hadir karena ada sesuatu. Oleh karena itu, menurut saya, cinta adalah sensasi yang kita dapatkan di balik simbol-simbol yang mengitari seseorang. Simbol-simbol itu bisa uang, mobil, kegantengan, kecantikan, pekerjaan, popularitas, gelar, harta, hobi, keseksian, kecerdasan, dan lain sebagainya.

Di balik simbol-simbol itulah sensasi selalu hadir untuk menopang hasrat untuk mencintai. Contoh, Maria jatuh cinta kepada Marten karena pekerjaannya sebagai polisi. Pekerjaan sebagai polisi adalah simbol. Di baliknya, ada sensasi yang membuat Maria jatuh cinta. Sensasi itu bisa pengakuan dari orang-orang terdekatnya. Atau, bisa juga, sensasi bahwa dengan hidup bersama Marten maka kebutuhan diri dan anak-anaknya ke depan bisa terpenuhi. 

Lalu, adakah simbol yang membuat Marten mencintai Maria? Tentu ada. Orang tak bisa jatuh cinta tanpa simbol. Maria tentu mempunyai simbol yang diakui oleh Marten. Simbol itu bisa kecantikannya, tubuhnya, kemanjaannya, popularitasnya, dan lain sebagainya.

Sensasi di balik simbol-simbol itu pula yang membuat Marten mendapat pengakuan dari orang lain. Lantas, adakah syarat seseorang jatuh cinta? Tentu ada. Syaratnya adalah simbol-simbol yang ada pada seseorang harus diakui oleh orang yang mencintai. 

Simbol-simbol yang diakui pun tak harus hanya satu jenis simbol. Seseorang bisa jatuh cinta pada seseorang karena beberapa simbol sekaligus. Misalnya, si A menyukai simbol kegantengan sekaligus simbol pekerjaan yang ada pada si B.

Lalu, apakah cinta bisa hadir tanpa simbol? Tentu tak bisa. Cinta tak bisa hadir tanpa simbol. Jika simbol-simbol itu tak ada, cinta juga biasanya tak ada. 

Cinta selalu lahir dari sensasi yang kita dapat di balik simbol-simbol yang melekat pada seseorang. Tapi apakah sensasi di balik simbol itu bisa berubah? Tentu bisa. Salah satu sifat manusia adalah tak pernah puas akan apa yang ia dapatkan.

Ketika ia miliki istri yang cantik, ia lalu ingin memiliki pasangan yang seksi. Saat ia memiliki suami yang baik, ia lalu ingin memiliki suami yang memiliki popularitas, harta, dan lain-lain. 

Sebab hasrat yang menopang simbol-simbol itu bisa berubah, maka perlu untuk dikenali dan dikelola. Jika tidak, ia bisa menjadi pemicu muculnya berbagai perselingkuhan dan pengkhianatan. Perselingkuhan dan pengkhianatan lalu membuat seseorang bisa jatuh pada duka nestapa. 

Memahami cinta

Sesungguhnya, ketika jatuh cinta, kita jatuh cinta pada simbol yang melekat pada seseorang. Bukan pada "diri" orang tersebut. Di balik simbol-simbol itulah kita mendapatkan sensasi. 

Apakah sensasi di balik simbol yang melekat pada seseorang itu benar-benar nyata dan abadi? Tidak! Saat jatuh cinta, kita sesungguhnya jatuh cinta pada sebuah gambaran, pada konsep tentang seseorang. Kita menciptakan "orang" itu di dalam kepala kita. Lalu, kita merasa bahwa "ia"benar-benar nyata. Padahal, “ia” yang nyata pasti berbeda dengan “ia” yang kita bayangkan. 

Patah hati, sulit move on, sedih, kecewa, merasa terkhianati adalah hasil dari pemahaman yang salah akan cinta. Banyak orang berpikir bahwa apa yang mereka bayangkan adalah sesuatu yang nyata dan selalu abadi. Mereka tak menyadari, bahwa setiap orang punya potensi untuk berubah. 

Karena pemahaman akan cinta yang salah, maka saat mereka mendapati pasangan mereka tak lagi sesuai dengan gambaran yang selama ini dibayangkan, mereka pun terperosok pada jurang nestapa. Buahnya adalah sakit hati, depresi, kecewa, putus asa, dan lain sebagainya. 

Obat patah hati

Sebab cinta lahir dari sensasi di balik simbol-simbol yang diakui, maka kita perlu memahaminya dengan baik. 

Cinta adalah konsep yang ada di dalam kepala kita. Ia datang dari gambaran kita akan seseorang. Gambaran yang ada dan kita  bayangakan itu pun tak nyata. Ia bisa berbeda dan berubah-ubah.

Perasaan jatuh cinta pun bisa berubah-ubah. Bisa ada dan hilang. Saat ini, Anda mungkin bisa jatuh cinta pada seseorang, tapi besok, Anda bisa benci pada orang yang sama. 

Sedih, patah hati, kecewa, perasaan terkhianati, dan lain sebagainya pun tak nyata. Ia bisa berubah-ubah. Ia hanya hadir sesaat. Ia seperti angin, hanya datang, pergi, datang lagi, pergi lagi, dan seterusnya. Ia pun tak abadi. 

Kalau cinta itu seperti itu, lantas untuk apa terkubur dalam kubangan duka nestapa? Saat patah hati, bangun dan tertawalah. Saat jatuh cinta, sadar-sesadarnya, bahwa semua orang punya potensi untuk berubah. 

Sekali lagi, cinta hanyalah bunga-bunga sensasi yang ada di balik simbol-simbol. Ia bisa berbeda dan berubah. Ia tak memiliki inti pada dirinya sendiri. 

Hanya dengan menyadari akan hal itu, kita bisa tertawa saat tersakiti, dan menari kala jatuh cinta.