Online Learning
1 tahun lalu · 765 view · 3 menit baca · Politik 51155_34393.jpg
Foto: gettyimages.com

Tak Ada Alasan Melarang Ateisme

Ateisme, sebagai sebuah gerakan ideologi, masih kerap jadi bahan perdebatan, terutama ketika membincang perihal kebebasan beragama. Para penganutnya, ateis, sering mendapat perlakuan diskriminatif, terlebih ketika berani mendeklarasikan diri di hadapan publik sebagai penganut paham tanpa agama ini.

Di kalangan kaum agamawan atau pemikir-pemikir muslim, misalnya, pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sering terlontar dalam perdebatannya, yakni apakah Islam mendukung konsep kebebasan tidak beragama? Bagaimana pandangan Islam tentang orang-orang ateis atau orang yang tidak beragama?

Perihal inilah yang coba diterangkan Luthfi Assyaukanie melalui serial Kuliah Qureta "Islam dan Demokrasi" bertajuk Bisakah Islam Menerima Ateisme?.

“Jika kita ajukan pertanyaan ini kepada tokoh muslim liberal seperti Prof. Abdullahi Ahmed an-Naim, pemikir asal Sudan, atau Prof. Ahmad Syafii Maarif asal Indonesia, jawabannya jelas: Islam memberi kebebasan kepada orang-orang yang tidak beragama.”

Pandangan liberal di atas, dalam al-Quran, bisa kita temui acuan dasarnya secara mudah. QS al-Baqarah ayat 256, misalnya, la ikra ha fiddin (tidak ada paksaan dalam beragama), secara terang mengindikasikan pesan yang luas terkait kebebasan beragama dan tidak beragama ini.

Artinya, tidak ada penegasan yang mutlak, bahkan di kitab suci sekalipun, terkait pembatasan wilayah kebebasan beragama dan tidak beragama ini. Itu sebab mengapa pemikir-pemikir muslim liberal seperti Syafii Maarif getol sekali meyakini bahwa semua orang, yang beragama atau tidak, punya hak yang sama dan setara.

“Syafii Maarif secara jelas dan gamblang mengatakan bahwa orang-orang ateis memiliki hak untuk hidup di muka bumi ini. Mereka memiliki hak yang sama dengan orang lain yang beragama.”

Akan tetapi, jika pertanyaan tersebut kita ajukan kepada kelompok atau kaum konservatif dalam beragama, tentu akan sangat bertentangan dengan pandangan muslim liberal. Bagi mereka, yang konservatif ini, ateisme tak lain adalah bentuk pengingkaran terhadap tuhan dan segala eksistensi yang melekat padanya. Ini diyakini secara mutlak tanpa syarat.

“Menurut Yusuf al-Qaradawi, ulama asal Mesir, ateisme adalah bentuk kekufuran yang paling tinggi. Orang ateis adalah orang yang tak menghargai tuhan dan karyanya.”

Kendati Qaradawi mengecam orang-orang ateis, dirinya tak pernah secara spesifik menolak keberadaan penganut paham tanpa agama itu. Sementara, di tempat lahirnya sendiri, Mesir, meski tidak dinyatakan secara terbuka, tetap saja ada beberapa orang sudah mendeklarasikan diri sebagai penganut ateisme.

“Qaradawi sendiri pernah berdebat dalam satu forum dengan seorang pemikir ateis di Mesir.”

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kebebasan untuk tidak beragama ini juga diakui, setidaknya dihargai, baik menurut konstitusi negara maupun kitab suci umat beragama?

“Di Indonesia, tidak ada aturan resmi yang melarang keberadaan ateisme. Yang dilarang adalah gerakan ideologi semacam komunisme.”

Sayangnya, fakta tersurat itu tidak teraplikasikan betul ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kecaman atas ateisme nyaris tampak di mana-mana. Terhadap para penganutnya, seringnya mereka disamakan dengan para penganut ideologi komunisme.

Meski demikian, eksistensi gerakan ideologi ini tetap saja tumbuh dan berkembang. Ya, kendati pengupayaannya sebatas dilakukan dalam kondisi yang senyap lagi diam-diam. Salah satu wujud konkretnya bisa dilihat dari didirikannya Indonesian Atheists oleh anak-anak muda yang kritis.

Di media-media sosial, terutama di Facebook, pengikut gerakan ini terbilang cukup besar. Meski beberapa di antaranya ada yang memilih untuk menganut agama tertentu, tapi menurut Luthfi, yang bersangkutan lebih cenderung melakukannya karena terpaksa.

“Mungkin karena takut disakiti atau takut dibunuh.”

Umumnya, keberatan orang-orang terhadap ateisme ini melulu didasarkan pada Pancasila. Mereka kecam ateisme karena memahami bahwa Indonesia adalah negara Pancasila. Salah satu pendasarannya ditarik pada sila tentang keyakinan akan adanya tuhan.

“Orang-orang itu lupa bahwa keyakinan adalah sesuatu yang bersifat personal, yang tidak bisa dipaksa, baik oleh Undang-Undang Dasar maupun kitab suci. Seorang yang memilih ateis tidak bisa dipaksa untuk menganut agama tertentu.”

Lagi pula, beragama atau tidak beragama, toh ini tetap saja merupakan bentuk keyakinan. Mengecamnya berarti menghianati nilai dalam Pancasila sendiri tentang keyakinan itu.

Lantas, bagaimana pandangan demoraksi sendiri tentang ateisme ini? Sebagaimana dalam pandangan muslim liberal, jawabannya juga jelas. Selama menyangkut kebebasan individu, tidak ada larangan dalam hal apa pun di alam demokrasi, terlebih soal keyakinan yang sifatnya sangat personal.

“Demokrasi tidak mengurus keyakinan seseorang. Orang ateis bebas hidup di negara demokrasi. Ia memiliki hak yang sama dan setara dengan warga lainnya yang bukan ateis.”

Jika benar Indonesia menganut demokrasi sebagai sistem politiknya, maka ateisme tentu bukan sesuatu yang patut dilarang. Para penganutnya tak boleh dikecam, dilarang menganut, apalagi ditolak hidup di negeri ini. Sebab, atas nama demokrasi, semua orang bebas dan setara, termasuk dalam hal berkeyakinan (beragama atau tidak beragama).