Single Parent
1 minggu lalu · 30 view · 3 menit baca · Budaya 65683_45973.jpg

Tajwid Umpatan Kakekane dan Kisah di Pasar Maling

Indonesia punya ribuan kosakata umpatan khas daerah masing-masing. Masing-masing makian kadang tak bermakna, khususnya di daerah lain. Kebanyakan umpatan tersebut dicatut dari nama-nama binatang.

Tapi hati-hati, binatang kadang lebih semlohai sikapnya dibanding manusia. Maklumi dan anggap saja si pemaki ingin menyamakan lawan bicaranya dengan kelakuan binatang yang menjadi sabdanya. 

Sebut saja asu, celeng, kadal, ular, bajing(an), jangkrik, otak kerbau, otak udang, akal bulus, tikus kantor, kelas teri, kelas kakap, lintah darat, sapi perah, kupu-kupu malam, ayam kampus, jago kandang, aksi kucing, kucing garong, kucing kepala hitam, serigala berbulu domba, dan sebagainya.

Nah, untuk Semarang, ternyata punya pisuhan atau makian yang tidak menjajah integritas dan otoritas binatang. Yang cukup ngetop adalah Kakekane

Dalam menyuarakan “kakekane” ini, memang ada beberapa tajwid, menyesuaikan kebutuhan. Karena makian ini bisa berarti simbol keakraban.

Kakekane atau juga ditulis kakeane bisa diartikan sebagai mbahmu. "Nenek lu," kata Ahok. 

Bisa juga diartikan dengan sangat kasar. Semua ada tajwidnya yang harus dibarengi dengan ekspresi dan tarikan garis mulut yang pas. Komposisi tarikan garis mulut, volume dan notasi suara, jelas sangat berbeda maknanya.

Pengambilan kosakata kakekane ini bersifat arbitrer, walaupun dalam kasus tertentu masih mengacu pada alasan tertentu. Misalnya kakeane yang lebih mendekati ungkapan perasaan yang kesal, sedangkan asu menyandingkan lawan bicara dengan rendahnya martabat anjing. 

Saya jadi ingat kisah anjingnya Puntodewa yang ditolak masuk surga, ternyata sulung Pandawa itu membela martabat si asu. Benarkah asu martabatnya rendah?

“Kakeane” yang sehari-hari terdengar di Semarang memperkuat kesan kasar di mata orang non-Semarang. Kasar dan tidak sopan!

Weit…tunggu dulu, akar kata “kakek” menunjukkan adanya titik romantisme antara dua insan manusia yang bisa saling bersetubuh menghasilkan generasi berikutnya. Romantisme simbah/kakek ini kan sebuah pertanggunggjawaban manusia kepada Penciptanya.

Tapi bisa saja kakekane itu menjadi semacam hinaan yang setara dengan “Ndut” atau “Jelek” yang dianggap sebagai panggilan sayang anak-anak kekinian. Kakekane adalah sebuah ekspresi yang menjadi bukti keakraban antarorang Semarang.

Nah, khasanah kakekane ini sering kali muncul dalam dunia perdagangan di Pasar Maling sebelum terbakar, dan sekarang pindah entah ke mana. Begini kisahnya.

Pasar ini juga dianggap sebagai tempat jual beli barang-barang hasil curian. Barang apa pun yang kita cari pasti akan bisa kita dapatkan di pasar ini asal kita menyebutkannya pada penjualnya.

Boss, aku golek spion Innova. Duwe ra? (Boss, saya cari spion Innova. Punya gak?),” tanya saya suatu ketika.

Wah lagi kosong, tapi sik tak golekke. (Wah lagi kosong. Tunggu bentar saya carikan),” kata si boss.

Optimisme si penjual yang mengaku tidak sedia tapi tetap bersedia mencarikan membuat pembelinya tidak khawatir. Apalagi hanya dalam hitungan menit orang yang diteleponnya sudah datang dan mengantarkan pesanan kita. Selanjutnya kita cukup bayar dan bisa kembali ke parkiran.

Lho aku tuku spion innova, kok malah spionmu ilang ndes? (Loh, saya beli spion innova kok malah spionmu hilang?),” kataku kepada kawan yang mengantarkan.

Dan ketika diteliti, memang spion yang dibeli ternyata spion mobil kawan yang hilang tadi.

“Asu. Kakekane!”

Hanya seruan itu yang keluar tanpa bisa ngapa-ngapain karena ketika dicari si penjual sudah menghilang.

Nah, kalau sudah begini, silakan memaki dengan tarikan garis mulut melengkung ke bawah, dengan mata menyala, dan volume suara keras serta nada yang tinggi melengking.

Bedakan dengan bertemu kawan lama yang sudah puluhan tahun tak sua. Sampeyan tetap boleh misuh dan teriak “kakekane!”. Tentu saja dengan tarikan garis mulut membuka lebar, tatap mata yang bersahabat diikuti gestur merangkul atau memeluk si kawan tadi.

"Kakekane, suwe ra ketemu. Saiki makmur tenan sampeyan. (Kakekane, lama tak jumpa, sekarang sudah makmur)," itu seruan yang lazim saat dua manusia asli Semarang atau dibesarkan dan didewasakan dalam kultur Semarangan bertemu.

Jika warga Semarang bisa bangga dengan atribut kesemarangannya, maka jangan heran kalau para pendatang dipaksa bersemarangan dan dilatih untuk fasih mengucapkan “Kakekane” sesuai Tajwid Semarangan. Makhraj juga harus tepat agar tak menimbulkan salah paham dan fitnah.

Saya sendiri masuk dan bergaul dengan budaya Semarang baru sekitar 30 tahun. Belum bisa menjiwai kultur makian Semarang ini. Saya masih lebih banyak misuh dengan pisuhan warisan kampung halaman saya di Muntilan, Magelang.

Secara umum, tajwid makian atau pisuhan ini di berbagai daerah memiliki kemiripan. Menyesuaikan dengan hati si pengumpat. Umpatan keakraban dan umpatan kejengkelan memiliki ejaan yang sama. Pembedanya hanyalah tajwid, ekspresi.

Jadi siapa pun yang berupaya mencari tahu asal usul diksi kakekane akan berteriak “Kakekane!!”, karena tak akan menemukannya.