That government is best which governs not at all;' and when men are prepared for it, that will be the kind of government which they will have -Henry David Thoreau


Tersebutlah Henry David Thoreau, seorang penulis puisi, esais, dan filsuf Amerika Serikat yang terkenal dengan bukunya terbitan 1854 dengan judul "Walden". Buku tersebut mendeskripsikan pengalaman Henry tinggal sendirian di hutan selama lebih dari dua tahun sekian bulan di Walden Pond, Massachusetts.

Awalnya, buku klasik itu tidak diterima dengan baik oleh masyarakat. Henry dianggap tak waras, terlalu eksentrik dengan gaya hidupnya menyendiri di hutan. Namun, tulisannya begitu tajam, merupakan rangkuman semua aktivitas dan pengalamannya hidup dekat dengan alam yang ditulis dengan apik.

Setelah waktu berlalu, buku berjudul Walden tersebut justru terkenal sebagai karya literasi abad ke-19 yang paling banyak dibaca dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Walden, pertama kali diterbitkan pada 1854 dengan judul asli Walden or Life in the Woods.  Sebuah judul unik dengan menempatkan preposisi (kata depan "or"), ciri khas judul-judul buku klasik era Sastra Elizabethan

Karya ini adalah bagian dari deklarasi kemerdekaan pribadi, eksperimen sosial, perjalanan penemuan spiritual, sindiran, hingga petunjuk survival hidup. 

Pemakaian makna simbolis, luasnya pengetahuan tentang sejarah, serta kepekaan daya magis puitisnya mampu menghasilkan sebuah filsafat lingkungan hidup yang tajam. 

Henry David Thoreau sudah menghasilkan karya literasi tajam berjumlah lebih dari 20 volume. Baik  buku, artikel, esai, jurnal, dan puisi. Kedekatannya dengan Royal Society membuatnya makin lekat dengan filsafat.

Henry David Thoreau mampu menggabungkan metode dan temuan ekologi serta sejarah lingkungan dengan gaya sastranya  yang tajam serta mampu membungkus observasi tentang alam, pengalaman pribadi dalam sebuah retorika yang menusuk nan dalam.

Henry tak banyak cuap-cuap depan mikrofon, takn banyak menegangkan otot leher, atau mengemis sponsor untuk kampanye konservasi. Beliau tak banyak pula melakukan advokasi yang sok-sokan bergaya aktivis lingkungan hidup nan gagah berani namun terkadang kurang berwawasan. 

Advokasi dan kampanye lingkungan hidupnya ia torehkan dalam sebuah gaya literasi yang tak kalah tajam dari mereka yang suka menegangkan otot leher, salto ataupun jingkrak-jingkrak overacting.

Semua refleksi kehidupan menyendiri dan sederhana di lingkungan alami telah banyak mengajari tentang kebebasan, kemurnian, dan kesabaran.

Metode penulisan buku ini jelas eksentrik, Henry membenamkan dirinya di alam terbuka, di tengah hutan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih objektif tentang masyarakat melalui introspeksi pribadi dan alam sekitarnya.

Hidup sederhana, swasembada dan bekerjasama dengan alam adalah tujuan Henry. Ia telah banyak diilhami oleh filsafat transendentalis sebagai bahan bakar  pembelaannya terhadap pelestarian alam, sebagai mana tersebut dalam bukunya di bawah ini:

This further experience also I gained: I said to myself, I will not plant beans and corn with so much industry another summer, but such seeds, if the seed is not lost, as sincerity, truth, simplicity, faith, innocence, and the like, and see if they will not grow in this soil, even with less toil and manurance, and sustain me, for surely it has not been exhausted for these crops  - Henry David Thoreau

Akhirnya, The National Wildlife Federation (NWF) telah mengukuhkan Henry masuk dalam Conservation Hall of Fame mereka pada 1967. Dan, menyebutnya sebagai pelopor konservasi yang memperhatikan tentang keseimbangan antara eksplorasi dan konservasi. 

Landasan keseimbangan konservasi dan eksplorasinya telah ia nyatakan dalam: Inde genus durum sumus, experiensque laborum Et documenta damus qua simus origine nati (From thence our kind hard-hearted is, enduring pain and care Approving that our bodies of a stony nature are).

Gerakan konservasi dan advokasi lingkungan hidup bukan hal yang baru di dunia ini. Selama ratusan tahun, banyak orang telah menganjurkan dan melakukan pelestarian dan perlindungan alam serta melakukan advokasinya. So, jangan lebay.

Bagaimana menjadi seorang aktivis lingkungan hidup yang tajam tanpa mendalami dan menyelami sendiri di alam yang sesungguhnya: hutan, jurang, lembah, rawa, lautan, gelap malam, badai, kabut, gelombang dan lainnya.

Terkadang, yang sok-sokan itu hanya nebeng pada lembaga-lembaga yang dia sendiri tak paham platform, misi terselubungnya yang berujung pada kegilaan.

Kegilaan apakah itu? Agar disebut sebagai aktivis lingkungan hidup yang gagah dan cinta alam. 

Advokasi memang penting untuk hadir sebagai sarana bagi masyarakat sipil untuk bersatu dan bertekad untuk membela keadilan yang seharusnya bisa juga diterima oleh tumbuhan dan binatang. Lebih penting lagi adalah penyadaran individu lewat pengalaman langsung. 

Ketidakadilan yang terjadi akibat keserakahan kuasa modal dan kuasa kebijakan adalah hal lumrah dalam kehidupan. Sebagaimana kita lumrah untuk lebih berkeadilan antara mengambil hasil alam dan memeliharanya.

Konservasi lebih adil jika diartikan sebagai jumlah total kegiatan yang dapat mem peroleh manfaat dari alam, dan pada saat yang sama pula berusaha untuk mencegah penggunaan yang berlebihan. Ini menunjukkan manusia berhak untuk eksplorasi alam. 

Tidak adil jika tidak sama sekali memanfaatkan alam. Dan, itu jelas hal yang tak nalar jika manusia mampu hidup tanpa memanfaatkan alam. Mending mati saja tak usah hidup. Adalah sangat penting untuk mengubah paradigma sinting: "Nol Eksplorasi".

Adil adalah mengubah eksplorasi sumber daya alam yang bersifat eksploratif (ekstraktif) yang berlebih menjadi konservatif yang berkecukupan.

Sebagaimana Henry sebutkan pada buku lainnya yang berjudul Walking, ia menyatakan, “alam liar merupakan pelestarian dunia". Ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa alam, artinya silahkan dimanfaatkan, dan jangan berlebih. 

Bertambahnya jumlah populasi manusia tentu berbanding lurus dengan kebutuhan bahan galian dan hasil alam lainnya. Adalah wajar-wajar saja jika ada perluasan dan penambahan jumlah pemanfaatan dan eksplorasi alam.  Tak nalar jika tak tambah eksplorasi, apalagi "nol eksplorasi".