Keringatnya mengucur deras. Tapi bukan keringat biasa.

Debu kemarau menjadi teman sejati. Napas berusaha kuat, kaki tak kalah letih. 

Tapi, bukan kaki-kaki yang menapak. Deru napasnya pun khas tiada setara. 

Hanya semangat berubah jadi satu-satunya Tuhan yang mudah dipinta. Mungkin Tuhan yang sama dengan milik manusia. Tiada beda.

"Wahai kuasa diri, kau malas!" serunya paling akur.

"Sejak kapan terpikirkan?"

"Saat bosan."

Dipaksanya menjejak tanah yang sudah terkastakan. Tapi tiada bekas tapak. 

"Sesekali kau keluar! Lihatlah rumah kita dan ulah mereka!"

Kini jalannya berundak-undak rapi, pertanda ada maunya. 

Ini bukan kehendak alam. Apalagi kehendak mereka berdua.

Namun, hasil olah budi dan daya yang namanya manusia. 

Sisi-sisi tajam mata cangkul telah lama menghunjam hingga membentuk lekuk-lekuk sudut siku tajam. 

Setajam kerukan tanah di kaki gunung ini. Cakar-cakar besi dan roda-roda pengangkut yang tambun telah puas membuat longsoran.

"Tak ku kira."

"Apanya?"

"Tentang bentuk undak-undak ini."

"Biasa, ulah manusia."

Keduanya terus melaju ringan, lewati iring-iringan manusia yang juga tentunya berpacu. 

Berlomba mendapatkan petak lapang, sebuah pemberhentian sementara yang katanya akan menyodorkan ritual patriotik.

Berlomba? Ah, sepertinya bukan. Tak lebih dari sekedar pamer determinasi kaki, unjuk patriotisme, kebangaan komunitas hingga tentang omset.

Konvoi yang beraroma berbagai merek parfum norak itu berbonus berisik lagu-lagu dengan level suara bervolume norak. 

Ada kepuasan sendiri di puncak rantai penampilan. Yang katanya aman, standar, tepat guna hingga warnapun diatur-atur layaknya undang-undang penguasa.

"Andai kau hitung tangga tanah yang dipaksakan itu."

"Kamu maksa?"

"Ah!"

"Seperti mereka saja yang memaksa patriotik, seolah paling pahlawan."

Keduanya diam sesaat. Sibuk dengan irama napas yang tak tentu solmisasinya. Napas yang tak bau jengkol dan tembakau.

Awalnya napas mereka berdua diselaraskan dengan ucapan-ucapan suci yang dirapal berulang-ulang di hati. Khas rapalan manusia. Mirip!

Kini, hilang! Dijamah rasa khas kemanusiawian yang tadinya dipaksa termalaikatkan. Tapi bukan manusia.....

"Apa itu?" Pertanyaan awal di dataran luas di ketinggian sejuk itu.

"Entah, asesoris dan bedak model apa lagi ini?"

"Kau malah terheran dengannya, bukannya memuji debutmu?"

"Ini lebih tajam! Menusuk-nusuk ketenangan ini!

Sebuah debut yang tak lazim. Memasuki dimensi lain yang katanya lebih arif dan bijaksana. Dimensi yang mendapat amanat kekhalifahan!

Mungkin kalau mampu, keduanya akan membuat usulan kepada Tuhan tentang persona non grata!

Yang katanya arif bijaksana telah mengoyak tempat tinggal mereka berdua.

Beberapa sorot lampu yang tak lazim berpesta. 

Semula sorot berfungsi sebagai tanda morse atau kedaruratan, kini berubah menjadi titik-titik cahaya liar menggaruk-garuk angkasa dan rerimbun hutan itu tanpa satu arti apapun.

"Generasi pecinta alam?"

Tentu. Yang dilahirkan dari rahim TikTok".

"Asem."

Itu apalagi, lampun LED warna-warni  pengganti lelehan darah?

Keduanya menepi. Bukan untuk menikmati. Mati langkah! Lihatlah apa-apaan ini. Hingga area konservasi ambruk. Penuh tenda!

Sepertinya naluri TikTok mereka merasuk padu. Lupa daratan. Pawitra yang suci. Meleleh tangis atas ulah anaknya sendiri.

Sayup-sayup mulai terdengar seperti paduan suara lagu-lagu perjuangan.

Katanya  dinyanyikan agar terlihat patriotik-nasionalistik. Agar disebut pendaki berjiwa NKRI Harga Mati!

Umbul-umbul gulo kelopo yang tak tahu apa ikut bergetar.

"Oh, Merah Putihku!"

Goyangan ujungnya dipaksa selaras  dengan jingkrak-jingkrak sepatu-sepatu bersol tebal mereka.

Dipadu pula dengan polusi gelombang suara yang disiapkan dari berbagai pangkalan suara; mulut memble, "sound system" oprekan cempreng hingga yang mirip level "dolby stereo" khas gedung bioskop!

"Mereka membungkusnya rapi!"

"Maksudnya?"

"Tai dibungkus aluminium foil!"

"Gila kamu!"

"Lebih gila mereka, hmmm."

Sepetak itu, kini menjadi berpetak-petak. Melebar-lebar oleh sibakan yang mengusik sang akar perkasa penahan tanah.

Demi sebuah kesempatan untuk merebut momen tahunan. Ritual peringatan kemerdekaan katanya. 

Mungkin tidak diajarkan tentang upaya pengakaran pada kawasan botak.

Seperti halnya mereka suka membabat habis rambut kemaluannya. 

Lupa itu rambut dan bukannya bulu! 

"Aku injak alang-alang."

"Ya, tapi tak rimpuk."

"Aku injak semak belukar."

"Ya, tapi tak berbekas."

"Aku tak mampu mengembalikan fungsi hutan."

"Ya, tapi tak merusak."

"Karena apa?"

"Kita berdua hantu Pawitra!"

Saatnya mereka belajar etika kepada hantu. 

Sebelum benar-benar hantu Pawitra melakukan usulan persona non grata untuk mengusir manusia perusak alam!

Percakapannya terhenti oleh daya tarik seseorang yang duduk tenang membaca layar gawainya yang terang: 

Fungsi orologis, kegiatan penanaman kembali hutan dapat mengembalikan fungsi hutan secara orologis, di mana hutan sebagai penyaring air yang menyerap ke dalam tanah serta dapat menghambat derasnya laju aliran permukaan.

"Dia rela terguling karena tanah miring ini. Menghindari pesta yang katanya patriotik itu," sebuah monolog khas birama hantu memecah konsentrasi gadis belia itu.

"Siapa yang rela?"

"Kami!"

Gadis belia itu menurunkan gawainya. Menoleh ke sekitar. Melacak sumber bunyi.

"Ah, pasti gaung dari pesta bangsat  di bawah itu!"

Kembali ia menekuni bacaannya. 

Angin berhembus kencang. Semakin memperkuat hempasan suara-suara gaduh gak jelas di bawah sana. Tanpa menghiraukan aroma mewangi dupa-dupa yang dibakar oleh yang sadar.

Pawitra suci. Sungguh suci. Terbungkus sejarah para suci. Bukan terbungkus tai.

Azan Maghrib tak mereka hiraukan. Apalagi suara alam yang meronta-ronta dipaksa untuk memuaskan nafsu patriotik mereka yang kebablasan itu.

Terinjak oleh ritual yang katanya patriotik dan penuh rasa nasionalisme kemerdekaan itu.

"Kenapa kau suarakan!"

"Aku tak tahan memujinya, maaf!"

"Bukankah sudah paham, didikan siapa gadis belia itu? Kau ini merusak kode etik hantu: Jangan nyinyir dan nyocot!"

"Duh, Kanda, maafkan Dinda."

"Pendidik itu datang untuk mendengar dan melihat."

"Ya, sudah. Seperti beberapa tahun lalu, kan?"

"Betul!"

Oleh karenanya dia datang. Membawa debutan. Menyodorkannya pada kenyataan. Menulis rapi apa yang terjadi. 

Sampah, nasionalisme, patriotisme, polusi suara, getaran  seismik yang tak perlu, injakan brutal pada perdu, hingga segala norma yang dipaksa santun.

Terlupa bahwa pernah tertulis di sana, tentang Cunggrang sebagai desa Perdikan karena terdapat tempat pertapaan yang bernama Dharmasrama ing Pawitra. 

Tentang sumber air yang bernama Sang Hyang Tirtha pancuran ing Pawitra. 

Sumber air itu yang kini diyakini sebagai Candi Belahan.

"Sebentar lagi fajar, mari, pulang!"

"Tai tetaplah tai, rumah kita penuh tai hasil hidangan pesta!"

"Sudahlah, tai."

"Baiklah, tai."