“Kesarjanaan lurah itu tidak terkait dengan jargon agent of social change.” (Nadjib, 2013)

Ketika penghujung akhir tahun 2016, Perusahaan A mendeklarasikan rencana strategis yang diberi tema Survival Year. Survival year di sini menekankan kepada seluruh jajaran management dan karyawan (operator lapangan) untuk ikut merasakan keganasan penurunan dan persaingan harga produk semen di pasaran.

Competitors sudah siap dengan segala jurus dan inovasinya untuk merebut hati customer sehingga yang terjadi di lapangan bagaikan Perang Dunia II. Produsen semen berlomba-lomba memberikan advantage bahkan hak istimewa bagi pelanggan dari tingkat distributor hingga end customer agar menjadi loyal customer.

Memang betul Perusahaan A adalah perusahaan baru yang masih menjajaki dunia persemenan di Indonesia, akan tetapi perusahaan ini berasal dari “orang tua” yang sudah berpengalaman lebih dari 100 tahun di dunia persemenan di ASEAN.

Singkat cerita, manajemen berdalih harus sebisa mungkin untuk ngirit. Konsepsi ini menimbulkan konflik baru karena tidak memberi teladan bagaimana mekanisme penghematan tersebut.

Penghematan ini masi sebatas teori. Manajemen belum menerapkan efisiensi produksi seperti mencari sumber bahan baku baru dengan harga yang lebih murah, belum ada efisiensi logistik dan distribusi barang jadi sehingga mampu diminimalisir.

Beda ladang beda pula belalang, beda perusahaan beda pula kebijakan. Perusahaan B menjadikan tahun 2017 ini sebagai tahun pertumbuhan. Tahun pertumbuhan ini telah menghadirkan optimisme bagi seluruh manajemen dan karyawan untuk tetap berkarya.

Tahun pertumbuhan dideklarasikan Perusahaan B karena mampu melampaui target dari tahun sebelumnya. Sebagai informasi, Perusahaan B adalah perusahaan yang bergerak di bidang bisnis data, internet, dan information technology (IT) service.

Perusahaan B adalah perusahaan telekomunikasi. Di Perusahaan B, belum terdengar karyawan demo menuntut haknya. Belum terdengar pula manajemen galau dan ingin curhat kepada seluruh karyawan terkait kinerja perusahaan yang semakin baik.

Bukan membandingkan segmentasi yang berbeda.

Ada hal yang unik dan menarik dari persepktif kedua perusahaan tersebut. Perusahaan A membuat slogan survival year sedangkan Perusahaan B membuat slogan growth year (tahun pertumbuhan).

Slogan survival year tidaklah buruk bila dibandingkan dengan growth year. Semuanya berdasarkan dengan kondisi masing-masing perusahaan. Perlu digarisbawahi, konsekuensi survival year yang dideklarasikan perusahaan A mengakibatkan adanya konflik internal antara manajemen teras dengan karyawan sebagai penggerak perusahaan.

Ketidakharmonisan ini memicu kekhawatiran yang berlebihan dari manajemen teras sehingga berdampak pada psikologis karyawan yang sangat rentan. Kata survival year ibarat momok yang harus dihadapi. Sebagai alternatif,  manajemen teras bisa memakai kata yang lebih soft seperti growth (seperti perusahaan B) year, motivated year, atau  moved on year.

Pemilihan kata ini sangatlah penting karena terkait dengan kebijakan yang akan dibuat, persepsi yang ditangkap, dan psikologis objek kebijakan. Kebijakan yang dibuat berkaitan dengan rencana strategis di masa datang dan bercerita tentang apa yang akan dilakukan demi tercapainya target sebuah perusahaan.

Rencana startegis inilah yang nantinya akan diturunkan menjadi kegiatan praksis di lapangan dan dijadikan referensi dalam penyusunan program kerja tiap section. Oleh karena itu, rencana strategis perusahaan bisa menimbulkan konflik bila para inisiator tidak mempunyai kapasitas yang cukup dalam hal penerjemahan future expectation yang belum pasti.

Pada penyampaian rencana startegis yang kurang dijiwai tersebut, maka akan mucul perbedaan persepsi. Perbedaan persepsi memang manusiawi. Hal ini sangat mungkin terjadi pada penyampaian jargon yang tidak tepat.

Sebagai contoh di Perusahaan A, dikatakan bahwa kondisi pasar semen sedang lesu akan tetapi realita di lapangan berbeda. Kenyataannya, Perusahaan A tidak mampu bersaing dengan competitor atau bahkan menyerah sebelum bertanding.

Anggapan berikutnya adalah terkait psikologis objek penerima. Objek penerima di sini adalah para karyawan (operator lapangan). Jarang sekali partisipasi mereka diwadahi untuk sesuatu yang thinking oriented. Mereka hanya memikirkan bagaimana suatu pekerjaan dapat berjalan sesuai mandat dan tidak sampai dimarahi.

Efek paling ekstrim adalah permasalahan pekerjaan di-delivery sampai ke rumah. Mereka yang merasa karyawan belum mampu mengontrol emosi sehingga melampiaskannya pada kehidupan rumah tangganya.

Anak dan istri dijadikan sasaran kekesalan terhadap sesuatu yang uncertainty. Kekesalan ini akan berakibat psikis dan fisik anggota keluarga terganggu. Hamka (2015) menekankan bahwa hakikat hidup bagaikan pertempuran dan perjuangan. Pertempuran ibarat sebuah proses dan perjuangan adalah hasil yang didapat setelah melakukan pertempuran.

Pada hakikatnya pertempuran dan perjuangan akan bermuara kepada kelezatan hakiki. Lebih lanjut lagi, Freire (2008) megatakan bahwa manusia harus pada porsinya. Hal ini disebut humanisme.

Bila humanisme ini terusik oleh suatu usaha yang menjadikan manusia sebagai benda terkendali (automation) yang berakibat terhadap fitrah ontologis mereka menjadi manusia seutuhnya. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk individu maupun sosial mampu hidup sesuai porsinya.

Apakah Perusahaan B tanpa konflik?

Adanya konflik mengindikasikan adanya dinamisasi dalam sebuah badan atau organisasi. Dinamisasi inilah yang perlu di-manage agar tetap berjalan sesuai dengan kapasitas dan batas yang telah disepakati.

Pada Perusahaan B, konflik yang terjadi bukanlah konflik ideologis terkait jargon perusahaan. Akan tetapi lebih cenderung ke konflik kultural yang umum di perusahaan. Mungkin dalam penerapannya akan menimbulkan cost tambahan seperti operational cost dan maintenance cost.

Sebagai tambahan, kebijakan ini minim sekali bersinggungan dengan aspek decision maker, perspektif, dan psikologis. Belum terdengar juga adanya demo karyawan Perusahaan B di media untuk menuntut hak mereka yang terenggut bahkan mayoritas dari mereka yang merasa puas.

Bila dikaitkan dengan krisis kemanusiaan yang terjadi akhir-akhir ini. Sebutlah, krisis etnis  Rohingnya. Diceritakan dari banyak sumber bahwa konflik ini terjadi karena sentimen agama dan ditambah tidak diakuinya etnis tersebut oleh pemerintah Myanmar.

Banyak pengungsi Rohingnya yang menyeberang ke Indonesia, Malaysia, bahkan Thailand. Di Thailand, sebagian pengungsi Rohingnya ditampung di kampung muslim Thailand seperti di Provinsi Pathumthani, yang terletak 20 km utara kota Bangkok.

Banyak dari mereka yang melakukan pelarian juga melakukan dakwah berjalan dengan berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain seperti yang terjadi di Provinsi Lopburi, Thailand.

Seorang teman dari Myanmar pernah berkata bahwa Rohingya bukanlah orang asli Myanmar, melainkan imigran yang berasal dari Bangladesh. Teman tersebut mampu membuat sebuah kesimpulan seperti itu dikarenakan adanya statement pemerintah bahwa imigran Bangladesh (Rohingya) bukanlah orang Myanmar dan tidak mempunyai hak sebagai warga negara.

Sebelumnya, sebuah institusi keagaamaan telah mengeluarkan statement yang lebih pedas yaitu, Myanmar harus mengusir etnis Rohingya dari bumi seribu pagoda. Gerakan ini dimobilisasi oleh seorang monk yang telah keluar dari pakem-nya.

Kuntowijoyo (2001) menyarankan perlu adanya pendekatan kontekstual terhadap semboyan atau jargon. Pendekatan tersebut harus memuat universalisasi, konkretisasi, dan objektifikasi.

Universalisasi menekankan pada luas-sempitnya ruang gerak. Konkretisasi didefinisakan sebagai komitmen sosial dan objektifikasi menyangkut bagaimana melihat manusia sebagai suatu entitas. Ketiga konsep tersebut menjadi suatu yang wajib sebagai pedoman pada penetapan jargon.

Tahap berikutnya adalah bagaimana mengkomunikasikan jargon yang baik secara utuh dan menyeluruh. Bila jargon, slogan, atau statement yang dikeluarkan mengandung maksud perampasan hak-hak asasi manusia, maka disitulah konflik bermula.

Dalam berkomunikasi, banyak dari kita yang masih sebatas konsepsional. Nadjib (2013) mengindikasikan bahwa belum adanya kemampuan mengolah modus komunikasi sehingga komunikasi yang dikembangkan menjadi efektif.

Suatu subtansi hendaknya mampu melukiskan fungsi dan keberadaanya Hal ini dimaksudkan ketika terjadi proses mengajak atau merangkul orang, tujuan mampu dicapai tanpa adanya paksaan.

Setiap keputusan atau kebijakan akan menimbulkan emosi bagi si penerima. Emosi di sini diartikan sebagai respon seseorang dalam menangkap suatu kejadian. Emosi ini dapat berupa kesedihan, happy, ketakutan, atau kemarahan

Menurut Love and Stosny (2007) emosi itu logis. Emosi merupakan motivator dan pengatur perilaku sebelum mengembangkan kapasitas primitif untuk menganalisis intelektual. Emosi juga diakibatkan oleh perubahan lingkungan.

Ibarat kita jatuh hati pada seseorang dan dia akan pergi meninggalkan kita untuk suatu hal, emosi yang terjadi adalah ketakutan atau kekhawatiran akan jauhnya faktor geografis serta ancaman ketidaksetiaan.

Konflik sebagai eksistensi manusia.

Mengutip pendapat Pease and Allan (2010) manusia bila tidak melakukan sesuatu, maka massa otaknya akan berkurang. Berkebalikan bila ia menggiatkan suatu pekerjaan, maka massa otaknya akan meningkat.

Hal inilah yang mampu meningkatkan kemampuan ruang sesorang. Kemampuan ruang inilah yang membuat manusia menyadari eksistensinya sebagai sebuah masyarakat baik lokal maupun global. Eksistensi inilah yang menjadikan manusia mampu mengidentifikasi apakah hak-hak mereka diperjuangkan ataupun diserang.

Berawal dari jargon, slogan, atau statement yang kurang tepat, konflik ditimbulkan dan mengakibatkan keresahan. Pemilihan kata yang baik akan berdampak baik meskipun tidak menjamin zero conflict.

Tidak ada sesuatu yang berada di dunia ini tanpa konflik. Manusia pertama yang kita kenal sebagai Nabi Adam juga pada awal penciptaannya menuai konflik. Akan tetapi berkaca pada konflik kemanusiaan saat ini, jargon, slogan, atau statement dari para pemangku kepentingan itulah yang dapat dikatakan sebagai pemantik konflik.

Bila mereka mengakhiri dominasi worst statement, maka konflik kemanusiaan yang terjadi kan dapat diminimalisir bahkan diakhiri. Bila konflik sudah kadung terjadi, banyak pendekatan solusi yang bisa diterapkan.Hal ini mengingat besar-kecilnya skala konflik. Bila konflik yang terjadi kecil, pendekatan yang dipakai adalah pendekatan kultural. Bila konflik dirasa besar hingga menjadi krisis kemanusiaan, pendekatan yang dipakai adalah pendekatan struktural, konstitusional, bilateral, dan multilateral

Referensi

Freire, P. (2008). Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: Pustaka LP3ES.

Hamka. (2015). Tasawuf Modern. Jakarta: Republika.

Kuntowijoyo. (2001). Muslim Tanpa Masjid. Bandung: Mizan.

Love, P., & Stosny, S. (2007). Why Women Talk and Men Walk. Jakarta: Ufuk Press.

Nadjib, E. A. (2013). Indonesia Bagian dari Desa Saya. Jakarta: Kompas.

Nadjib, E. A. (2013). Markesot Bertutur Lagi. Bandung: Mizan.

Pease, B., & Allan. (2010). Why Men Don't listen and Women Can't Read Maps. Jakarta: Ufuk Press.

#LombaEsaiKonflik