Writer
1 bulan lalu · 483 view · 4 min baca menit baca · Politik 70644_63326.jpg
Google Picture

Tahun Kelam Politik Indonesia

Sejak kampanye pemilihan Gubernur DKI, aku mulai muak dengan kerumunan di dunia maya, terutama WhatsApp Group. Politik identitas yang sangat kental membuat sebagian besar orang memakai kacamata kuda. 

Tak peduli sebarapa banyak deret title menghiasi nama aslinya, atau seberapa berkilau karier dan jabatannya, atau seberapa banyak rambut memutih di kepalanya, pola pikirnya nyungsep ke dalam pasir.

Derasnya informasi membuat banyak orang gelagapan dan hanyut terbawa arus. Setiap detik muncul ratusan bahkan ribuan informasi, baik yang faktual maupun hoaks. Hanya diri kita sendiri yang bisa menentukan informasi mana yang kita supply ke dalam otak kita.

Otak yang akan mencerna asupan informasi tersebut. Bila seragam informasi yang masuk, maka seperti itu pulalah yang akan kita keluarkan dari mulut ataupun tulisan. Bila informasi yang kita konsumsi beragam dan saling berseberangan, maka ucapan dan tulisan kita akan mempetimbangkan banyak hal sebelum menuduh atau meyakini sesuatu hal.

Karena kita adalah apa yang kita konsumsi.

Sebab sedemikian besar informasi yang menghampiri setiap saat, sedangkan waktu yang kita punya sedikit, dan kemampuan menganalisis terbatas, maka sebagian besar orang cenderung hanya membaca informasi yang mendukung keyakinannya atau mendengarkan tokoh yang sepaham atau hanya menonton acara yang mengonfirmasi keyakinan tersebut.

Membaca informasi dari banyak sumber yang berbeda tidak lagi penting bagi banyak orang, sehingga mereka tidak mampu memilah mana yang riil dan mana yang palsu. Bila ada orang memberikan data pembanding yang bertolak belakang dengan yang diyakini, mereka jarang berkenan untuk mempertimbangkannya, walaupun data itu akurat dan faktual.

Celakanya, media online memakai sistem algoritme yang artinya komputer/sistem aplikasi mengenali jenis berita/informasi apa yang kita sukai. Bila kita membuka berita tentang kambing, maka aplikasi ini akan menawarkan berita kambing lainnya yang sejenis. Bila kita membuka link yang ditawarkan, maka makin banyak link kambing yang dihantarkan ke depan mata kita.

Umpamanya kita lagi mencari sepeda di marketplace. Setelah itu, kita membuka Facebook atau Instagram, maka akan muncul aneka macam gambar sepeda di timeline IG dan FB kita. Begitulah algoritme bekerja. 

Bila kita membuka link berita “Paijo PKI” umpamanya, maka ribuan berita tentang hal tersebut dengan cepat dihantarkan ke layar gadget kita. Tidak peduli berita itu benar atau hoaks.


Kini kita hidup pada era post-truth politics (politik pasca-kebenaran), yaitu masa di mana sebagian besar perdebatan dibingkai oleh daya tarik emosi/perasaan yang tidak terhubung dengan data yang sah dan faktual. Orang tidak lagi memercayai kebenaran yang disodorkan padanya bila kebenaran itu melukai/menghancurkan keyakinan atau perasaannya. Saringan yang dipakai bukan lagi logika, tapi PERASAAN.

Manusia macam ini makin banyak. Pendidikan tidak lagi menjadi tolok ukur. Berdiskusi dengan mereka seperti menghantam tembok tebal. Mental. Lebih baik mundur teratur dan jaga jarak supaya tidak celaka karena tabrakannya.

Kerusuhan beberapa hari lalu adalah buah dari post-truth politics. Kebohongan yang diucapkan berulang-ulang akan diterima sebagai kebenaran. 

Jauh hari sebelum Pemilu dilaksanakan, kata CURANG sudah diteriakkan. Kata itu makin kencang bergema saat perhitungan suara, bahkan sampai hari ini.

CURANG-CURANG-CURANG-CURANG-CURANG-CURANG- CURANG-CURANG-CURANG!!!

Jangan tanya mana bukti kecurangan, karena mereka akan jawab, “Masak lu gak ngerasa sih? Begitu masifnya kecurangan yang terjadi!” See!! Kata kuncinya, “NGERASA”; tak perlu bukti.

Rakyat yang tidak paham IT, dicekokin dengan informasi IT setengah-setengah, bahkan kadang salah tapi menjadi WAH dengan narasi yang hebat. Padahal data yang disajikan adalah SAMPAH. 

Seberapa banyak sih rakyat Indonesia ini yang melek IT? Ada 10%? Aku ragu. Rakyat Indonesia sebagian besar hanya pengguna aplikasi tanpa memahami cara kerjanya.

Ada orang IT memaparkan data kemudian dengan lantang mengatakan, “Ini data-data yang salah yang kami temukan.” Semua pendukungnya kagum dan mengimani paparannya, padahal yang ditampilkan adalah data recording yang tidak menunjukkan kesalahan apa-apa. Mereka pun tidak bertanya bagian mana yang salah. Mungkin karena tidak tahu juga apa yang harus ditanya.

Banyak yang berteriak, “Hanya di rezim Jokowi terjadi kecurangan pemilu seperti ini. Zaman sebelumnya tidak ada yang seperti ini.” Betul. Pada masa inilah begitu banyaknya orang yang percaya pada hoaks. Karena berita kecurangan adalah hoaks bagi sebagian yang lainnya.

Peredaran hoaks di masa sekarang memang lebih hebat dari lima atau sepuluh tahun lalu, apalagi seratus tahun yang lalu. Lompatan teknologi saat ini luar biasa. 

Internet itu barang netral. Kita sebagai pengguna dan penikmat manfaat yang merasakan efek negatif atau positif dari barang itu. Maka pergunakanlah dia secara bijaksana.

Yang terasa lucu adalah banyak orang yang meminta supaya Jokowi mundur karena banyak rakyat berdemo menunjukkan rasa ketidaksukaan mereka. Sangat lucu bagiku. 

Betul memang banyak yang berdemo, tapi jauh lebih banyak yang tidak berdemo, bukan? Kalau naik dan turunnya Presiden ditentukan oleh jumlah pendemo, mau jadi apa negara ini?

Kau bilang puluhan juta pemilih Prabowo, bukan angka sedikit. Betul, tapi pemilih Jokowi lebih banyak. People power sudah dilakukan pada 17 April yang lalu. Hasilnya, 85,6 juta suara sah memilih Jokowi. Sedangkan pemilih Prabowo hanya 68,6 juta suara sah. Artinya, Jokowi menang dan Prabowo kalah.


Ada pula yang bawa-bawa nama Gus Dur. Katanya, Gus Dur bisa legawa turun. Ok, kenapa Prabowo tidak bisa legawa menerima kekalahan? Setiap pertandingan pasti ada yang menang dan yang kalah. Anak SD pun tahu itu. Anak TK yang tidak tahu. Makanya semua anak TK dapat hadiah dalam lomba.

Jokowi diminta mundur, artinya kalian meminta kepada 55,5% pemilih sah pemilu untuk membatalkan pilihan. Ya tidak bisa toh! Jokowi itu duduk di kursi kepresidenan bukan karena maunya dia, tapi karena kehendak pemilihnya. Lebih banyak yang mau daripada yang tidak mau. Gitu saja teorinya.

Aku pernah merasakan pahitnya kekalahan saat Ahok kalah pada Pilgub DKI. Kecewa sekali ketika itu. Apakah para pemilih Ahok ngamuk-ngamuk turun ke jalan minta pemilu ulang? Ya tidak. Kalah ya kalah aja. Berikan kekuasaan memimpin pada yang menang, sambil kritisi kinerjanya.

Manusia yang beradab yang masuk areal pertandingan adalah manusia yang siap menang dan siap kalah. Jokowi-Amin sudah memenangkan pertandingan. Mereka siap memimpin untuk periode lima tahun ke depan. 

Kencangkan ikat pinggang dan disarankan rutin cek tensi dan jantung. Karena lima tahun ke depan, jalan tol akan makin banyak dan mulus. :)

Artikel Terkait