Lirih kudengar desahan para jutawan yang menjamah jam tidur para pengangguran,
serta tak lupa pula para pemabuk yang asik membunuh waktu dengan pesta akhir tahun kecil-kecilan.

Mungkin keasyikan ini pula yang dirasakan mereka yang asik berperang, demi menjaga tahta, ataupun Negeri yang dahulu damai sentosa.

Ribuan tubuh mungil yang cantik dan tampan terbujur kaku bersimbah darah, senyum manis, tak tahu menahu soal ambisi yang mengatasnamakan kemanusiaan.

Di negara ini, di langit yang sama kita berpesta pora layaknya orang yang paling senang di dunia, di kota Allepo Suria, Palestin, Libya, Afganistan, anak anak menangis terisak-isak meminta belas kasihan pemimpin dunia.

Di rumah kita asik memasang petasan, di sana mereka berlari tunggang langgang dari bom, rudal, dan senapan

Mereka bertanya, mengapa aku di usir di negaraku? di negara yang dahulu damai? Mengapa kalian memisahkan aku dengan bapak-ibuku?

Mungkin inilah yang paling kutakuti, ketika anak-anak ini berhenti berharap, dan bermimpi, tentang masa depan mereka kau curi.

Ketika anak-anak di belahan bumi yang lain sedang asyik-asyiknya sekolah, bermain dengan kawan, bahkan sibuk Men-Teloletkan sosial media, anak-anak di sana bahkan seteguk air saja bagai racun yang mematikan.

Anak-anak di indonesia, dengan hangatnya dimanja dan dipeluk ibu-bapak, di sudut yang lain anak-anak suriah memeluk kardus hanya untuk sekedar menghangatkan diri. 

Toh kalaupun perang petasan berakhir tak ada yang dapat dikenang selain sejarah yang berdarah, hilangnya secercah harapan si anak muda, dan tangisan anak kecil yang siap mengadukanmu pada Tuhannya

Tak ada yang perlu disesali selain dilahirkan di dunia ini.
Dunia yang sangat banyak populasi manusia, tapi tidak dengan kemanusiaan.

Jangan terlalu asik bersedih, sesekali berterimakasihlah.
Seperti kata Pramoedya Ananta Toer"Berterima kasihlah pada segala yang memberi kehidupan."