Arsiparis
4 bulan lalu · 82 view · 3 menit baca · Gaya Hidup 89845_69163.jpg
https://media3.picsearch.com/is?5Otl83I2PUarMMAxPonT_znR6ZNxO3oQStFL-ZCpvsU&height=191

Tahun Baru, Apanya yang Baru?

Hari Selasa tanggal 1 Januari 2019 adalah hari Selasa  yang sama dengan hari Selasa sebelumnya. Namun di benak kita akan memunculkan persepsi yang berbeda beda. Bagi kita penganut pesta pesta kedatangan Hari itu akan disambut dengan perayaan yang meriah terutama menjelang DiniHari.

Entah apa yang membuatnya berbeda. Semua telah terbius sebuah angka sebagai penanda. Toh yang dilewati selalu sama. Gelap. Ya malam itu pasti semua gelap hanya kita yang memaknai dengan maksud dan alasan yang berbeda. Padahal kita tak pernah beranjak atau bergeser. Bahkan jika penanda itu tak ada di manakah durasi itu.

Bagi kita semua hari hanyalah putaran waktu siang dan malam. Bila siang kita berjumpa matahari dan bila malam kita berjumpa sang rembulan. Tidak ada yang berbeda,  begitu terus sejak dulu. begitu pula bulan dan tahun semua tetap sama tak ada yang berubah.

Setelah tiga puluh hari kita menyebutnya bulan karena bulan beredar tepat tiga puluh hari dia akan berposisi di titik yang sama. Dan setelah dua belas kali bulan beredar kita menyebutnya tahun. Ya.,,, hidup ini hanya berkutat dengan hitungan pergantian peredaran matahari dan bulan.

Manusia memang suka mencari penanda untuk menandai sesuatu apalagi tentang waktu. Mereka seolah tak mau terlewatkan  bahwa ada durasi yang harus ia pahami agar hidup ini mempunyai arti. Kita memang senang dengan tanda tanda. Untuk memudahkan daya ingat dan patokan kita perlu tanda.

Kalender adalah tanda tanda untuk kita. Ada hari dan jam yang kita pecah pecah dan kita golongkan sesuai dengan keinginan kita. Kalender hanyalah symbol kosong jika hanya dibanya sebagai penanda. Kitalah yang harus membuatnya berisi.  

Manusia mempunyai persepsi menganggap sesuatu yang berganti menjadi baru padahal sesungguhnya itu adalah cara mereka mengisi hari. Sesungguhnya cara mengisi hari  itulah yang baru karena hari akan berlalu seperti mereka tahu, siang dan malam.


Bagi orang yang tidak punya kreasi dan kreativitas mengisi hari mereka akan merasa hidup dalam perjalanan waktu yang itu itu saja. Relativitas karena penanda yang begitu jelas diukur dan dihitung, membuat durasi begitu lama terjadi.

Bagi orang dengan banyak aktivitas, setiap hari adalah parameter acuan apakah hari ini lebih baik dari hari kemarin. Pergeseran detik demi detik pun menjadi nisbi dan relative. Waktu seakan tak pernah cukup dan begitu cepat berganti.

Banyak yang terlena dengan perayaan tahun baru. Padahal setahun yang berlalu adalah waktu yang mungkin tak lebih dari masa lalu saat itu tak menghasilkan sesuatu. Seringkali malah mereka tak punya rencana dengan apa yang akan dilauinya di pegantian angka 1 Januari itu.

Kalau waktu itu adalah pedang, kita sebenarnya terlena saat menyambut pedang yang datang. Kita berpesta untuk apa? Jika kita tidak mahir atau bisa menggunakannya. 

Ada sebuah hadist nabi yang mengatakan bahwa barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi, sedangkan orang yang Hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang celaka.

Memaknai hadist tersebut apakah kita akan memilih persepsi yang sama akan datangnya hari baru atau kah kita mampu menciptakan persepsi yang baru akan datangnya hari baru tersebut. Tentunya karena kita berpersepsi akan sesuatu yang baru alangkah baiknya jika kita harus mempersiapkan dengan hal hal baru yang lebih baik dari hari yang telah berlalu itu.

Dan kita berharap semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung itu. Keberuntungan tidak akan menimpa orang yang tak bergerak. Bergerak dan berubah adalah bagian dari ikhtiar yang akan menemukan kita dengan keberuntungan.


Kesempatan harus diciptakan dengan cara cara baru. Inilah sejatinya memaknai kebaruan. Segala yang baru selalu ada karena ada perpindahan dari yang lama menuju ke bagian berikutnya yang lebih muda. Jejak yang tertinggal tak akan kembali bahkan mungkin hilang namun terus membuat jejak baru yang lebih membekas adalah kesempatan menjadi abadi.

Tahun 2019 adalah tahun pemilu. Ada pemilihan presiden dan legislatif di sana. Ada yang membuatnya menjadi tanda pagar yang riuh di media sosial. Semoga kita tidak terlena karena setiap penanda selalu bermakna dua; tanda bahagia atau derita. Dan semoga kita bisa selalu bersyukur jika menemui salah satunya.

Sekali lagi, sekedar mengingatkan bahwa menyambut tahun baru pada Senin malam   (31 Desember 2018) kemarin bukanlah sebuah ajang pesta belaka. Apakah kita mampu menjadikannya baru dengan ide ide baru yang tentunya lebih baik dari yang lalu. Jangan sampai kemeriahan pesta tahun baru mengalahkan kegairahan kita untuk mengisinya dengan hal hal baru. Semoga.

Happy New Year 2019

Artikel Terkait