Adalah peran Julius Cesar menyebarluaskan penanggalan baru (Masehi) yang didasarkan atas revolusi matahari pada tahun 45 Sebelum Masehi. Setiap tanggal 1 Januari dirayakan sebagai Tahun Baru Masehi. Sebenarnya perayaan telah dilakukan sebelumnya, namun dengan kekuasaan yang dimiliki Cesar, budaya ini berkembang pesat.

Sebenarnya perayaan ini telah terlebih dulu dilakukan oleh penduduk Mesopotamia yang merayakan pergantian tahun saat matahari tepat berada di atas katulistiwa, atau tepatnya 20 Maret. Namun pada perkembanganya budaya untuk menandai berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya kreasi bangsa Romawilah yang mendunia sampai sekarang ini.

Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memperingati perayaan ini. Intinya adalah pesta dengan keluarga, sahabat, atau komunitas. Taburan kembang api dilangit menambah sukacita perayaan pergantian tahun. Semua bergembira, semua berpesta, walapun tak semua berbahagia. Ada sedikit resolusi yang terbersit saat selesai pesta. Semua memantapkan ikrar janji pada diri sendiri demi perbaikan di tahun berikutnya.

Jauh dari hingar bingar perayaan tahun baru masehi, di negeri Hindustan pada Era Syaka yang dimulai pada tahun 78 Masehi terbitlah suatu penangggalan yaitu Tahun Saka. Penanggalan ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah atau candra-surya yang juga dikenal dengan penanggalan luni-solar. Penanggalan ini menggunakan fase bulan sebagai acuan utama namun juga menambahkan pergantian musim di dalam perhitungan tiap tahunnya.

Dengan perjalanan beratus - ratus tahun lamanya maka sampailah konsep ini di Pulau Bali. Namun Penanggalan Saka Bali tidak sama dengan Penanggalan Saka dari India.  Penanggalan Saka di Bali adalah penanggalan yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal.

Sama seperti Tahun Masehi, Tahun Saka di Bali juga melakukan ritual Tahun Baru. Tahun baru bagi Kalender Saka Bali, diperingati sebagai hari raya Nyepi, bukan jatuh pada sasih Kasa atau bulan pertama, tetapi pada sasih kesepuluh yang dikenal dengan Kadasa.

Perasaan Tahun baru masehi dilaksanakan keramaian masif diseluruh dunia. Berbanding terbalik dengan Perayaan Nyepi sebagai tanda Tahun Baru Saka di Bali. Hingar bingar perayaan Tahun Baru Masehi sangat kontras dengan perayaan Nyepi yang sunyi (sipeng).

Jika kita teliti lebih lanjut, maka kedua tradisi ini akan masuk kedalam porsi agama penyertanya. Hal yang sangat sensitif menilik beda sudut pandang setiap kalangan pada masalah ini. Akan lebih bijak rasanya jika yang kita kupas adalah esensi dari dua kebudayaan ini.

Rasanya kedua hal ini sangat berkaiatan terutama pada perayaan Tahun Baru Masehi kali ini. Pesta dan keramaian akan sulit ditemui kali ini. Pandemi telah merubah segalanya termasuk perayaan Tahun Baru.

Penerapan Protokol Kesehatan yang ketat mebuat kerumunan yang identik dengan perayaan Malam Tahun Baru mustahil dilakukan. Pesta kembang api, riuh rendah suara terompet, denting gelas selebrasi, arak - arakan di jalan - jalan protokol, semua seperti bayangan masa lalu; hanya dapat dikenang.

Kebun binatang, mall, ruang rekreasi sepertinya akan seperti mati suri. Diskon besar - besaran untuk menarik pengunjung agar dapat menutupi operasional berbagai wahana atau konsumsi binatang pada kandang - kandang yang mulai kurang terawat. Mungkin pula untuk sekadar menutupi kerugian lebih jauh.

Pedagang asongan yang dulu bertaburan disetiap sisi keramaian seakarang harus hidup bagaikan pencuri. Mencuri waktu agar dapat bertahan, dan kalau telah lewat waktu yang ditentukan, harus bersiap melihat lapak dibongkar yang berwenang.

Tidak ada perang maupun kerusuhan yang mebuat segalanya menjadi genting. Efek pandemi ternyata sanggup melumpuhkan setiap ruang usaha umat manusia saat ini. Perjalanan mencari racikan vaksin terbaik belum dapat memberikan efek yang signifikan bagi kita. Malah justru ketakutan akan side effect dari vaksin itu sendiri yang mencuat ke permukaan.

Selama ini kita terlalu egois. Sebuah perayaan yang kerap tidak manusiawi. Sampah yang bertebaran, hidangan yang mengutamakan kepuasan rasa dan bukan asas maanfaat telah merusak keseimbangan. Alasan ekonomis telah mengenyampingkan sisi sanitasi. Banyak cara curang dilakukan untuk menyulap bahan makanan agar tahan lama, bukanya bermanfaat malah menjadi racun yang pelan - pelan menggerogoti kita dalam kepalsuan rasa yang nikmat.

Sebuah perayaan juga kadang malah bertolak belakang dengan esensi resolusi itu sendiri. Ingin menjadi pribadi yang lebih baik, dirayakan dengan mabuk - mabukan.

Disinilah kita perlu mawas diri. Memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang mumpuni. Tentu muaranya adalah komunitas yang mempunyai kesadaran bersama untuk saling menjaga.

Sebuah perbedaan sekarang kita rasakan, bukan oleh kita, namun oleh murka alam. Sebuah selebrasi hanya perlambang kebiasaan, bukan esensi awal sebuah keyakinan. Jika selama ini kita rayakan pergantian tahun dengan keramaian, maka sekarang kita rayakan dengan kesederhanaan plus kehati - hatian untuk dapat survive.

Sebuah konsep sipeng telah mengajarkan kita tentang mengutamakan resolusi diatas selebrasi. Dengan keheningan kita dapat berfikir lebih jernih untuk dapat segera mengakhiri pandemi ini agar tidak berkepanjangan. Bukan isapan jempol semata, konsep ini telah mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Bahkan beberapa kalangan sengaja mencari atmosfer sipeng ini pada saat perayaan Nyepi.

Sekali lagi, mengapa momen Tahun Baru kali ini kita tidak mengadaptasi konsep sipeng ini? Hentikan semua prasangka, hentikan kegaduhan, kendalikan diri, dan fokuslah pada satu titik; introspeksi diri.

Ingatlah selalu bahwa ini hanyalah sebuah konsep, ingatlah konsep itu dapat dipadukan sesuai dengan situasi yang berkembang. Konsep tidak pernah memberi judgement antara mana yang lebih baik dan mana yang kurang laik.

Mari berfokus pada sipeng dengan rentetan pengendalian dirinya, agar alam kembali memberikan manfaat bagi kita semua. Selamat Tahun Baru 2021!