Beberapa daerah di Indonesia sudah mengakhiri Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan mencoba memberlakukan new normal atau masa transisi. Banyaknya tempat yang ditutup seperti masjid, tempat ibadah, dan perkantoran sudah mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa. Namun ada satu pertanyaan yang sering dipertanyakan masyarakat, yaitu masuk sekolah kapan?

Rencananya tahun ajaran baru 2020/2021 dimulai pada 13 Juli 2020 mendatang. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, sudah mengumumkan syarat dan mekanisme pembukaan sekolah di masa pandemi Covid-19 pada Senin (15/6/2020) pukul 16.30 WIB.

Tidak semua sekolah diperbolehkan Nadiem Makarim untuk memulai kegiatan pembelajaran di tengah Covid-19. Ia juga menjelaskan ada beberapa syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh pihak sekolah jika ingin melakukan pembelajaran secara langsung atau tatap muka. Tak hanya itu saja, ia juga menyebutkan peran orang tua dalam keputusan pelaksanaan kegiatan sekolah secara langsung.

Menyiapkan Sekolah Era New Normal

New normal merupakan pola hidup baru ketika manusia telah menerima kenyataan bahwa kita sedang hidup berdampingan dengan Covid-19.

Seperti yang kita ketahui, memang tidak semua sekolah bisa melakukan pembelajaran secara langsung. Seperti yang dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) kita, bahwa hanya lembaga pendidikan di zona hijau saja yang dapat memulai kegiatan belajar tatap muka, itu juga harus disertai protokol kesehatan yang ketat.

Apa aja sih yang harus disiapkan pengelola sekolah?

  1. Pengelola sekolah harus membersihkan lingkungan sekolah dengan menyemprotkan disinfektan.
  2. Melengkapi sarana dan prasaranan untuk kegiatan mencuci tangan di setiap kelas.
  3. Mensosialisasikan gerakan new normal kepada orangtua/ wali murid dan komite sekolah agar mendukung gerakan tersebut.
  4. Menjalin kerja sama dengan dinas kesehatan dan meminta tenaga kesehatan minimal perawat untuk berada di lingkungan sekolah setiap satu minggu sekali guna melakukan pemeriksaan peserta didik, dengan tujuan bila ada peserta didik menunjukkan gejala Covid-19 dapat segera dirumahkan.
  5. Guru membuat jadwal untuk mengontrol sosial distancing peserta didik selama didalam lingkungan sekolah.
  6. Kepala sekolah beserta wakil kurikulum dan kesiswaan, membagi jumlah peserta didik dalam satu kelas menjadi dua bagian, dengan tujuan agar penerapan sosial distancing di dalam kelas dapat dijalankan dengan baik.
  7. Melaksanakan proses pembelajaran dalam dua shift atau dua gelombang, pagi dan siang.

Strategi dan Penerapan New Normal

Dari kebijakan yang disebutkan di atas, memang harus ekstra keras dalam menjalankan dan menerapkan kebijakan ini. Wacana penerapan new normal pastinya berdampak pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah.

Seperti penerapan sistem shift sesuai jumlah kelas akan diterapkan dalam masa baru menghadapi pandemi ini. Tetapi model shift ini merupakan kerangka besar harus berdasarkan peningkatan skill dan strategi pembelajaran guru-guru, agar shift dan kerangka besar ini bisa diisi secara variatif.

Bukan hanya peningkatan skill dan strategi pembelajaran para guru yang harus ditingkatkan, dari segala kebijakan yang diambil pasti akan berdampak pada ketersediaan dana.

Maka dari itu, pihak dinas harus berkoordinasi dengan kepala sekolah dalam hal penyediaan sarana dan prasarana pendukung selama masa pandemi di sekolah demi berjalannya kebijakan new normal. Pasti pihak sekolah juga harus menyediakan hand sanitizer dan masker, dan juga menyediakan sabun cuci tangan di setiap kran masing-masing kelas.

Pro dan Kontra

Pelaksanaan pola hidup baru pada masa new normal ini, apalagi pada bidang pendidikan tanpa adanya dukungan kuat dari masyarakat berupa kepatuhan dan kedisiplinan atas ketentuan berlaku, tentu saja akan mengalami kesulitan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 34 provinsi.

Dalam merealisasikan kebijakan apa pun, tentu akan menimbulkan pro-kontra. Apalagi dalam kebijakan baru pada bidang pendidikan ini, pasti banyak orang tua yang khawatir terhadap kesehatan peserta didik selama di sekolah.

Agar mengurangi rasa kekhawatiran orang tua ketika anak berada di sekolah, orang tua harus membekali masker, hand sanitizer, membawa bekal makanan dari rumah, selalu mengingatkan anak untuk mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan sesama peserta didik di sekolah akan menjauhkan mereka dari tertular pandemi.

Usaha pihak sekolah untuk memberikan jaminan kesehatan selama peserta didik berada di sekolah tidak akan ada artinya bila tidak didukung orang tua dan dimulai di lingkungan rumah masing-masing, melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat.

Bukan hanya di kalangan orang tua, di kalangan guru sendiri pro dan kontra pasti ada. Seperti tentang kebijakan mengajar dua gelombang dalam satu kelas pasti ada. Maka dari itu, guru memang harus benar-benar meningkatkan skill dan strategi pembelajaran agar lebih variatif.

Namun, jika kita memang menginginkan gerakan new normal pendidikan ini berjalan dengan baik maka mau tidak mau, suka tidak suka kita harus tetap dengan cara ikut melaksanakannya agar mencapai tujuan yang kita ingini.