Kapan kita bisa melempar senyum tanpa masker? Kapan kita mulai bersalaman dan merangkul sesama tanpa mencuci tangan? Sampai di pengujung 2020, cita-cita ini tetap menjadi harapan. Tahun baru 2021 akan tiba. Di sana kita tetap melibatkan 2019 dan 2020. Pandemi Covid-19 tetap terlibat saat tahun baru menuju tiba. 

Dari awal instal 2020 hingga masa expired di pengujung Desember kita tetap berharap. Yang paling utama menuju tahun baru adalah soal kesiapan. Inilah (kesiapan) kegagalan yang mengarantina kita di sekujur 2020. “The big problem and outbreak in 2020 is unready.” Siapkah kita menyosong tahun 2021?

Tahun 2020 hampir usai. Hari ini, kita memasuki hari terakhir dari rentang tahun 2020. Besok adalah hari transisi, hari menanti pergantian. Kita perlu mengemas semua persiapan menuju tahun yang baru. Tak terasa kita berada di pengujung. Apa yang sudah dibuat? 

Peristiwa apa yang sudah kita lalui bersama? Keberhasilan apa yang sudah kita capai? Seberapa banyak kegagalan yang telah kita alami? Siapa yang sudah pernah kita bantu? Bagaimana dengan komitmen kita ketika memasuki tahun 2020 kemarin? Adakah komitmen baru yang akan dibuat menyambut tahun yang baru?

Tahun 2020 memang dberi banyak label. Ada yang bilang tahun 2020 adalah tahun sial, tahun malapetaka, tahun paling sempit ruang geraknya, tahun bangkrut, tahun wabah, tahun paling polemik, tahun lama karena tak ada yang baru, tahun titipan tahun sebelumnya karena selalu dilatari pandemi Covid-19. 

Akan tetapi, bagi orang-orang tertentu, tahun 2020 adalah tahun peluang, tahun mengembangkan kreativitas, dan tahun inovatif. Dengan latar pendemi Covid-19, banyak orang berusaha menemukan cara-cara baru untuk survive, bekerja, berdinamika, berbisnis, belajar dan berusaha menemukan strategi baru yang menunjang kemajuan.

Di sekujur tahun 2020, ada begitu banyak peristiwa, baik nasional maupun global terjadi. Akan tetapi, semua peristiwa ini diberi latar khusus: pandemi Covid-19. Semua lini kehidupan disedot-habis oleh musibah mundial ini. Tak ada yang mampu melawan. 

Petugas kesehatan sebagai mesin utama penantang wabah ini justru takluk. Ketika dunia kesehatan tak berstamina melawan pandemi, sektor-sektor lain pun ikut roboh. Ekonomi lumpuh, bisnis ambruk, pekerjaan hilang, Tuhan serasa jauh, pendidikan kacau. Semuanya ambruk diterpa badai pandemi Covid-19.

Apa yang tersisa? Yang tersisa justru harapan. Berharap pada tim medis, berharap pada pemerintah, berharap pada orang-orang baik, berharap pada Tuhan, berharap pada tetangga, berharap pada anak, isteri-suami, berharap pada vaksin, dan tentunya berharap pada kemajuan teknologi. Jawaban dari liang harapan ini beragam. Ada yang antusias dan ada juga yang apatis.

Secara global tahun 2020 dibuka dengan kehadiran virus korona baru yang mucul pertama kali di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Di bulan Januari, secara nasional Indonesia mengalami situasi memanas di sekital Kepulauan Natuna. Perebutan zona perairan laut membuat Indonesia dan Cina adu kekuatan. Pada bulan Februari, negara-negara di seluruh dunia menanggapi secara serius penyebaran virus corona. 

Beberapa negara di sekitar wilayah Cina mulai memberlakukan proteksi wilayah dengan istilah beragam, seperti karantina wilayah, cek suhu, mekanisme lockdown. Indonesia kala itu ikut membuat kebijakan. Seluruh warga negara Indonesia di Cina, khususnya di Wuhan, dijemput dan dikarantina.

Pada bulan Maret 2020, Indonesia dikejutkan dengan berita tiga pasien positif virus korona. Hal ini membuat masyarakat Indonesia panik. Semua lini kehidupan tiba-tiba berubah. Mekanisme karantina wilayah, lockdown total, pembelakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di banyak tempat. 

Semua panik. Di bidang ekonomi, muncul pandemi panic buying. Masyarakat berlomba-lomba membeli kebutuhan pokok untuk ditimbun. Pengetatan sistem surveilans daerah maupun warga ditingkatkan. Alhasil, banyak orang kehilangan segala-galanya.

Dari Maret – Juni 2020, peningkatan pengetatan protokol penanganan Covid-19 dibidik serius. Indonesia kemudian membuat satu senjata khusus menangani pandemi ini, yakni Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Semua orang dianjurkan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Pandemi masker dan handsanitaizer merebak di seluruh dunia. Dari wilayah yang paling terisolasi hingga wilayah perkotaan menerapkan kebijakan siaga satu lawan Covid-19. Beberapa lorong dan jalan-jalan tertentu diberi pembatas: “Maaf sedang lockdown!”

Rentang waktu Maret menuju Juni memang menjadi ruang horor. Di mana-mana kita menyaksikan ada begitu banyak polemik yang terjadi di berbagai tempat, baik global maupun regional. Di beberapa negara, pengerahan kekuatan aparat keamanan dalam penanganan Covid-19 terjadi secara brutal. Bahkan, mereka yang hendak pulang kampung saja, ditolak warga kampung dan keluarganya sendiri. 

Pasien Covid-19 dan petugas medis mendapat perlakuan diskriminasi dan kerapkali mendapat penolakan dari warga. Mereka yang meninggal dengan diagnosis Covid-19 dikuburkan dengan cara yang “kurang manusiawi.” Bentrok antara warga dan petugas medis juga kerap kali terjadi. Selain bentrok antara warga dan petugas medis, bentrok sesama warga terkait penanganan Covid-19, juga semakin memanas dan diperparah.

Ekonomi rapuh. Bisnis gulung tikar. Buruh di-PHK dan kehilangan pekerjaan. Rumah-rumah ibadah dikosongkan. Bioskop tutup. Pusat perbelanjaan tak lagi dikunjungi. Institusi pendidikan memberlakukan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tempat wisata sepi. Ramai-ramai pulang kampung. 

Setiap hari, warga di dunia hanya disuguhi menu grafik perkembangan penyebaran Covid-19. Pasien positif naik, pasien sembuh naik, dan pasien meninggal berjumlah demikian. Hari-hari, kita mencicipi angka positif, sembuh, dan mati. Itulah yang terjadi selama rentang Maret menuju Juni.

Akan tetapi, pada bulan Juni, para akademisi mulai optimis dengan berbagai jenis analisis dan hasil riset. Katanya, pandemi ini akan pelan-pelan melandai pada periode Agustus 2020. Pada bulan Oktober, semua warga akan kembali ke situasi normal. Banyak orang menaruh harapan besar dari berbagai jenis riset ini. 

Benarkah? Alih-alih membuat dunia kembali normal, yang muncul justru istilah “new normal” – sebuah tatanan kehidupan baru dengan tetap memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Prediksi meleset. Kita tetap dikurung pandemi Covid-19.

Pada bulan Juni pandemi Covid-19 menyerang negara Italia, Amerika Serikat, Brazil, dan Spanyol secara brutal. Angka pasien positif dan angka pasien meninggal melonjak drastis. Informasi seputar Italia menjadi trending topic untuk beberapa pekan. Semua informasi ini membuat kita semakin pesimis terkait cita-cita hidup normal bebas Covid-19. 

Sementara kurva pasien Covid-19 meningkat, dunia dihebohkan dengan polemik rasis di Amerika Serikat. Pria berkulit hitam Afro-Amerika, George Floyd meninggal karena ulah polisi kulit putih. Polemik ini menimbulkan getaran kepedualian di seluruh Amerika dan dunia. Demostrasi besar-besaran pun terjadi di Amerika Serikat menuntut keadilan atas warga kulit hitam.

Dari Juni ke Agustus, menjadi spasi yang cukup tenang. Berbagai kebijakan PSBB mulai dilonggarkan. Beberapa pusat perbelanjaan mulai dibuka. Orang mulai berhamburan keluar rumah. Tatanan baru bernama “new normal” membuat warga dunia sedikit senang. Lini transportasi mulai dibuka kembali. Mobilisasi warga mulai meningkat. 

Akan tetapi, pada bulan September 2020 polemik baru muncul, yakni kehadiran aliansi baru di dalam tubuh NKRI. Sebuah gerakan bertajuk Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) bentukan Din Syamsuddin dan Gatot Nurmantyo menghentak bangsa Indonesia. Untuk apa koalisi ini dibuat? Gerakan KAMI ini membuat orang was-was dan curiga dengan isu persatuan dan kesatuan di Indonesia.

Belum selesai dengan kehadiran KAMI, Indonesia dilanda pandemi kerumunan. Pada Oktober 2020, banyak buruh dan mahasiswa turun ke jalan untuk menolak pengesahan UU Cipta Lapangan Kerja (Omnibus Law). Potret demostrasi kala itu bak tak ada beban. Semua orang berama-ramai turun ke jalan untuk ikut berdemonstrasi menentang pemerintah. 

Problem menjadi heboh karena terjadi di saat dimana dunia dan Indonesia sendiri tengah tertatih-tatih menangani pandemi Covid-19. Kala itu, petugas medis bungkam. Tak ada yang bisa mengendalikan kerumunana massa kecuali para penunggang dan provoktator perusak negeri. Oktober menjadi waktu menguji kewarasan dan kecerdasan kita sebagai sebuah bangsa yang  cerdas, bersatu, dan maju.

Ujung Oktober 2020 rupanya lebih runcing. Di Prancis, kontroversi karikatur Nabi Muhammad mendulang perhatian dunia. Dari perang personal, tiba-tiba isu ini mengglobal. Di mana-mana Prancis dihina. Beberapa produk Prancis diboikot di beberapa negara terutama negara mayoritas Muslim, seperti Indonesia. Dari tajuk Charli Hebdo, polemik isu agamis masuk ke ruang-ruaang politik dan ekonomi.  

Pindah ke bulan November 2020, berita kepulangan Muhammad Rizieq Syihab menjadi polemik nasional. Mulai awal November, Habib Rizieq menjadi trending topic di media sosial. Massa berbaju putih meneriakkan “Takbir Allahuakbar” sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap si cucu Rasullulah. Alhasil, pada 11 November 2020 Bandara Soekarno-Hatta banjir manusia berbaju putih. 

Kerumunan tak lagi dihiraukan. Apa yang penting adalah membuat kericuhan. Sang pencetus revolusi akhlak hadir dijemput massa membeludak. Ini juga menjadi ujian bagi kita sebagai seorang warga negara yang cerdas dan bijak. Secara global, dunia juga dikejutkan dengan berita kemenangan Joe Biden atas penantangnya Donald Trump. Berita kemenangan Biden menjadi angin segar bagi situasi politik-ekonomi global, tak terkecuali Indonesia.

Polemik rupanya tak berakhir. Di bulan terakhir tahun 2020, beragam persoalan tetap mengular dan siap mengantri hingga detik-detik terakhir pelayaran. Ada kasus korupsi, ada video viral, ada pilkada, ada sengketa pilkada, ada penangkapan, ada aksi baku-tembak, ada FPI, ada pergantian menteri dan polemik salam Natal. 

Semuanya ini menghiasi tubuh Desember. Meski hampir di pengujung 2020, ruang gerak dunia dan nasional tetap gaduh. Tahun 2020 dengan demikian tetap menjadi tahun polemik dari awal diinstal hingga waktu expired. Hampir semua waktu diisi dengan polemik.

Lalu apa yang perlu untuk tahun berikutnya? Tahun 2021 adalah tahun harapan bagi kita semua. Kita berharap pertama-tama semua tatanan kehidupan sosial bisa kembali seperti semula. Sekolah mulai dibuka, rumah ibdah mulai terisi, pusat perbelanjaan mulai ramai, tempat wisata mulai ramai, dan semua orang bisa saling melempar senyum tanpa masker dan bersalaman tanpa mencuci tangan. 

Inilah harapan yang akan diinstal pada tahun 2021. Dan semuanya ini kembali pada satu hal, yakni kesadaran pribadi dan adanya vaksin. Kita berharap harapan mengenai vaksin ini bisa terbukti dan membawa perubahan pada tahun 2020.