Sebenarnya ketika memiliki keahlian design terutama design grafis merupakan bonus tersendiri, mengingat tidak semua orang dapat melakukannya. Entah itu suatu bakat atau pun memang kebutuhan, sehingga dapat menjadi minat untuk design grafis.

Pekerjaan seorang design grafis bukanlah hal sepele, tentu sangat diperlukan kemampuan untuk berimajinasi yang tinggi, kreativitas yang mendalam dan kesabaran untuk mengolahnya di depan laptop. Karena pada dasarnya design pasti berbicara keindahan dan kerapian, supaya mata juga tidak sakit ketika memandangnya. Walaupun ada hasil design yang terkadang membuat mata kita tidak mampu bersahabat saat dipertemukan.

Mungkin ada yang berfikir bahwa ketika memiliki keahlian design grafis, maka sebagian dari kebutuhan kita akan lebih mudah dicapai. Karena tidak perlu repot meminta bantuan pada saat kita membutuhkan design seperti design produk, pamplet dan kebutuhan lainnya. Hanya butuh modal laptop saja, lalu bergegas duduk untuk fokus dalam mengerjakan design sesuai kebutuhan.

Sebenarnya keahlian design grafis di era sekarang ini sangatlah dibutuhkan. Mengingat era 4.0, manusia-manusianya dihadapkan dengan tekhnology canggih termasuk media sosial. Sehingga media sosial saat ini sudah menjadi kebutuhan untuk memperoleh informasi dan juga biasa digunakan dalam mendapatkan money.

Dengan itu tentu peran seorang design grafis akan amat banyak, mengingat kebutuhan orang pun terus meningkat. Lihat saja hasil design seperti microblog, infografis, pamplet maupun baliho, itu banyak kita jumpai di media sosial maupun dunia nyata. Maka berbanggalah bagi mereka yang memiliki keahlian design grafis, karena itu dapat menjadi profesi yang bisa menghasilkan uang.

Itulah dari segi positifnya, terutama jika sudah dijadikan sebagai pekerjaan permanen. Namun, ada juga yang perlu kita bahas, bahwa ketika kita memiliki keahlian design ternyata ada juga yang tidak enakannya. Ya, memang enakan sih kalau selesai pekerjaan design, terus ada juga biaya-biaya capeknya gitu. Tetapi, jika yang terjadi hanyalah ucapan “terimakasih banyak ya, designnya sangat mantap”. Apa mau dikata, pasti kita hanya mampu menjawab “sama-sama”.

Sesama manusia memang harus dapat hidup untuk saling membantu, tetapi jika hal tersebut yang terus-menerus dilakukan, justru yang timbul adalah kemalasan dan gejolak dalam diri. Karena sadar atau tidak ada hal lain yang menjadi tanggungjawab kita untuk diselesaikan dan hidup itu pasti selalu ada kebutuhan dan keinginan terus.

Biasanya banyak terjadi dalam suatu komunitas atau pun organisasi, bagi mereka yang memiliki keahlian design grafis, harus siap-siap untuk terus dimintai bantuan. Entah itu design baliho kegiatan, pamplet ucapan selamat dan bermacam-macam lagi permintaan yang mungkin tidak mampu kita duga-duga.

Walaupun itu tidak apa-apa juga sih, hitung-hitung dapat beramal sebagai bekal untuk di akhirat nanti. Eits, kanapa malah ngomongin akhirat sih, seperti sudah mau tutup usia saja. Ampun ya Tuhan, jauhkanlah sifat kekhilafanku ini.

Sebenarnya, masalahnya bukan itu melainkan kondisinya yang tidak mampu dipahami, seperti ketika ada tugas-tugas lain yang menumpuk terus banyak juga pesanan design, maka itu pastilah memusingkan. Menolaknya juga tidak enakan, apalagi kalau yang memesan itu teman akrap atau orang-orang yang memang kita istimewakan baik itu teman organisasi, kampus atau pun dosen dan masih banyak lagi orang-orang yang kita anggap penting.

Itu disebabkan bukan karena kita tidak mempunyai sifat ketegasan dalam diri, melainkan ada hubungan emosional yang mengikat. Sehingga kita pasti selalu berupaya untuk membantu, meskipun tugas-tugas juga menumpuk seperti gunung.

Hal yang biasa menyebalkan ketika belum kelar satu design, terus ada lagi permintaan yang baru. Sementara tugas-tugas kampus pun semakin mendekati deadline, tentu akan ada resiko jika  tugas kampus tersebut tidak diselesaikan juga. Ditambah lagi kalau pesanan design terus mendesak.

Maka kondisnya kita juga akan semakin terdesak seperti halnya sedang dikejar anjing. Ujung-ujungnya hasil design pun tidak terlalu memuaskan. Selain itu, hal menyebalkan juga kalau hasil design yang sudah kita kerjakan, malah  tidak sesuai dengan selera yang memesan.

Ketika kita sudah mendesain sedemikian cantik menurut pandangan kita, tata letak yang sudah pas, kontras warna sudah terkolaborasi dan pemilihan font sudah oke. Tetapi ada saja kejadian minta di revisi dan revisi berdasarkan kemauannya saja, seakan bertindak bahwa dialah yang menjadi operator dalam mengerjakan design. Bukannya kita tidak menerima kritikan ya.

Kita jadi pusing, karena konsep yang kita sudah tuangkan tidak mampu diterima dengan mulus. Sulitnya adalah karena kita mendesign yang bukan pemikiran kita sendiri, padahal sejatinya seorang designer itu dibebaskan untuk berinovasi dan berkreasi sendiri. 

Karena setiap designer pasti memiliki daya dan cara kreasi sendiri yang berbeda dengan orang lain. Ujung-ujungnya adalah hasil design berantakan dan kocar-kacir, kita pun jadi bingung dan bisa saja emosian sedikit.

Olehnya itu, kalau kita memang tidak tahu design, janganlah terlalu banyak berkomentar. Biarlah seorang designer sendiri yang berinovasi berdasarkan caranya sendiri. 

Bukan berarti mereka tidak mau menerima kritikan ataupun saran. Melainkan kita harus sadar bahwa pekerjaan seorang designer tidak cukup mengandalkan tenaga saja, melainkan harus dibarengi dengan pemikiran yang kreatif dan merdeka dengan penuh keindahan juga kecantikan.