Baru-baru ini pondok pesantren putri tempat saya mengajar menyelenggarakan kegiatan Taftisy Kutub. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh santriwati kelas akhir (kelas 12 tingkat SMA) ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang sudah menjadi kebiasaan (sunnah) pondok.

Sesuai namanya (pemeriksaan buku-buku), dalam kegiatan ini para guru memeriksa apakah para pelajar putri itu masih menyimpan buku-buku pelajaran beserta buku-buku catatan yang mereka gunakan selama menempuh pendidikan sejak awal masuk pondok hingga masa menjelang lulus sekolah.

Buku yang masih tersimpan dengan baik seumpama ilmu dan pengetahuan yang terjaga lagi lestari. Simbolisasi itulah yang memang menjadi esensi Taftisy Kutub.

Selain buku ajar beserta buku catatan pelajaran, para guru juga mendata apakah santriwati juga memiliki bacaan tambahan, yang dalam kegiatan Taftisy Kutub dikhususkan pada buku-buku penunjang pelajaran (al-kutub al-musannidah li al-dars) dan buku-buku islami (al-kutub al-islamiyah). Sayangnya, ini hanya sekedar pendataan tambahan.

Sungguh lebih disayangkan lagi, ternyata sedikit sekali santriwati yang memiliki buku-buku tambahan itu. Bahkan, kebanyakan santriwati boleh dibilang tidak punya buku lain selain buku pelajaran.

Mungkin terlalu dini, tapi sepertinya hal itu dapat menjadi gambaran bahwa santriwati belum memiliki minat yang tinggi untuk membaca buku, apalagi memilikinya. Jikapun ada minat, bacaan santriwati nampaknya hanya terbatas pada buku-buku pelajaran.

Saya kira fenomena rendahnya minat baca para siswa terlihat di banyak lembaga pendidikan, keadaan yang seakan menegaskan rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia sebagaimana banyak riset indeks literasi menyimpulkan. Bagi para guru, pendidik dan orangtua persoalan ini dirasa memprihatinkan.

Tidak sedikit riset menunjukkan itu dan tidak sedikit pula periset menjabarkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya minat baca para siswa. Kebanyakan riset dan artikel-artikel, baik ilmiah maupun populer, kerap menyebut penggunaan internet dan media sosial di kalangan remaja menjadi faktor paling dominan yang mempengaruhi tingkat literasi siswa.

Peran Sekolah

Tapi bagaimana dengan lembaga pendidikan sendiri? Sejauh mana upaya sekolah meningkatkan minat baca siswa? Fenomena berikut boleh jadi terjadi di banyak lingkungan sekolah, sebagaimana yang saya amati dan alami di lingkungan tempat saya bertugas.

Hampir semua lembaga pendidikan di negeri ini, jika tidak semuanya, menerapkan kurikulum yang begitu padat dan rumit. Pondok tempat saya mengajar bahkan menganut dua kurikulum: kurikulum Pondok dan kurikulum sekolah umum. Kurikulum yang padat membuat Kegiatan Belajar-Mengajar begitu sibuk, memaksa seluruh komponen Sekolah fokus mengejar capaian-capaian dan standar-standar pembelajaran.

Keadaan ini lantas menyisakan sedikit sekali ruang dan waktu bagi siswa – mungkin termasuk juga guru – untuk memperluas wawasan pengetahuan. Selain itu, karena pembelajaran dilaksanakan dalam ruang lingkup standar tertentu, warga Sekolah tergiring hanya menggunakan media pembelajaran tertentu yang ditetapkan standar, yang dalam hal ini adalah buku pelajaran.

Demi mencapai standar-standar itu, wajarlah jika suatu waktu pihak pengelola Sekolah, mau tidak mau, membatasi bacaan siswa. Sebab, membaca buku selain buku pelajaran dianggap dapat mengalihkan perhatian siswa dari pelajaran mereka di kelas. Buku pelajaran menjadi buku “resmi”.

Fakta bahwa kegiatan Taftisy Kutub mengutamakan pemeriksaan buku-buku pelajaran, sementara buku-buku lain sekedar tambahan, menunjukkan Sekolah tidak dapat keluar dari standarisasi kurikulum yang mengikat. Standarisasi kadangkala memang bisa jadi perangkap yang membatasi.

Faktor Budaya Lisan

Selain faktor media sosial dan televisi, sebagian riset seputar minat baca buku juga menyebut perihal budaya: rendahnya minat baca para siswa dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan dilandasi oleh bahwa masyarakat kita adalah masyarakat lisan. Dalam kata lain, transmisi pengetahuan masyarakat berlangsung dalam budaya lisan, bukan budaya tulis.

Kesimpulan semacam ini, menurut saya, cukup simplistis namun tidak dapat diabaikan sepenuhnya. Kita memang dapat menyaksikan dominasi budaya lisan dalam karakter pengetahuan remaja kita. Fakta yang paling kelihatan tentunya adalah kegandrungan mereka terhadap media sosial yang sebenarnya merupakan sumber pengetahuan berbasis lisan.

Jika kita sepakat akan perihal budaya lisan yang mendasari rendahnya minat baca siswa itu, ada baiknya kita mulai merancang strategi mengubah budaya tersebut di lingkungan sekolah. Para ahli sudah sejak lama menyuarakan pentingnya rancangan strategi kebudayaan ini.

Hubungan manusia dengan alam bersifat imanen sekaligus transenden. Imanen berarti manusia takluk dengan segala bentuk, kejadian dan perubahan alam. Sedangkan transenden berarti manusia juga punya keinginan dan kemampuan untuk mengubah kejadian alam. Dalam ketegangan antara imanensi dan transendensi inilah aktivitas kebudayaan manusia berlangsung.

Dalam rangka mengubah kejadian alam itu, kita perlu melacak akar-akar budaya secara kritis dalam tahap-tahap perkembangan kebudayaan manusia. Memahami proses perjalanan budaya dalam sejarah kehidupan manusia dapat membantu kita merancang strategi kebudayaan di masa mendatang. Namun untuk itu, kita perlu memenuhi satu syarat: sadar akan kebudayaan (Lihat misalnya Van Peursen, terj., 1976).

Dalam konteks budaya lisan, kedudukan dan peran penutur begitu tinggi, dan ia menjadi sumber pengetahuan utama. Di lingkungan sekolah, penutur dimaksud adalah para guru. Perilaku dan ujaran guru adalah pengetahuan dan kadang dianggap suci.

Komponen budaya lisan ini sebenarnya dapat kita manfaatkan secara kritis untuk bergerak meningkatkan minat baca siswa dan menghasilkan budaya membaca buku di lingkungan Sekolah. Karena kedudukan dan peran guru begitu penting, dan budaya kita menyatakan guru itu digugu dan ditiru, maka guru harus terlebih dahulu membangun minatnya membaca buku.

Dengan sendirinya siswa akan menggugu dan meniru budaya membaca buku para gurunya. Bagaimana guru dapat meningkatkan minat baca siswa, jika guru sendiri kurang berminat membaca buku?![]