99429_76776.jpg
Politik · 3 menit baca

Membaca Tafsir Politik Yusril Ihza Mahendra ke Jokowi

Kesediaan Yusril menjadi pengacara pasangan Jokowi-Ma’ruf mengejutkan banyak pihak. Keputusan ini dianggap kontroversial, karena selama ini Yusril selalu kontra dengan pihak pemerintah. 

Ditambah lagi hari ini Yusril masih menjadi kuasa hukum dari pihak HTI yang jelas organiasi ini menjadi musuh banyak pihak khususnya bagi pendukung Jokowi. Jelas, keputusan ini sangat mengejutkan juga bagi pendukung Partai Bulan Bintang (PBB) yang selama ini lebih banyak bersimpati kepada pendukung Prabowo-Sandi.

Selama ini juga Yusril sangat dekat dengan FPI (Front Pembela Islam) dan organisasi HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang tentu sangat kontra dengan pemerintah. Juga sejak awal Yusril mendukung Probowo walaupun keberadaannya dianggap tidak penting. Apakah ini yang menjadi faktor? Nanti dulu, mari baca ulasan ini sampai tuntas.

Secara eloktoral 2019 sebenarnya PBB tidak masuk hitungan yang lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Menurut survei yang dikeluarkan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), PBB mendapat 0,4 persen, masih kalah sama Partai Hanura yang mendapat 0,7 persen. Hal ini juga yang menjadi perhitungan partai pihak Probowo sehingga tidak memprioritaskan PBB. 

Secara personifikasi, nama Yusril masih lebih populer dari PBB sendiri. Seolah-olah juga ketika orang bicara PBB terpisah dengan sosok Yusril, karena memang nama Yusril lebih besar daripada PBB.

Bagaimana tafsir politik Yusril ke Jokowi? Secara tafsir politik, kesiapan Yusril menjadi pengacara Jokowi-Mar’ruf disimbolkan bahwa secara politik mendukung pasangan ini. Dengan begitu diharapkan orang yang selama ini menjadi simpatisan dan pendukung Yusril akan ikut memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf. Pertanyaan, bagaimana dengan para pendukung dan simpatisan PBB yang juga ada bagian dari FPI dan juga HTI?

Di sinilah tugas Yusril untuk mengonsiliadasikan secara politik dan menyakinkan para pendukungnya bahwa pilihannya ini sangat tepat. Dan ini masuk akal karena selama ini jasa Yusril sangat besar terhadap dengan beberapa ormas keagamaan. Masuknya Yusril ke kubu Jokowi seperti buah silamakama, maju kena, mundur juga kena. Namun dalam politik, sekompleks apa pun keputusan, harus diambil yang potensinya terburuk sangat kecil.

Keberadaan Yusril di kubu Probwo memang sangat kurang diharagai dan kurang dianggap penting. Hal ini wajar membuat Yusril bergabung dengan Jokowi. Peluang ini yang dibaca oleh tim sukses Jokowi untuk mengandeng Yusril. Hal itu terlihat dari ungkapan salah satu petinggi Gerindra, Andre Rosiade, mengungkapkan bahwa partainya tidak sempat memprioritaskan Partai Bulan Bintang (PBB). Kata Andre, partainya lebih memproritaskan partai yang memenuhi parliamentary threshold (ambang batas) pada barisan pendukungnya, seperti PKS, PAN, dan Partai Demokrat.

Di lain pihak, juga sudah lama bahwa Yusril selalu dikecewakan oleh SBY selaku Ketua Umum Partai Demokrat semasa di pemerintahannya. Ini menambah sederet kekecewaan Yusril di kubu oposisi. Sudah sewajarnya Yusril mengalihkan pilihannya kepada Jokowi demi masa depan politiknya, Yusril dan partainya. Hal ini menurut saya lebih menguntungkan dalam posisisi Yusril daripada bergabung dengan kubu Prabowo.

Nah, inilah yang dimaanfatkan oleh para tim kampanye Jokowi-Ma'ruf untuk mendekati Yusril. Pihak Prabowo lupa bahwa Yusril punya ego yang besar, punya nama besar yang harus dihormati agar Yusril tidak tersingggung. Mungkin Yusril ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa melakukan apa saja tanpa harus bergantung dengan pihak Probowo. Bisa jadi nanti dengan begitu akan menaikkan nilai tawar kepada Probowo, misalnya nanti ia tidak benaran mendukung Jokowi. Mari kita tunggu saja, bentar lagi MUBES (Musayawarah Besar) PBB akan dilaksanakan bulan dekat ini.

Mari kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah benar Yusril murni mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin atau Partai Bulan Bintang ingin bermain dua kaki?

Klarifikasi dari para elite PBB bahwa keputusan yang diambil oleh Yusril adalah keputusan individu, bukan keputusan partai. Menurut para elite yang lain, ini hanya sinyalemen awal, bukan keputusan final. Tapi bagaimanapun publik membaca bahwa Yusril dianggap tidak konsisten.

Tapi bagaimanapun, dinamika yang terjadi ini menjadi pembelajaran politik bagi masyarakat awan bahwa politik ini sangat dinamis dan selalu cair. Politik tidak selalu dianggap menegangkan dan saling bermusuhan. Kadang politik menjadi menghiburkan dan anekdot yang menarik.

Dinamika politik 2019 memang terasa unik. Narasi yang awal tegang kembali mencair dengan keputusan Yusril. Semua orang akan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas, kita berharap masyarakat kita semakin dewasa dalam berpolitik sehingga tidak ada perpecehan karena beda pilihan politik. Inilah yang kita harapkan, politik kebangsaan menjadi tujuan kita.