Kisah cinta segitiga sudah menjadi formula banal untuk difilmkan. Dalam kisah cinta segitiga antara seorang difabel dengan dua orang “normal” biasanya berakhir dengan kematian salah seorang sebagai pengorbanan bagi kebahagiaan pihak yang dicintainya.

Premis klasik seperti itulah yang menjadi tema umum The Gift (2018). Namun, sutradara Hanung Bramantyo memelintir premis banal itu dengan cara yang berkesan.

Tiana (Ayushita Nugraha), seorang novelis yang sudah lama tidak menerbitkan buku, tiba di Yogyakarta. Di kota itu, ia menyewa pavilion milik Harun (Reza Rahadian), seorang tunanetra.

Harun terdeskripsikan sebagai sosok emosional, menyebalkan, dan sinis. Persentuhan Tiana dengan Harun berawal tidak mulus. Namun, seiring berjalannya waktu, tangan Harun pun mulai meraba wajah Tiana. Nada suara Harun berubah semakin ramah ketika menyapa Tiana.

Latar belakang kehidupan Tiana sejak kecil menyebabkan ia merasa nyaman menyelami kegelapan dan kepahitan Harun. Sinar cahaya memang menembus kornea Tiana. Namun kepahitan membuat hidup tetaplah gelap baginya. Relasi Tiana dan Harun benar-benar dari benci menjadi cinta. Selanjutnya menjadi benci lagi kemudian menjadi lebih rumit.  

Saat kedalaman koneksi Harun dan Tiana belum sempurna terbangun, Arie (Dion Wiyoko) tiba-tiba datang. Dokter muda dari masa kecil tersebut membawa Tiana mengunjungi lagi masa lalunya. Ia menemani Tiana untuk menghadapi dan menyelesaikan kegelapan masa kecil yang berbekas hingga dewasa.

Bak seorang pangeran tampan dan baik hati yang ingin memanjakan hidup sang putri, Arie melamar Tiana. Ia menunaikan janji puluhan tahun silam, mencoba memenangkan hati Tiana. Sampai di sini, penulis naskah Ifan Ismail tampaknya memberi waktu bagi penonton untuk bernafas. Potensi konflik langsung di antara ketiga karakter ditunda.

Hubungan Harun dan Tiana tidak digambarkan lewat kata-kata manis. Eksplorasi sisi-sisi gelap dan keraguan sangat kuat terasa. Ekspresi cinta tidak disampaikan lewat cerewetnya dialog romantis. Pun tidak ada performa gairah cinta yang membara dari para karakter.

Kepahitan dan kesedihan Harun, Tiana, dan Arie pun tidak digambarkan lewat tangis penuh air mata. Emosi-emosi gelap di antara mereka tergambar lewat kemarahan, raut wajah sedih, dan kesinisan. Kegetiran dan kepedihan tidak digambarkan secara murah.

Plot maju mundur untuk menjelaskan latar belakang Tiana cukup menarik. Kemunculan Tiana kecil saat versi dewasanya menghadapi masa-masa gelap relatif nyaman untuk dinikmati. Andai saja plot serupa digunakan untuk menggambarkan kerumitan profil Harun.

Percakapan imajiner Tiana dengan Bona yang mengeksplorasi kegalauan, kerapuhan, dan sisi gelap Tiana sangat menarik. Bona adalah sahabat Tiana yang hadir dalam film ini. Percakapan imajiner dengan karakter yang hadir ini jarang digunakan oleh film-film lain.

Beberapa logika melompat dalam film ini sedikit mengganggu. Status hubungan Arie dan Tiana, misalnya, tidak terjelaskan. Sudut pengambilan kamera yang berubah pada beberapa adegan juga tidak terlalu jelas tujuannya. Perpindahan sudut kamera tersebut cukup mengganggu.

Deskripsi latar belakang kehidupan Harun tidak tereksplorasi secara seimbang jika dibandingkan Tiana. Padahal, baik Harun maupun Tiana, keduanya sama-sama punya latar belakang hidup yang penuh kegelapan. Porsi Tiana jauh lebih besar di sini.

Mood film ini suram dengan alur lambat dengan durasi 118 menit. Mood kelam memang sesuai dengan karakter-karakter film ini. Namun, alur lambat terasa cukup membosankan. Kebosanan itu akibat dari eksplorasi profil karakter-karakter selain Tiana tidak maksimal. Begitupun beberapa kisah masa lalu yang kurang terjalin kuat dengan premis utama film.

Departemen akting menjadi yang terbaik dalam film ini. Reza Rahadian bermain sesuai standarnya, akting kualitas nomor satu. Ayushita Nugraha dan Dion Wiyoko bermain cukup baik. Walaupun belum mampu menandingi Reza. Christine Hakim dalam porsi yang tidak terlalu besar, bermain memuaskan.

Secara keseluruhan, The Gift adalah film yang layak tonton. Karakter-karakter depresi, emosional, gelap, dan getir menyajikan cinta dalam tafsir yang lain. Cinta tidak ditampilkan oleh karakter-karakter yang mabuk kepayang, tapi lewat kegelapan dan pengorbanan

Peran para aktor dan aktris relatif memuaskan penonton. The Gift mampu membayar lunas tiket bioskop Anda. Bila kita sudah siap kecewa dengan kualitas “Bumi Manusia” yang akan digarap Hanung Bramantyo karena film tersebut diduga hanya akan memuaskan secara komersial, maka The Gift adalah proyek idealis dan personal Hanung.

 Official Trailer The Gift (2018)