Aku berjinjit pelan menuju tumpukan batu itu. Sungguh rapi tersulam semen. Berdiri kokoh di pesisir ini. Geospasial menyebutnya Pantai Baruna. Mataku menjeling, pastikan tidak ada yang mengawasi.

Lasak dan asa mendahului ekor mataku. Jemariku sudah terlanjur menyentuh tumpukan batu itu. Tak peduli ada beberapa pasang mata yang lagi asyik masyuk memandangiku. Ayo, telanjangi aku! Tak peduli!

Tapi jangan yang untuk ini. Yang kusentuh ini. Jangan anggap hanya onggokan batu yang berukuran besar dan kelihatan biasa-biasa saja. Seperti tumpukan batu lainnya di halaman rumah yang dipugar atau yang teronggok di pinggir jalan.

Rabalah, pahatannya begitu unik menggores kulit jemari. Ini huruf Kanji, tulisan Jepang!

Rabun matapun mampu menangkap tulisan besar itu. Kalian tak dipaksa untuk mengerti tulisan Negeri Sakura itu. Aku pun rabun jauh. Sedikit mengernyit untuk menangkap tulisan bagian bawah. Ukurannya begitu kecil dalam jumlah banyak.

Namun, rapi sekali. Bak sayatan tajam pedang Samurai. Tak ada bangunan lain di samping pahatan batu itu. Hanya rerumputan kering serta tanah gersang di pinggir pantai. Serta kalian yang lagi asyik mojok berpacaran.

Tiba-tibai gawaiku berdering. Pasti si Tanonaka dari Osaka! Pikirku.

“Ini tawaran terakhir!” suaranya menggelegar keluar dari pelantang gawai. Sengaja ku speaker on-kan. Debur ombak terlalu keras. Anginpun menderu sedari tadi.
“Aku tetap disini!” kuakhiri dengan mantap. Kututup pembicaraannya.

Lalu kupandangi lagi deret nama-nama berhuruf Kanji itu. Dan ku temukan sebuah nama, Nakagawa! Itu dia moyangku! Jariku menelusuri pahatan tajam nama itu.

Akupun menjura dan berdoa.......

Eikou wa Chichi to, Ko to, Seirei ni,
Hajime no you ni, ima mo, itsumo, yo yoni. A-men.

Kutegakkan lagi tubuhku. Persetan puluhan mata memandang. Tapi tidak untuk ini. Jangan pandang biasa deburan ombak di laut itu. 

Buncahnya membuat Paraidolia seram. Seakan ratusan tangan putih dan bermata sipit itu berusaha menggapai-gapai. Berjuang dari tenggelam. Mungkin juga kakek buyutku di sana.

Saat kumenjura lagi untuk kali ke dua berdoa, tepukan keras menghantam punggungku.
“Yumi!!”

Aku tersentak hingga berdesir darah. Serasa merambat menghantam jantung.
“Bikin kaget saja, Rin!”

Itu Rini karibku. Kutinggalkan saja tadi di aula fakultas. Hingga memburuku ke sini.

“Aku yakin kau pasti di sini.” katanya.
“Gimana rencana festivalnya, Rin?”
“Beres, Yum, tinggal gladi resik.”
“Sudah diundang Hiromi Kano?”
“Beres.Yuk, balik ke markas!”

Kutahu Hiromi Kano. Wanita Jepang itu sejak tahun 1996 mendalami kesenian Jawa. Khususnya Seni karawitan. Dia tertarik gamelan Jawa karena dimainkan tanpa notasi!

Kutinggalkan saja Monumen Ketenangan Jiwa itu. Begitu yang tertulis di batunya. Monumen yang dibangun oleh keturunan tentara Jepang. Mereka yang tewas saat era pergolakan di Semarang. Termasuk dari keluargaku.

Itulah aku sering berkunjung ke sini. Keberadaan monuman yang sejak tahun 1998 berdiri tak membuat banyak orang berkunjung. Mungkin lokasinya kurang strategis. 

Kuucapkan terima kasih telah diresmikan oleh mendiang Wali Kota Semarang, Pak Soetrisno Soeharto. Dengan monumen ini paling tidak mudah bagiku untuk mengingat kakek buyutku. Sebuah lanskap penghormatan.

Bagi para tentara Jepang yang tewas saat Pertempuran Lima Hari di Semarang pada Oktober 1945. Sebuah peristiwa kacau tak terkendali. Tidak jelas mana tahanan mana musuh. Mana yang menyerah mana pembelot. Mana militer dan mana yang sipil.

Akupun tahu dari Yayasan Warga Persahabatan (YWP) di Jakarta bahwa telah tercatat sebanyak 903 tentara Jepang membelot dari pimpinannya. Mereka ikut bergabung untuk perang kemerdekaan Indonesia.

Ku juga tahu bahwa data terbaru telah dirilis sekitar tahun 2000-an. Ada sekitar 243 orang meninggal dalam perang tersebut. Kemudian sekitar 288 hilang. Dan hanya 45 orang saja yang kembali ke Jepang. Sisanya, sebanyak 324 orang memilih untuk tetap tinggal di Indonesia dan menjadi WNI.

“Yumi tetap bersikukuh!” Tanonaka membanting diri di sofa.
“Ya sudah, itu pilihannya.” Nabita merespon sambil terus menuangkan segelas minuman keras. Ruangan berhias lampu warna-warni yang menggasing.

Cahaya orbitnya memusingkan kepala. Hidup mereka gemerlap. Kaya raya dari wariasan keluarga kami. Dan tentunya dari hasil perburuan benda purbakala. Mereka berdua eksekutor para kolektor dan museum.

“Harus bongkar itu!” kata Tanonaka bangkit sambil meninju udara.
“Kalau itu jangan, Kak!” Nabita berharap.
“Kau mulai terpengaruh si Yumi ya?”
“Tidak, itu peninggalan leluhurmu!”
“Persetan!”

Aku tahu sebulan yang lalu Tanonaka merebut peta wasiat warisan keluarga. Tentang titik koordinat penigggalan leluhur. Akupun paham di mana titik itu. Nabita yang membocorkannya.

Aku, Tanonaka dan Nabita terpisah. Kami keluarga keturunan Indonesia-Jepang. Aku lebih memilih tinggal di sini, Semarang. Hidup sederhana bersama nenek. Harta kami juga banyak. Namun ku buat untuk pergerakan paguyubanku.

Puluhan surat elektronik, ribuan perpesanan dalam jaringan sudah kukirim untuk membujuk mereka tinggal di Indonesia. Dan tentunya untuk berhenti berburu harta purbakala. Namun mereka sama sepertiku. Bersikukuh dengan pendirian masing-masing

Ada satu yang membuatku gelisah, Nafsu serakah mereka besar sekali jika yang diburunya itu harta karun Jepang!

Mereka berdua lupa bahwa perjanjian perdamaian Jepang-Indonesia sudah tertanggal 20 Januari 1958. Kemudian dikuatkan dengan hubungan diplomatik. Dendam perang sudah usai. Menjadi kenangan legam masing-masing.

Romusha, Jugun Ianfu, Heiho, tiga dosa terbesar Jepang. Sedang rumah dimana naskah proklamasi dirumuskan adalah tempat kediaman Laksamana Maeda, seorang Jepang!

Sore itu aku meluncur ke sekretariat Ichiki. Sebuah paguyuban pecinta budaya Jepang-Jawa di kota ini. Sekretariat ini penuh karya dan pernik Jepang-Jawa. 

Disamping peduli akulturasi, kami juga peduli dengan barang-barang purbakala Jawa Tengah. Khususnya yang hilang dan dicuri. Lobi-lobi yang kami lakukan didukung oleh donatur pecinta budaya Jawa. Mulai dari aksi pencegahan hingga memboyong kembali barang yang sudah dilelang.

Hari itu teman-temanku mulai sibuk mempersiapkan festival seni akulturasi yang beberapa minggu lagi akan digelar.

”Di tahun 2007 Jawa Tengah kehilangan lima patung purbakala koleksi museum Radya Pustaka Solo.”
“Banyak sekali!” seru Rina.
"Sedang museum Sonobudoyo Yogyakarta di tahun 2010 telah kehilangan sebanyak 75 buah koleksi berharga,” sambungku.

Hari itu selain menyelesaikan persiapan festival, kami juga membahas agenda utama paguyuban. Penyelamatan barang-barang purbakala Jawa tak boleh terlupakan bagi kami. 

Pembahasan diawali dari masalah pengggalian liar artefak di sawah-sawah desa Joho kabupaten Sukoharjo. Hiingga sampailah pada masalah pribadi. Antara aku dengan adikku.

”Bagaimana taktik kita?”
“Yang kita mampu saja.”
“Maksudnya?”

Aku menyalakan proyektor. Kusajikan peta lokasi Pantai Baruna. Dan kuberi tanda pada sebuah koordinat.

“Adikku mau membeli sebagian lahannya.”
“Untuk apa?”
“Lahan itu miliki sebuah korporat. Kalian tahu sendiri korporat lebih mementingkan nilai ekonomis.”
“Maksudnya pasti diloloskan?”
“Ya!”

“Itu kan Monumen Ketenangan Jiwa?”
“Betul”
“Apa hubungannya?”

Kemudian kuceritakan detail tentang apa yang ada di bawah bangunan monumen itu. Tak lupa ku sampaikan informasi yang dibocorkan Nabita. Serta rencana serakah adikku.

Akhirnya ku mendapat kabar dari Nabita bahwa Tanonaka sudah berangkat dari Osaka menuju Jawa Tengah. Sepertinya persiapan karnaval ini berpacu dengan nafsu serakahnya. Aku hampir kehabisan waktu.

“Untuk lomba batik Hokokai bagaimana?” tanyaku ke Rina.
“Tinggal penyiapan hadiahnya,” jawabnya.

Benar-benar terpecah konsentrasiku. Apalagi aku memegang bagian stan batik Hokokai. Sebuah varian batik Jawa Tengah yang mulai menggeliat. Model batik akulturasi Jawa-Jepang. Waktu itu diproduksi oleh organisasi perjuangan Jawa Hokokai.

Mereka memproduksi batik untuk menyenangkan Jepang. Batik Hokokai mayoritas memakai motif meriah. Satu kain untuk dua desain yang berbeda. Serta menggunakan warna-warna terang khas Jepang. Ciri lainnya batik Hokokai bermotif-motif bunga sakura, kupu-kupu, merak dan lainnya khas Jepang.

November menjadi penantian yang panjang bagi para penggemar budaya Jepang- Jawa. Festival Sakura kami bertema “Yuujou No Tabi”. Sebuah frasa Jepang yang berarti persahabatan dan perjalanan. 

Arak-arakan tarian tradisional dan seni kostum Jepang sungguh meriah. Banyak lomba yang digelar. Sungguh meriah sore itu kota Semarang.

Namun kontradiktif. Kami gagal melobi korporat yang tanahnya akan dibeli adikku.
Tak disangka sore itu adikku yang entah kapan datangnya di Jawa Tengah sedang menikmati festival kami. Pandangan mataku tak lepas darinya. Mungkin masih ada harapan yang cerah. Hanya itu doaku.

Dia akhir acara dia mendekat kepadaku. Aku harus tegar!

“Yumi!”
“Tano!”

Hanya itu tegur sapanya. Selebihnya menghilang! Sepertinya adikku langsung menuju ke Monumen Ketenangan Jiwa. Sudah dipastikan transaksi berhasil. Aku hanya pasrah. Diam-diam kuikuti saja ke sana. Kuajaklah si Rina.

Kamipun sudah menginjak Pantai Baruna. Jarak kami lumayan jauh. Kubiarkan saja apa yang akan dilakukan adikku. Yang pasti tidak dirobohkan dan digali sore ini. Tidak ada peralatan dan tim pekerja.

“Sama seperti dulu,” kata Rina membisik.
"Iya, sebelum kau tepuk punggungku,” kataku sambil terus mengawasi adikku.

Benar apa yang dilakukan adikku. Sama seperti yang kulakukan dulu. Dia membungkuk sambil berdoa. Kemudian membaca nama-nama yang tertera di monumen itu. Mengelus ukiran tajam sebuah nama. Persis banget!

Aku hanya mengandalkan ikatan batin dan genetika. Semoga berubah pikirannya. Itu satu-satunya milik kami yang tersisa.

Tiba-tiba adukku melepas pandangan ke laut. Seolah ada yang menarik pandangannya. Sama sepertiku dulu. Pasti dia melihat paraidolia. Debur ombak yang dilihatnya itu pasti bak tangan-tangan yang menggapai.

Adikku begitu lama tertegu mengikuti alur paraidolia. Tubuhnya tampak bergetar. Dan akhirnya limbung di tanah. Aku berlari mendekat. Kubopong adikku bersama Rina ke tempat adak rindang dari terpaan sinar senja.

“Aku ingin pulang,” katanya lirih.
“Kemana?” tanyaku sambil menitik air mata.
“Aku ingin pulang, Yum,” katanya lagi, terlihat matanya berkaca-kaca.
“Iya, kau sudah pulang sekarang. Ini rumahmu, Jawa Tengah.” kataku.

Senja sore mulai meredup. Ombak masih saja menderu. Sama seperti dulu. Anginnya, sepinya dan paraidolia itu. Bedanya kali ini aku bersama Rina melihatnya.

“Yum, itu!” kata Rina.
“Ya, aku melihatnya.”