Tabarruj, Apakah itu?

Sebagai seorang wanita, menghias diri tentu bukanlah sesuatu yang asing lagi. Apalagi dizaman sekarang berhias diri menjadi hal yang sangat penting bagi sebagian orang. Lalu, apakah Islam melarang hal tersebut?

Agama Islam tidak melarang para wanita untuk berhias diri. Asalkan tidak melampui batas dan tidak berlebihan. Tentu kita sebagai seorang wanita ingin terlihat menarik bukan?

Namun hal ini akan menjadi pembahasan yang berbeda lagi ketika para wanita berkeinginan tampil menarik untuk menarik perhatian lawan jenis, terutama yang dapat membangkitkan syahwat dari diri lawan jenis. Islam melarang berhias diri yang diniatkan untuk tujuan tersebut.

Dalam kaidah Islam, istilah menampilkan diri atau berhias diri secara berlebihan ini dikenal denagn istilah “tabarruj”. Kebiasaan memakai parfum secara berlebihan yang dilakukan kaum hawa juga termasuk contoh tabarruj pada zaman sekarang ini.

Apabila kita melihat dari sejarah Islam, tabarruj ini sudah ada sejak zaman jahiliyh. Para kaum wanita sanagt pandai menghias diri. Mereka berhias diri semenarik mungkin. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian khusus dari kaum laki-laki.

Mereka bahkan tidak tanggung-tanggung memakai perhiasan terbaik mereka. Perhiasan yang mereka kenakan itu menunjukkan dirinya luar biasa dan pantas mendapat perhatian khusus dari lawan jenisnya.

Pengertian Tabarruj

Tabarruj adalah memamerkan kecantikannya dan memamerkan wajah serta bentuk tubuh beserta daya tariknya atau seperti yang dikatakan Al Bukhori Ra.:“ Tabarruj adalah wanita yang memamerkan kecantikannnya.” Menurut Ibnu Katsir, tabarruj adalah wanita yang keluar dari rumahnya dengan berjalan di hadapan laki-laki dengan maksud mengundang nafsu mereka. Hal ini seperti yang dilakukan wanita zaman jahiliyah.

Asal kata tabarruj sendiri diambil dari kata buruj yang berarti gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan menempati ketinggian tempatnya. Jadi wanita yang bertabarruj adalah yang menampakkan tinggi-tinggi kecantikannya, sebagaimana benteng istana atau menara yang menjulang tinggi hingga menarik perhatian orang-orang yang memandangnya.

Bertabarruj berarti mereka menampakkan perhiasan dan kecantikan yang seharusnya ditutupi karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. Jalan berlenggak-lenggok dihadapan laki-laki, mempertontonkan rambut, dan juga perhiasan mereka termasuk juga tabarruj.

Allah swt berfirman,

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا


Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al Ahzab:33).

Perbuatan wanita  yang suka bertabarruj dari zaman jahiliyah dahulu samapi zaman jahiliyah masa sekarang tidak jauh berbeda. Bahkan wanita jahiliyah dahulu lebih mengenal malu dan tertutup dibanding pada zaman sekarang ini. Perbuatan-perbuatan yang termasuk dalam tabarruj yaitu:

1. Memakai perhiasan denagn maksud menimbulkan kehebohan dan menyombongkan diri serta mencari perhatian orang lain,

2. Mengenakan pakaian tipis dan pakaian ketat yang merangsang,

3. Memakai parfum berlebihan dihadapan laki-laki bukan mahrom,

4. Berdandan berlebihan sehingga mengundang perhatian laki-laki,

5. Membuka aurat agar membangkaitkan syahwat laki-laki,

6. Melembut-lembutkan suara untuk menarik perhatian orang lain.

Syaikh Abul a’la Al Maududi berkata, “Kalimat tabarruj apabila digunakan untuk wanita, maka ia mempunyai tiga makna:

a. Menampakkan kecantikan wajah serta keindahan tubuhnya kepada laki-laki yang bukan mahromnya

b. Menampakkan keindahan pakaian dan perhiasan kepada laki-laki yang bukan mahromnya

c. Menampakkan dirinya kepada kaum lelaki yang bukan mahromnya dengan berlenggak-lenggok dalam berjalan.

Dari ketiga poin ini, Syaikh Abul a’la Al Maududi memfokuskan bagaimana perilaku tabarruj ini dilakukan jika wanita berhias atau menampakkan keindahan dari dirinya di depan yang bukan mahromnya. Maka ketika seorang wanita berhias atau mempercantik dirinya dihadapan suaminya, berarti itu adalah sebuah hal yang dibolehkan bahkan disunahkan.

Khusus bagi wanita yang sudah memiliki pasangan, maka sudah sepatutnya bagi dirinya untuk berhias di depan pasangannya, yang dengan berhias inilah diharapkan, akan semakin bertambah kecintaan dari pasangannya.

Hal ini banyak terjadi terbalik dizaman sekarang. Tidak sedikit kita temukan bagaimana wanita berhias diri dengan hiasan yang berlebihan ketika ia keluar rumah. Namun ketika di dalam rumah (di depan pasangannya), mereka tidak berhias sama sekali.

Dari sebab kejadian inilah sebenarnya banyak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, diantaranya perceraian. Bagaimana kita temukan laki-laki yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan ketika melihat pasangannya berhias di depan dirinya, malah cendrung bosan dengan pasangannya dan akhirnya melihat wanita lain di luar rumah.

Sedangkan bagi yang wanita, ketika mereka keluar dengan berhias yang berlebihan, mereka mendapatkan pujian-pujian dari laki-laki yang bukan pasangannya. Akhirnya mereka lebih senang dengan laki-laki tersebut dibanding pasangannya.