Ramadan menjadi kesempatan emas untuk menuntaskan rindu. Kini telah pergi melangkah jauh. Entar tahun depan masih berjumpa lagi. Ataukah ini menjadi Ramadan yang terakhir. Ketika ini nikmat yang akhir, maka tentunya akan menjadi yang terbaik. Jikalau saja masih ada kesempatan pada bulan seribu bulan yang akan datang, maka akan dipastikan lebih baik

Rindu sepaket dengan syawal. Akhir puasa justru peluang untuk turut kembali menelusuri perjalanan waktu sehingga bisa berujung pada kampung halaman. Apa daya, hanya saja mudik menjadi terlarang.

Akhirnya, bagi perantau memendam rindu. Juga hanya bisa menerawang kampung halaman. Selebihnya, memeriahkan hari raya di rumah dalam suasana perkotaan yang diselingi dengan tembok semata. Tak tersisa sama sekali untuk hamparan persawahan yang merupakan nostalgia masa kecil.

Merindu dalam kondisi wabah sekaligus menjadi tantangan. Dimana untuk mencegah arus dari kota ke kampung, mudik dilarang sama sekali. Hanya saja, ada selalu godaan untuk melintasi batas itu. Sekali lagi, atas nama rindu.

Pada sisi lain, penjelasan pemerintah bahwa kita masih dalam wabah. Jangan sampai tragedi di tempat lain seperti India terjadi di kita. Begitu pula Malaysia, mulai bertambah penderita. Kalaulah Indonesia dengan penduduk 275 juta, ketika pertambahan penderita mencapai 5,000 orang dalam satu hari, ini jumlah yang tersebar ke seluruh nusantara.

Namun, Malaysia dengan penduduk 27 juta orang. Jikalau sudah mencapai 500 orang, maka sebuah angka yang patut diwaspadai secara khas. Belum lagi, Singapura kembali menutup seluruh wilayahnya. Dimana sejak Januari justru virus dengan varian baru dari India yang menyebar lebih cepat.

“Kapan wabah selesai?” itu pertanyaan celetukan awal tante saya ketika berkomunikasi untuk lewat gawai. Kunjungan langsung dibatasi, untuk saling mencegah. Jangan sampai salah satunya, atau bahkan dua-duanya akan bermasalah.

Silaturahmi kini untuk sementara hanya dengan gawai. Saling kunjung-mengunjungi yang menjadi pelengkap idulfitri belum dapat dilaksanakan. Pada saat ini, justru saling mengirim makanan menjadi pilihan untuk terhubung dan berkomunikasi dengan handai taulan.

Kalaulah dulu parcel dilarang, jangan sampai menjadi gratifikasi. Maka, idulfitri kali ini ada barang yang baru, disebut dengan hamper. Pembelian yang disertai dengan fasilitas pengiriman barang sesuai dengan pilihan destinasi penerima dapat juga dilakukan.

Itu satu sisi, kondisi kita yang masih dalam wabah. Entah kapan berakhir, namun satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan memastikan ikhtiar terbaik untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

Kegaduhan, selalu dalam keterbelahan menyikapi maklumat

“Apa ini merupakan rentetan dari dua pemilihan presiden terakhir?”. Atau justru merupakan fenomena yang sama sekali baru?.

Apapun informasi yang ada, selalu saja ada dua sikap yang berbeda. Masih saja ada kelompok cebong dan kampret. Lalu bertambah lagi dengan istilah lain, kadrun. Atau juga ada nama yang disematkan BuzeRp.

Makian inilah yang kemudian diketikkan dalam percakapan media sosial. Bahkan terkadang tidak terjadi percakapan. Justru yang ada hanyalah makian semata.

Kegaduhan demi kegaduhan menjadi keriuhan tersendiri. Termasuk dengan pengguna media sosial yang pada akhirnya menjadi trending topic di twitter.

Kita ambil contoh pada soal Palestina-Israel. Dimana para pendukung dan penentang Palestina berbalas makian. Bahkan kemudian menggunakan tagar Yahudi Pesek. Ini kemudian tular dan menjadi keributan tersendiri di Twitter.

Termasuk di masa-masa jelang perayaan idulfitri. Ketika mudik yang dilarang, justru muncul celetukan dari warganet terkait dengan kedatangan para tenaga kerja asing. Untuk itu, Majalah Tempo dalam inforial edisi pekan ini (17-23 Mei) melaporkan bahwa itu adalah kedatangan warga Cina yang akan bekerja di proyek strategis.

Itu satu contoh topik kegaduhan. Belum lagi yang lain. Selalunya, ada-ada saja topik yang membuat percakapan di media sosial menjadi ladang bagi kegaduhan.

Sementara di Jakarta, ada satu praktik yang lazim. Dimana untuk menyatakan pendapat digunakan spanduk. Begitu ada arus balik mudik, kemudian warga Jakarta ramai-ramai memasang penolakan kedatangan warga.

Pesan disampaikan melalui poster ataupun spanduk. Kemudian tersebar di seentaro Jakarta. Ini mengingatkan kita pada kampanye gubernur DKI. Dimana hampir setiap isu juga disikapi dengan penggunaan poster dan spanduk. Bukan saja di tempat fasilitas publik, bahkan di rumah ibadahpun juga digunakan.

Kedatangan para pemudik, disertai dengan adanya kewajiban untuk mengikuti tes cepat antigen. Walau Ketika jelang idulfitri ada pelarangan disertai dengan penyekatan perbatasan, tetapi pemudik militan tetap saja mampu mencapai kampung idaman.

Mereka yang kemudian menolak tunduk untuk tetap memendam rindu. “Sebagaimana dendam, rindu juga wajib dituntaskan”, begitu kalimat pemudik militan dan ciutan di media sosial.

Catatan harian Kompas, ada 2 juta lebih pemudik keluar Jakarta dalam rentang 6-15 Mei 2021. Sementara itu, arus mudik menunjukkan 2.244.096 orang yang kembali ke Jakarta. Ini angka sementara, akan ada pertambahan sampai Syawal berakhir.

Walau Jakarta berbeda dengan sebelum pandemi. Dimana selalu ada harapan yang menjadi janji untuk pekerjaan, tetap saja Jakarta begitu menggoda. Sehingga menarik banyak orang untuk datang. Kota dengan sejuta impian.

Wabah menjadi sebuah gong yang menyingkap kondisi kita sebenarnya. Dimana dalam banyak hal, ada tatanan yang rapuh. Juga menegaskan bagaimana kondisi kebangsaan kita yang juga memiliki pondasi yang kuat pada hal-hal tertentu.

Pagebluk masih kita jalani. Dengan ketangguhan individulah yang memungkinkan kita tetap bertahan sampai akhir. Semoga.