Kabar tentang dirazianya warung makan milik perempuan lanjut usia bernama Saeni, sempat geger di jagat netizen. Hanya soal menjual makanan di siang hari di bulan Ramadan, ia kena tilang. Lantas?

Dalam masalah ini, saya teringat dengan mendiang Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, yang pernah mengatakan bahwa pelaksanaan syariat Islam di Indonesia cukup dijalankan secara budaya dan tidak harus diformalisir, seperti dengan mencantumkan tujuh kata Piagam Jakarta ke dalam konstitusi. Lantas?

Dari dua kasus ini, ada kesamaan benang pengeratnya, tentang penggunaan syariat agama Islam. Dalam hal ini, saya sependapat dengan cucu Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, Gus Dur. Di mana soal syariat Islam itu tidak perlu diformalkan.

Ada beberapa alasan mendasar selain hukum Islam sendiri sangat universal dan dinamis, dan hanya beberapa saja hukum yang sudah mutlak larangannya, seperti zina, minum minuman keras dan lain sebagainya.

Masalah kedua yang tidak kalah penting adalah Indonesia ini mempunyai kemajemukkan dipelbagai hal, bahasa, suku, budaya tentu agama juga. Memaksakan salah satu syariat agama menjadi hukum aturan formal bisa menjadi nista. Terakhir, kita tidak mempunyai sejarah penyeragaman ideologi agama.

Jika kemarin kita ramai membincangkan kisah bu Saeni, penjual nasi rumahan, saya mengandaikan, semisal aturan berjilbab bagi perempuan itu diundangkan atau diformalkan oleh pemerintah, dan berlaku untuk semua warganya, maka akan ada dua hal yang bisa saya bayangkan.

Pertama, tiap hari kita akan disuguhkan berita tentang aparat pemerintah yang represif menangkap perempuan-perempuan tidak berjilbab. Yang kedua adalah, akan terjadi gelombang pemberontakan besar, tidak saja dari kaum non muslim tetapi muslim itu sendiri. Alasan kedua ini kemungkinan besar yang akan terjadi. Ini hanya persoalan satu hukum saja, mengenai berjilbab, belum lainnya.

Cukuplah syariat itu menjadi fatwa. Tidak memformalkan pelaksanaan syariat Islam itu, juga tidaklah mengurangi kadar keislaman seseorang. Sebaliknya, memformalkan syariat tidaklah lantas menjadikan masyarakatnya lebih beradab. Pemaksaan suatu ideologi, cukuplah menjadi pelajaran apa yang terjadi di Timur tengah; perang saudara berkepanjangan.

Sebagai penutup, barangkali kita perlu diskusikan ayat tuhan, dalam kalam-Nya surah Yunus ayat 99. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”

Wallahua’lam.