Penikmat Kopi Senja
1 tahun lalu · 638 view · 4 menit baca · Agama 66297IMG_3684.JPG.jpg
Voaindonesia.com/Hukuman Cambuk Terhadap Pasangan Gay

Syariat Islam dan Pancasila

Studi Kasus di Aceh

Jalan panjang syariat Islam di Aceh hingga kini masih menimbulkan polemik, bukan hanya dari kalangan non-muslim akan tetapi dari kalangan muslim juga terjadi.

Ada anggapan bahwa penerapan syariat Islam di Aceh inkonstitusional dan melanggar HAM. Anggapan itu dibarengi ketakutan akan enggannya investor menanam modal di Aceh.

Secara yuridis syariat di Aceh dimulai ketika pemberian otonomi khusus kepada Aceh. Ada tiga keistimewaan yang diberikan kepada Aceh; Islam, Adat dan pendidikan.

Hal itu berdasarkan surat keputusan panglima militer 1 Aceh/ iskandar muda, colonel M.Jasin. Selanjutnya berbagai aturan dan UU semakin menguatkan Syariat Islam di Aceh.

Pasca MoU GAM-RI lahirlah UU nomor 11 tahun 2016 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Pemerintah memberi kewenangan kepada Aceh dan salah satunya penerapan Syariat Islam secara kaffah.

Belakangan banyak kalangan yang memprotes bahkan bersikap seolah sangat bijak. Hukuman cambuk terhadap terpidana dianggap tidak sesuai dengan semangat Pancasila sebagai sumber hukum utama Indonesia.

Kasus hukuman terhadap pasangan Gay bahkan mendunia. Seperti biasanya argumen yang dibangun ialah tindakan itu melanggar HAM serta tidak manusiawi.

Lalu benarkah Syariat Islam di Aceh melanggar HAM dan Pancasila. Dasar pelanggaran HAM terkait penerapan Syariat Islam ketika ada terpidana dihukum cambuk. 

Lembaga internasional yang menyorot pelanggaran bersikap mendua alias inkonsisten. Misalnya mereka diam terhadap hukuman mati di China maupun di Texas.

Bila dibandingkan dengan Aceh penerapan hukuman mati tentu lebih kejam. Hukuman mati yang diterapkan malah tidak berdasarkan Agama sebagaimana di Aceh.

Hingga kini Aceh bahkan belum pernah menghukum mati seorang pembunuh atau koruptor. Selain itu salah satu poin HAM adalah kebebasan menjalankan agamanya masing-masing sebagaimana Aceh.

Perlu diketahui bahwa hukuman hanya diberlakukan untuk mereka yang beragama Islam. Aturan Islam lainnya juga hanya bagi muslim seperti bayar zakat sesuai perintah Allah Azza Wa Jalla.

Lalu benarkah Syariat Islam bertentangan dengan Pancasila, pendapat ini merupakan kekerdilan dalam berpikir. Ketidaktahuan tentang Syariat Islam dan tak paha Pancasila.

Sila pertama Pancasila dan UUD 45 sangat menjamin kebebasan beragama sekaligus menjalankan Syariatnya. Hal itu berarti Syariat Islam tidak bertentangan dengan Pancasila.

Kita harus konsisten dalam melihat sebuah persoalan, hukuman cambuk   harus dilihat dari perspektif pelanggar hukum. Sebuah konsekuensi atas perbuatan yang merugikan orang lain.

Penerapan hukuman juga tidak akan dilakukan bila tidak cukup bukti. Itu berarti hak-hak terpidana tetap dihargai dan dihormati sebagaimana hukuman mati di China dan Texas Amerika Serikat.

Penerapan Syariat Islam melalui hukuman kepada pelanggar norma dan aturan kehidupan malah sesuai dengan sila ke-dua Pancasila. Bila ada hak seseorang atau kelompom orang dilanggar maka pelanggar harus dihukum.

Hal itu berarti kita memenuhi rasa keadilan manusia sebagaimana amanat sila ke-dua. Sampai disini kita harus mengakui penerapan Syariat Islam di Aceh merupakan taktis dari Pancasila dan UUD 45.

Islam sebagai Agama yang damai dan mendamaikan sekaligus rahmat bagi sekalian alam termasuk di Aceh bahkan di Indonesia. 

Saya tak ingin memaksakan Syariat Islam berlaku secara formal di Indonesia. Namun demikian jangan pula daerah-daerah yang ingin menerapkan Syariat Islam dihalangi dengan alasan yang tak rasional.

Anggapan salah bila Syariat Islam diterapkan disebuah daerah akan melanggar Pancasila dan HAM. Bukankah dalam Islam tidak ada paksaan kepada seseorang untuk mengikuti Islam ketika diterapkan Syariat Islam.

Saya sepakat bila daerah-daerah dengan mayoritas Agama tertentu menerapkan Syariat Agamanya. Misal yang mayoritas beragama Hindu atau Kristen menerapkan Syariat Agamanya.

Namun penerapan itu jangan sampai melanggar kebebasan Agama lain menjalankan Syariatnya. Aceh setidaknya sudah menjalankan toleransi itu sejak lama.

Ketika umat Agama lain menjalankan ibadah, umat Islam di Aceh sangat menghormati. Salah satu Gereja pernah mengadakan penyaliban yesus ditengah kota Banda Aceh, acara lancar tanpa halangan apalagi kekacauan.

Kalau anda ke Kota Langsa malah akan anda temukan Gereja dan Mesjid Muhammadiyah yang berdampingan. Masing-masing beribadah menurut Syariatnya.

Penerapan Syariat Islam di Aceh malah mengelaborasikannya dengan adat lokal. Ini ikhtiar agar adat istiadat tidak hilang tanpa mengurangi esensi Syariat Islam.

Saya melihatnya sebagai gambaran Bhinneka Tunggal Ika, sesuai dengan sila ke-3 Pancasila. Acara adat istiadat selalu diwarnai dengan nilai-nilai Islam. Bukankah Wali Songo melakukan hal yang sama di pulau Jawa.

Aceh sekarang memiliki lembaga Wali Nanggroe sebagai pemimpin adat. Komposisi lembaga diisi pula para ulama yang berkompeten. Semua sisi kehidupan diisi dengan nilai-nilai Islam.

Masihkah kita alergi dengan penerapan Syariat Islam, masihkah percaya dengan anggapan Syariat Islam melanggar HAM bahkan bertentangan dengan Pancasila.

Mari kita jujur dengan sejujurnya, apakah hukuman penjara yang sekarang kita jalankan di Indonesia sesuai dengan Pancasila dan UUD 45 serta budaya bangsa.

Mari kita gali lagi bentuk hukuman terhadap pelanggar norma dan dogma yang sesuai dengan karakter bangsa kita. Bila akhirnya tidak menemukan jawaban, sebaiknya gunakan hukuman versi Islam.

Tentu saja banyak yang tak setuju dengan ajakan sekaligus tantangan saya. Menerapkan Syariat Islam di Indonesia masih menakutkan bagi sebagian kita, bahkan umat Islam sendiri.

Saya berani katakan; bila penerapan Syariat Islam dilakukan dengan benar maka negara Indonesia akan menjadi negara adidaya. Jangan melihat dari contoh penerapan Syariat Islam yang salah.

Mereka yang salah dalam memahami Syariat Islam pasti akan beranggapan sebaliknya. Pesan saya kepada kita semua, mereka yang benar dalam berIslam adalah mereka yang Pancasilais.

Mari temukan Islam dalam kehidupan sehari-hari, bila bertemu orang jujur itulah Islam walaupun dia tidak beragama Islam. Bila menemukan orang yang amanah, itulah Islam walaupun tidak beragama Islam. 

Sudah saatnya kita mensintesiskan Syariat Islam dan Pancasila bukan malah mengaduk-aduk, mempertentangkan antara Islam dan Pancasila.