Penulis
3 bulan lalu · 2352 view · 3 min baca · Pendidikan 45959_31531.jpg
Sebuah Sekolah di Aceh / regional KOMPAS

Syarat Utama Jika Aceh Ingin Merdeka

Tanggal 2 Mei setiap tahun diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Kelahiran tokoh terdidik dan kritis, Ki Hadjar Dewantara dijadikan hardiknas bukanlah tanpa alasan. Sebagai jurnalis di beberapa media seperti Oetoesan Hindia, De Express, Midden Java, Sedyotomo, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara, tulisan-tulisan beliau dianggap membahayakan eksistensi Belanda.

Ki Hajar Dewantara mengajarkan filosofis kehidupan yang patut dijadikan pedoman, terutama bagi para pemimpin. Seorang pemimpin ketika didepan yang dipimpin harus menjadi teladan. Ketika berada di antara rakyatnya harus cerdas dengan ide dan gagasan. Dan ketika dibelakang harus memberi arahan. Pesan ini juga dapat diimplementasi oleh kita semua dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika saya menulis artikel berjudul Jakarta Kacau Balau, Aceh Merdeka saya temukan respon yang di luar dugaan. Nyaris 100 persen pembaca yang berasal dari Aceh setuju apabila Aceh berpisah dengan Jakarta alias merdeka. Bagi pemerintah Indonesia kenyataan sosiologis dan psikologis itu tentunya menjadi ancaman disintegrasi bangsa. Bukan hanya itu, realitas itu sekaligus bukti bahwa MoU Helsinki gagal menjalankan tugasnya.

Namun saya tak akan mengulas lebih dalam soal perjanjian GAM dan pemerintah Indonesia. Pembahasan akan fokus pada kemungkinan Aceh menjadi sebuah negara terpisah dari Indonesia. Bagi teman saya yang bergelut dengan buku sejarah, Aceh menjadi negara baru merupakan delusi. Bakal gagal sebagaimana GAM gagal melakukan perlawanan.

Saya tak membantah fakta sejarah itu, namun saya membantah keputus asaan teman saya itu. Karena segala sesuatunya di masa depan mungkin terjadi apalagi dalam ranah politik. Terkait Aceh yang sudah memiliki kendaraan politik meski bersifat lokal, serta perangkat lain sebagai syarat lahirnya negara baru, bukanlah kemustahilan. Tinggal bagaimana elit dan rakyat Aceh serius ingin berpisah dari Indonesia.

Hal utama dan prioritas yang harus dilakukan oleh elit dan rakyat Aceh ialah pembangunan sumber daya manusia. Dalam hal ini dunia pendidikan menjadi penting. Kisah Ki Hajar Dewantara maupun tokoh nasional yang sukses mempropagandakan kemerdekaan ke dunia internasional merupakan contoh sekaligus fakta sejarah. Mereka bukan pemegang senjata bukan pula tentara namun tulisan dan pemikiran mereka lebih tajam dari peluru.

Itulah mengapa saya yakin apabila Aceh serius dengan kemerdekaan maka dunia pendidikan harus dijadikan prioritas. Tanpa mengecilkan peran pasukan bersenjata, perjuangan kemerdekaan dengan intelektual dirasa lebih utama pada hari-hari kedepan. Elit Aceh harus serius melahirkan tokoh intelektual yang kritis melalui dunia pendidikan. Sekolah dan Universitas harus ditingkatkan kapasitasnya.


SDM Aceh harus unggul secara intelektualitas dari SDM manapun. Para guru dan dosen terus ditingkatkan kualitasnya dibarengi kesejahteraan mereka. Kampanye pendidikan guna menciptakan peradaban yang tinggi harus berkesinambungan. Apalagi dengan nilai-nilai Islam yang sangat peduli pada peningkatan sumber daya manusia, harusnya Aceh bisa lebih baik dari Provinsi manapun.

Beasiswa bagi generasi penerus Aceh harus dimaksimalkan. Semakin banyak rakyat Aceh yang menimba ilmu ke luar, sembari meningkatkan kualitas institusi pendidikan di Aceh, maka Aceh akan menjadi tujuan pendidikan orang-orang luar nantinya. Kualitas Universitas di Aceh nantinya harus selevel dengan universitas-universitas di negara-negara maju.

Satu rumah satu doktor atau minimal satu rumah satu master. Suatu hari akan tercapai asalkan elit serius dan rakyat Aceh mendukungnya. Bayangkan bila nantinya universitas-universitas di Aceh menjadi tujuan mahasiswa dari negara-negara maju untuk belajar. Selain itu nantinya Aceh harus menjadi pusat studi Islam. Pemikir-pemikir besar akan lahir di Aceh, dan merekalah yang akan menyuarakan pemisahan Aceh dari Jakarta melalui tulisan-tulisan mereka.

Tulisan mereka bukan hanya dikonsumsi elit Jakarta akan tetapi dunia internasional. Apa yang pernah dilakukan Soekarno, Hatta maupun Ki Hajar Dewantara akan dilakukan intelektual Aceh pada saatnya. Dunia internasional yang kagum pada kemajuan peradaban Aceh pasti bakal melotot pada Jakarta. Tapi itu semua masih membutuhkan waktu, entah kapan yang pasti harus terjadi.

One house one Doctor or master, bukanlah mustahil. Perjuangan kemerdekaan melalui dialektika tanpa korban nyawa maupun air mata dan darah terasa lebih mengasyikan. Toh perjuangan menggunakan senjata pernah dilakukan namun gagal. Padahal korban nyawa tidak sedikit, air mata dan darah yang tumpah bahkan bisa menenggelamkan Banda Aceh bila dikumpulkan.


Kini pertempuran intelektualitas harus dikedepankan. Generasi Aceh jangan malas membaca dan menulis, terus meningkatkan kualitas diri. Rebut masa depan melalui pendidikan. Ingin Aceh merdeka atau berpisah dari Jakarta harus dilakukan dengan pendidikan. Tidak cukup teriak di sosial media, jalanan, maupun orasi semata. Tanpa peningkatan kapasitas diri serta menyiapkan generasi cerdas, Aceh merdeka hanya isapan jempol belaka.

Hiduplah sesederhana mungkin demi pendidikan anak-anak kita. Dorong dan motivasi mereka agar lebih hebat dari tokoh-tokoh Aceh yang pernah ada. Jika dahulu ada Hasan Tiro, maka kedepan, tokoh selevel beliau bahkan lebih hebat harus ada di Aceh. Generasi Aceh yang berpendidikan tinggi disertai akhlak mulia, akan menjadikan Aceh sebagai negara berdaulat. 

Artikel Terkait