Penikmat Kapal Api
1 bulan lalu · 180 view · 4 min baca menit baca · Seni 94254_65083.jpg
Foto: Tempo

Syair-Syair di Bumi Pesantren

Bagaimana kau hendak bersujud pasrah, sedang
Wajahmu yang bersih sumringah,
Keningmu yang mulia dan indah begitu pongah
Minta sajadah agar tak menyentuh tanah 

~ Penggalan puisi Gus Mus berjudul Sujud)

Siapa yang tak kenal dengan sosok Gus Mus, Zawawi Imron, atau Gus Haidar? Ketiganya merupakan salah satu bagian dari sejarah panjang perjalanan sastra di pesantren. Tokoh-tokoh tersebut tidak hanya mewarnai panggung sastra di Indonesia, namun juga panggung sastra milik kaum santri. 

Dalam sejarahnya, tradisi syair berkembang seiring dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Hal tersebut menjadi menarik. Sebab, selama bertahun-tahun sejak awal Islam datang ke Nusantara, tradisi syair masih tetap eksis di dunia Islam, khususnya pesantren. 

Apa hubungan antara pesantren dan tradisi syair sehingga sebegitu kuatnya ia mengakar di ranah pesantren?

Sastra Aceh sebagai Embrio Sastra Nusantara

Harus diakui bahwa dunia ilmu pengetahuan di Aceh lebih dikenal sebagai penyangga ilmu kesusastraan di Asia Tenggara. Dalam hal ini, posisi Hamzah Fansuri sebagai ulama tasawuf dan juga sarjana sastra Aceh telah membentuk satu fondasi ilmu sastra yang berakar pada Islam. 

Karya sastra Aceh memang lebih didominasi oleh Bahasa Melayu. Beberapa karya sastra Aceh yang sampai sekarang masih diperjual-belikan ialah Hikayat, Hadih Maja, dan Nadham Aceh.


Sastra Aceh memang memiliki karakter tersendiri, di mana pernah berfungsi sebagai penyangga peradaban Aceh pada abad ke-16 dan 17 M. Dan penyair yang berperan besar dalam membentuk syair khas Melayu adalah Hamzah Fansuri yang juga memperkenalkan syair sebagai bentuk pengucapan sastra. 

Tak heran jika Naquib Al-Attas menyebutkan bahwa Hamzah Fansuri merupakan Bapak Sastra Melayu Pertama di Nusantara.

Pada awalnya, kemunculan syair yang dimuat oleh Hamzah Fansuri sangat kental dengan nuansa sufistik. Hal itu dikarenakan sikap sang penyair yang memiliki visi menyebarkan ajaran tasawuf aliran wujudiyah di daerah Aceh. Sikapnya itulah yang kemudian membuat Hamzah Fansuri dikenal sebagai ‘penyambung pemikiran’ Ibnu ‘Arabi. 

Hanya saja, Hamzah Fansuri memutar pemikiran Ibnu ‘Arabi -yang bercorak tasawuf falsafi- ke arah sastra. Karena itu, Hamzah Fansuri memainkan ide-ide metaforisnya di dalam syair atau puisi.

Gambaran akan syair Hamzah Fansuri yang bernuansa mistik itu dapat dilihat dari beberapa tulisannya, yang salah satunya sebagai berikut:

Unggas Nuri asalnya cahaya
Diamnya da’im di Kursi Raja
Daripada nurinya faqir dan kaya
Menjadi insan, Tuhan dan saya

Syair di atas merupakan bait pertama dari puisi Hamzah Fansuri. Syair ini, menurut beberapa pengamat, merupakan doktrin Sufi yang menyebutkan bahwa “karena ingin dikenal dan dicintai dalam kesendirian-Nya, Allah menciptakan Nabi Muhammad sebagai cermin pertama cahaya dan Keindahan-Nya, sebuah cermin tempat Dia bisa melihat diri-Nya sendiri dengan penuh kecintaan”.

Sejarah mencatat adanya pergeseran peranan pengarang atau penyair pada akhir abad ke-17, khususnya sejak para sufi mengalami tekanan karena ajaran mereka dianggap berseberangan dengan paham para fuqaha’ (ahli fikih). Hal ini kentara dengan jarangnya penyair Melayu pada abad ke-18 mencantumkan nama diri dalam syair-syair yang  mereka karang. 

Namun pengaruh jejak kepenyairan Hamzah Fansuri berlanjut hingga abad ke-20, khususnya pada beberapa karya penyair Pujangga Baru seperti Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Dan dalam sejarahnya, fungsi sastra di kalangan pesantren terus mengalami perkembangan, baik dari segi bentuk maupun fungsi.

Sastra sebagai Metode Dakwah di Tanah Jawa

Belum jelas betul bagaimana perpindahan fungsi syair dari yang semula berguna sebagai penyebaran ajaran tasawuf berubah sebagai metode dakwah dan bagaimana mulanya syair berkembang di tanah Jawa. 

Memang ada beberapa catatan dari para ahli yang menyatakan bahwa puisi Jawa cenderung mengambil pola syair Melayu meskipun tidak seketat syair Melayu. Namun, yang lebih populer pada puisi Jawa, utamanya singir, adalah bentuknya yang berjumlah dua baris pada tiap bait (matsnawi), bukan empat baris (rubai) sebagaimana yang terdapat di syair Melayu.

Proses transformasi dari rubai ke matsnawi tersebut agaknya dipengaruhi oleh bentuk puisi Arab yang berbentuk nazam. Nazam merupakan bentuk puisi Arab yang paling populer di pesantren tradisional. 

Kehadiran bentuk sastra tersebut berkaitan erat dengan pengajaran materi keilmuan di pesantren terutama pengajaran ilmu bahasa. Salah satunya nazam yang terdapat di kitab Alfiyah Ibnu Malik. 

Namun yang pasti, bahwa karakter syair Melayu yang halus dan mengandung substansi, nyatanya berhasil diterima masyarakat luas. Penggunaan syair inilah yang lebih diminati dan dinikmati oleh masyarakat dalam menerima ajaran Islam. 


Salah satunya bisa dilihat dari sosok Almaghfurlah Kiai Bisri Musthofa yang banyak mengarang syair berbahasa Jawa. Di antara karyanya yang sempat tenar di Indonesia adalah syair Tombo Ati yang kemudian dipopulerkan oleh Opick. Selain itu, karya-karya ayahanda Gus Mus itu bisa dinikmati lewat dua buah antologi syairnya berjudul Ngudi Susilo dan Mitera Sejati.

Berbeda dengan karya-karya Kiai Bisri yang lebih menanamkan pesan-pesan moral dan akhlakul karimah, syair karya Kiai Sya'roni Shalih Magelang, lebih menjurus pada ilmu Fikih. Ia melagukan bab salat lewat buah penanya yang begitu indah di Syair Pashalatan

Begitu pula dengan Kiai Ahmad Hidayat Hasyim mengarang sebuah kitab syair bahasa Jawa tentang ubudiyah berjudul Hayya`Ala al-Shalah. Bahkan, sebagai rasa cintanya kepada Pesantren Tebuireng yang pernah disinggahinya, kiai asal Sumobito Jombang ini menyusun biografi panjang Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari dalam bentuk syair berirama rajaz.

Maktabah Ahmad Nabhan Surabaya, pernah menerbitkan kitab Paras Nabi Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam yang berisikan syair Jawa diakhiri dengan Shalawat Badriyyah. Kitab yang diduga dikarang oleh Kiai Ali Manshur Tuban itu bertarikh hari Sabtu Wage 8 Shafar 1319 H.

Penyampaian (dakwah) ajaran Islam melalui syair—atau yang oleh masyarakat Jawa lebih akrab disebut tembang—memang efeknya lebih mengena. Oleh karenanya, para Wali Songo terdahulu menggunakan metode suluk dan tembang yang diiringi musik tradisonal gamelan sebagai penyebaran agama Islam.

Hingga sekarang, alumni pesantren tetap eksis di dunia per-syair-an Indonesia. Berbagai karya syair ataupun puisi sudah jauh mengalami perkembangan baik dari segi bentuk, isi, maupun tujuannya. 

Gus Mus, misalnya, yang puisi-puisinya tidak hanya mengandung ajaran moral, namun juga kaya akan pesan-pesan cinta Tanah Air, renungan, hingga kritik sosial.

Artikel Terkait