Sebelum datangnya ajaran Islam, bangsa Arab terkenal dengan bangsa yang sudah maju. Di sana telah terdapat berbagai macam agama, adat-istiadat, akhlak, dan peraturan-peraturan hidup. Islam pun datang dengan membawa akhlak, hukum dan peraturan baru. Berbagai reaksi timbul dari bangsa arab sendiri. Ada yang merespon positif dan tak sedikit pula yang menentang.

Bangsa Arab terbagi ke dalam dua bagian, penduduk gurun pasir dan penduduk negeri. Penduduk gurun pasir terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang saling berperang. Yang kuat yang berhak tinggal, itu peraturan yang berlaku.

Sejarah tentang penduduk gurun pasir ini hampir tidak dikenal orang karena memang sedikit yang membahasnya. Adapun penduduk negeri, yaitu penduduk yang tinggal di Jazirah Arab bagian selatan, kerajaan Hirah dan Ghassan, dan beberapa kota di Hijaz.

Berbicara mengenai penduduk gurun, mereka mempunyai nasab murni karena tidak pernah dimasuki oleh bangsa asing dan bangsa tersebut terhindar dari kerusakan bahasa yang disebabkan oleh percampuran bahasa dengan bangsa-bangsa asing. Sehingga padang pasir inilah yang kemudian dijadikan sekolah tempat mempelajari dan menerima bahasa arab yang fasih ketika bahasa arab di kota-kota dan negeri telkah mengalami kerusakan.

Bangsa arab sangat terkenal dengan keindahan bahasanya. Syair adalah kesenian paling indah yang sangat mereka senangi, syair sangat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa arab. Ada tempat khusus di mana para penyair tersebut berkumpul, salah satunya adalah pasar `Ukaz.

Di sana para penyair memperdengarkan syairnya dan dikelilingi oleh warga sukunya yang mengidolakan penyair tersebut. Kemudian syair yang paling bagus akan digantung di ka`bah tidak jauh dari patung dewa-dewa pujaan mereka.

Seorang penyair mempunyai kedudukan yang amat tinggi dalam bangsa arab. Karena penyair seperti pahlawan yang membela dan mempertahankan kabilahnya dengan syair-syairnya. Apabila ada penyair dari kabilah lain mencela kabilahnya, maka dialah yang akan membalas dengan syair-syairnya.

Syair juga dapat meninggikan derajat seseorang yang tadinya dipandang hina, atau sebaliknya dapat menghinakan orang yang tadinya mulia. Bila seorang penyair memuji orang yang tadinya dipandang hina maka, maka orang tersebut akan menjadi mulia dan apabila seorang penyair mencela atau memaki orang yang tadinya dimuliakan, maka dengan serta merta orang itu menjadi hina.

Seperti contoh Abdul Uzza bin Amir, ia merupakan seorang yg mulanya hidup melarat. Kemudian ia dipuji oleh seorang penyair dan syairnya tersebar kemana-mana sehingga hidupnya membaik dan tidak dipandang hina lagi.

Begitu hebatnya pengaruh syair pada waktu itu. Menurut para pembahas sejarah, syair-syair dari penyair yang hidup pada masa jahiliyah merupakan sumber terpenting bagi sejarah bangsa arab sebelum islam. Dalam syair arab akan tergambar dengan jelas kehidupan bangsa arab pada masa itu.

Dari syair akan terlihat kemurahan hati bangsa arab dan cara mereka melaksanakan kemurahan hati itu. Dan dari syair pula kita dapat mengetahui bahwa diantara bangsa arab pada zaman jahiliyah telah ada yang mngenal Allah meskipun yang berkembang adalah ajaran Watsani.

Demikian penjelasan yang dapat penulis sampaikan mengenai pengaruh syair terhadap masyarakat arab jahiliyah. Banyak peninggalan syair-syair arab yang masih bisa kita baca saat ini diantaranya terdapat dalam buku sirah nabawiyah karangan Ibnu Hisyam, kitab hilyatul auliya`, atau buku-buku sejarah dan kebudayaan islam yang telah banyak ditulis, salah satunya adalah karangan Prof. Dr. As-Syalabi  yang juga penulis jadikan sebagai sumber dari artikel ini.