Sudah beberapa hari ini berita tentang Giring Ganesha a.k.a Giring ‘Nidji‘ sempat wara-wiri di lini masa media sosial saya. Kali ini bukan karena ia mengadakan konser bersama group band-nya, bukan pula karena launching album teranyarnya Nidji, melainkan keberaniannya untuk maju dalam pencalonan sebagai presiden RI 2024 mendatang.

Alih-alih mendapat dukungan, reaksi masyarakat justru terkesan ragu dan meremehkan. Betapa tidak, kiprahnya di kancah perpolitikan terbilang newbie. Namanya jelas lebih dikenal sebagai musisi ketimbang politikus. Ini masalah branding. Giring mungkin boleh PeDe sebab dengan keartisannya ia dapat dengan mudah menarik simpati publik.

Tapi ingat, gak semua artis yang banting setir ke dunia politik sukses mendulang suara. Wong masyarakat kita sekarang sudah pada pintar menilai mana yang benar-benar kompeten atau yang sekadar aji mumpung dengan hanya memanfaatkan ketenarannya saja.

Jika merunut ke belakang, sepak terjang Giring di panggung politik memang terbilang masih bau kencur. Pada tahun 2019, ia memutuskan keluar dari grup band Nidji yang telah membesarkan namanya di belantika musik tanah air dan kemudian mantap bergabung dengan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) sebagai kendaraan politiknya. 

Di tahun yang sama, Giring pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif namun gagal karena perolehan suara PSI sebagai partai pengusungnya tak melebihi nilai ambang batas minimal 4% untuk mendapatkan kursi legislatif.

Lagi-lagi ini soal branding. Politic branding PSI yang mengaku sebagai partainya anak muda juga nyatanya belum berhasil mendapatkan tempat di hati masyarakat. Walau dengan iming-iming egaliter dan kesetaraan politik serta komitmen menciptakan good governance yang bersih dari korupsi.

Terakhir, yang kita tahu, Giring didapuk sebagai pelaksana tugas (Plt) menggantikan ketua umum PSI, Grace Natalie yang berencana melanjutkan studi magisternya ke Singapura. Penunjukan itu bukan tanpa sebab. 

Kiprah Giring di PSI dinilai Grace sebagai anak muda yang kreatif membuat ia percaya Giring akan mampu menggantikannya sementara untuk memimpin partai. Hal itu diduga makin menguatkan ambisi politik Giring hingga membulatkan tekad untuk menjadi orang nomor wahid di tanah air.

Pun mengenai pencalonannya ini, pada awalnya banyak masyarakat yang tidak memercayainya. Bahkan ada yang mengira ini adalah sekadar guyonan belaka. Termasuk saya. Respons saya pertama kali ketika melihat baliho milik Giring lengkap dengan atribut partainya seolah skeptis cenderung apatis. 

Namun setelah melihat video yang diunggah langsung oleh kanal YouTube milik PSI yang bertajuk “Kenapa Saya Mencalonkan Diri Jadi Presiden 2024”, entah kenapa muncul banyak tanya di benak saya.

Apakah Giring mampu memimpin Indonesia?

Begitulah pertanyaan pertama yang ingin saya lontarkan. Terdengar cukup sangsi memang. Tapi mari kita perjelas kesangsian ini dengan membahas pernyataan-pernyataan Giring dalam video mengenai deklarasinya sebagai bakal calon presiden RI 2024.

Pertama, dalam video berdurasi sembilan menit sepuluh detik itu, Giring mengawalinya dengan menyebutkan alasan mengapa ia terjun ke dalam dunia politik. Ia bertujuan ingin memperbaiki sistem politik yang ada di Indonesia. Sekilas tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Sah-sah saja kalau memang itu baik adanya, bukan?

Namun satu hal yang harusnya Giring pahami, bahwa tidak hanya sistem politik saja lho yang perlu diperbaiki di Indonesia; seluruh sistem mulai dari ideologi, ekonomi, sosial budaya, hingga pertahanan dan keamanan perlu sentuhan perbaikan.

Sebab sudah lama Indonesia mengalami krisis multidimensi di mana hampir seluruh aspek kehidupan di negeri ini mengalami kebobrokan yang hakiki. Dan itu semua tidak mungkin bisa diselesaikan hanya dengan melihatnya dari kacamata politik saja.

Kedua, video tersebut cenderung Jakarta-sentris sebab Giring hanya menampilkan dan membahas profil kota Jakarta saja; mulai dari pembahasan banjir Jakarta hingga menyinggung Jokowi yang ia nilai pernah berhasil memimpin Jakarta pada saat jadi gubernur. Gambar-gambar yang ditampilkan dalam video tersebut hampir seluruhnya tentang Jakarta.

Padahal Indonesia itu bukan hanya tentang Jakarta. Indonesia itu dari Sabang hingga Merauke; dari Timur sampai ke Talaud, Indonesia itu milik 267 juta jiwa yang tersebar di 34 provinsi, dan permasalahan bangsa tidak hanya di Jakarta saja. 

Bagaimana ngebet jadi presiden kalau pengetahuannya hanya tentang persoalan Jakarta saja? Saya jadi mikir, Giring ini mau jadi presiden RI apa jadi gubernur DKI?

Kemudian dalam sesi selanjutnya, Giring mengatakan bahwa hanya ada dua pilihan dalam menentukan nasib bangsa; berdiam diri atau ikut terlibat dalam menentukan arah masa depan bangsa. 

Giring juga memperkenalkan dirinya sebagai anak muda yang peduli terhadap urusan politik di saat kebanyakan anak muda lainnya cenderung apatis dan tidak suka politik. Ia pun berpendapat jika runtuhnya negara karena anak muda hanya berdiam diri dan tidak mau terjun ke dunia politik.

Survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2018 justru menyatakan bahwa 60% milenial menunjukkan ketertarikannya pada politik dan gemar mengakses berita politik lewat media sosial. 

Berdasarkan survei tersebut, kita bisa menyimpulkan bawa nyatanya sekarang banyak kok anak muda yang sudah mulai melek politik. Hanya saja, apakah dengan kesadaran kita terhadap politik harus disertai dengan berkecimpung langsung ke dalam dunia politik?

Lagi pula, kita tidak bisa menentukan indeks kemajuan suatu negara hanya dengan melihat besarnya partisipasi anak mudanya dalam dunia politik. Ada banyak cara untuk memajukan bangsa karena setiap pemuda punya ketertarikan dan bakatnya masing-masing.

Nah, kita bisa mengembangkan bakat dan ketertarikan itu untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa.

Ketiga, dalam video tersebut, Giring menyebutkan bahwa ia adalah seorang pemimpi ulung dan berkemauan keras. Ia bisa mendapatkan apa pun yang diinginkannya; mulai dari keberhasilannya mempunyai dapur rekaman hingga jadi pengusaha. 

Ia juga menceritakan latar belakang keluarganya yang mengalami kesusahan akibat krisis 1998 dan itu semua karena salah urus politik.

Lagi-lagi ini tidak bisa dijadikan motivasi politik untuk jadi presiden RI. Sebab apakah untuk membenahi sistem yang rusak di negara ini kita harus terjun langsung menjadi presiden?

Mulailah dulu dari hal yang kecil; jadi ketua RT, camat, atau gubernur misalnya, baru jadi presiden. Begitu, kan, tingkatan birokrasinya? Jangan sampai keinginan menjadi pejabat hanya karena ambisi pribadi atau golongan semata.

Namun terlepas dari itu semua, pada dasarnya setiap warga negara Indonesia berhak melibatkan diri dalam dunia politik. Termasuk mencalonkan diri sebagai presiden. Tapi ya wong mawas diri sedikitlah; mengurus negara, kan, tidak semudah jingkrak-jingkrakan di atas pangggung?