Hei, apa kabar sweet candy-ku? Yang selalu kurindukan sapa dan tawa renyahnya. Rinduku membuncah, meletup-letup tak mau redup. Rinduku liar, susah dijinakkan. Kamulah pawangnya.

Rinduku nakal pun buta aturan!

Namamu (memaksa) kuukir perlahan di antara bintang-bintang. Namamu (harus) kulangitkan kala malam hampir kelam. Namamu (mesti) kusakralkan dalam hati terdalam.

"Boleh, kan? Boleh, ya! Harus boleh pokoknya!" Rengekku bagai anak PAUD minta donat meises pada ibunya.

Hehe, aku nyebelin kalau sudah jatuh cinta.

"Jatuh cinta sama siapa, tuh?" Pasti kau akan menggodaku dengan tanya itu.

Kamu selalu begitu. Tak berhenti menggodaku dengan candaan paling tidak penting sedunia, sayangnya aku tergoda. Sayangnya (lagi) aku menjadi menyayagimu karena hal paling basa-basi itu.

"Kamu orangnya!"

Tak usah pura-pura tidak tahu begitu, ah! Nyebelin, deh. Heran kenapa aku bisa jatuh cinta sama orang se-nyebelin kamu.

Jatuh cinta nyebelin, ya? B.A.N.G.E.T!

Ternyata aku terbuai gravitasi sendiri. Jatuh cinta tak bisa dipesan alamatnya. Dan, harusnya aku bisa mengatur hatiku untuk bisa mencintai siapa (yang tak sebasa-basi dirimu). Namun, apalah dayaku.

Salah sendiri memberi ruang hadirmh. Menerima air surgamu kepada bunga-bunga di hatiku dan akhirnya bernama: Cinta. "Cinta?", ah, terkadang aku malu jika menyoal cinta-cintaan. Terlalu sendu dan mendayu-dayu. Rasanya bukan aku banget.

Salah sendiri memberimu waktu singgah di sebagian hariku. Aku mengaku salah. Sekarang, dirimu malah membawa semua kesadaranku. Padahal, kita hanya saling melepaskan lelah. Kenapa malah terbawa perasaan begini?

Ya ya ya. Terlalu naif untuk dua spesies berbeda saling singgah dan mengesampingkan perasaan. Hanya orang-orang hebat yang bisa menaklukkannya. Aku yakin, aku bukan orang hebat itu. Ah.

Sebelum ini, kau tahu, aku pribadi sangat rasional. Jelas, logika pasti menguasai diriku. Aku susah diyakinkan dengan kata ini-itu (harus ada aksi nyata). Hatiku batu. Terlalu susah melumerkan hatiku. Tapi, ini hatiku sudah lumer banget bak es krim di terik matahari. Aaaw.

"Alangkah kurang ajar sekali dirimu itu. Kau mampu menyita malamku berjam-jam hanya tuk mematung dalam tatap potretmu. Esok paginya jadi menambah jatah tidur. Haduh, rumitnya jatuh cinta bikin pusing kepala saja." Makian dan umpatan laksana bukti cintaku yang lain (karena berusaha membohongi diri sendiri).

Selalu ada magic di dirimu. Mencumbui bayangmu adalah pekerjaan utamaku. Pose manis mirip anak kecil ini seolah merengek terus dicumbu. Kususuri rambut cepakmu, tangan kanan berbentuk siku dari telunjuk dan jempol di bawah dagumu, serta kuluman senyum khas itu. Argh, ujung-ujungnya mabuk kepayang sendiri.

"Sweet candy-ku, aku rindu!" Rintihku mengharu biru dalam malam kelabu.

Senyumanmu candu. Adiksi. Aku kehilangan mood-ku jika tak melihat wajahmu satu sekon saja. Tidaaak! Warasku punah sudah dilalap olehmu.

*

Panas matahari membara hampir membakar dunia seisinya. Mengerontangkan dahaga dan jajaran sekitarnya. Bagai kutemui surga ketika rebah di peraduan. Siang ini sungguh lelah jiwa pun raga. "Pulang" adalah surga dunia.

Sekitar pukul dua siang. Kututup sadarku dengan merangkak ke pulau mimpi. Nikmaaat sekali. Hingga perjalanan singgah di dekat langit jingga.

Oh iya, aku tipe-tipe spesies tak bisa tidur sebentar. Pun tidur mati. Paling tidak membutuhkan waktu dua jam untuk "mati suri".

Hehe, tak usah terlalu kaget. Selama ini tiada yang mempermasalahkannya. Tubuh harus mendapatkan kebahagiaan pula setelah diajak berkelana menjelajah dunia.

Selepas membuang lelah, hampir lepas si jantung (maaf terlalu lebai, hehe). Gawai bergetar. Terpampang nama "Sweet Candy" di layarnya.

"Sumpah, demi apa dia menghubungiku?" Lonjakku berbunga-bunga.

Ehm, spesies paling rasional pun kalau jatuh cinta bisa kehilangan akalnya gini. Dahsyatnya energi cinta mampu memenjarakan akal sehat. Inilah sebab harus hati-hati atas segala sesuatunya. Kalau tidak, bucin-nya ampun-ampunan, deh.

Untungnya dia jauh (ups). Long distance relationship sangat menguntungkan, walaupun tabungan rindunya menggembung mirip ikan (ikan gembung maksudnya, wkwk). Selaksa doa jadi tali pengikatnya.

"Lagi apa?" Tanyanya ringan. Seperti biasanya.

Dua kata saja susah dicerna. Melambungkan bunga-bunga hatiku setinggi langit. Hatiku ricuh pun gaduh. Kekuatan dua kata menggempakan jagadku.

"Bangun tidur." Ucapku sok jual mahal. Dasar perempuan (kata orang-orang begitu). Padahal hatinya meronta-ronta mau bilang "rindu".

"Mau tidur apa mau bicara?" Tanyamu masih sesantai tadi. Tapi, aku menangkap sinyal-sinyal godaannya. Dasar, gemar menggodaku!

Salah satu bagian darimu yang kugilai adalah kau mementingkan perasaanku. Kita diskusi banyak hal tentang apa saja. Tak melulu bercerita tentang keakuanmu.

"Gila aja aku mau tidur lagi, sedangkan penyebabku susah tidur ada di depan mata." Batinku.

Berbincang denganmu seperti membawa ingatanku sebelum turun ke rimba dunia. Tentang kita yang digariskan bersama selamanya di sini. Sampai nanti damai bersama bintang-bintang (kembali).

Aku ingat jelas bahwa aku menemukan "orang itu". Kesederhanaan yang melekat di dirimu ingin kulekatkan di diriku jua. Aku mengenalimu sebagai "the one".

Perbincangan denganmu selalu menyisakan adiksi lagi dan lagi. Yang menuntut ulang kembali. Hanya saja, kesibukan dan waktu tak bisa selalu luang.

Sebentar, ingin kudeskripsikan perasaanku ketika bersamamu dan bersama yang lain. Jadi, begini: ketika bersama siapa pun, terselip keinginan "seandainya ini kamu". Sedangkan bersamamu, fokusnya ya kamu seorang diri. Sekurang ajar inilah hatiku.

*

Hei, sweet candy-ku, sedang apa di situ?

Jangan terlalu banyak mengonsumsi gula, ya, nanti aku jadi diabetes! Hehe.