Researcher
3 tahun lalu · 224 view · 3 min baca · Gaya Hidup 1810-rahul.jpg

Swafoto dan Tubuh dalam Pasung Mata Kamera

Swafoto atau selfie kini bukanlah sebuah fenomena yang baru, ia telah lama berkembang dan menjadi sesuatu yang umum bagi sebagian besar masyarakat kita. Perkembangannya menjadi hal yang umum, tak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi.

Selfie bukan lagi sebuah mode ataupun life style dari segelintir anak muda, namun ia telah menjadi budaya masyarakat. Terutama budaya dari masyarakat yang dunianya dimediasi oleh layar (masyarakat virtual). Dari anak muda, artis hingga pejabat negeri ini tak luput untuk berbagi dirinya bersama layar melalui selfie.

Nyaris di setiap jejaring dunia maya seringkali kita menemukan foto bergaya selfie yakni berfoto dengan memotret sendiri dan yang dipotret juga dirinya sendiri. Sepintas ia tak menuai masalah yang fundamental. Namun sebagai fenomena budaya, ia cukup menyimpan problema yang dilematis.

Ketika seseorang berswafoto, ia tak lagi berhadapan dengan mata seseorang yang lain yang lazimnya berada di balik mata kamera. Ia layaknya bercermin namun tak menatap dirinya sendiri melainkan langsung berhadapan dengan mata kamera yang tanpa kehadiran mata manusia.

Berbeda dengan bercermin di mana kita menatap diri kita sendiri dengan mata kita sendiri, namun di dalam gaya berswafoto ia hanya berhadap-hadapan dengan struktur tatapan mata kamera tanpa struktur tatapan manusia. Tapi ia bertujuan menatap dirinya sendiri. Mata manusia tak hanya dimediasi namun telah digantikan oleh tatapan mata kamera.

Bercermin tanpa memandang itulah ciri khas dari gaya berswafoto. Namun berswafoto bertujuan melihat dirinya sendiri, hanya tanpa aktivitas memandang layaknya kita bercermin. Aktivitas memandang sepenuhnya telah digantikan oleh mata kamera. Fenomena berswafoto, tak bisa direduksi hanya sekadar hubungan subjek yang menatap sebuah objek.

Namun lebih kepada objek (manusia yang hendak berfoto) yang menatap ke arah si subjek (mata kamera), tetapi dalam posisi di mana si subjek (manusia) tidak bisa menatap si objek. Ketika manusia berswafoto, ia tak menjadi subjek yang sedang menatap sebuah objek. Tatapan digantikan oleh mata kamera yang menatap manusia itu sendiri sebagai objek foto. Sehingga terjadi pemisah antara mata (organ pengelihatan) dengan tatapan.

Di sini struktur tatapan tak lagi menjadi dorongan yang memotivasi manusia untuk melihat. Namun ia menjadi poin tersendiri yang mengorganisasi dirinya sendiri. Tatapan mata kamera tak bisa semata-mata dikatakan sebagai objek karena ia di posisikan sebagai subjek yang menatap tanpa kehadiran mata manusia di baliknya layaknya berfoto sebagaimana lazimnya. Sehingga ia melahirkan body image yang tanpa tatapan mata manusia.

Yang mungkin seperti apa yang dikatakan Jacques Lacan sebagai bentuk pengasingan diri (locus of "alienation"), yang merupakan bagian lain dari yang imajiner. Namun keberadaannya di rengkuh bukan oleh tatapan manusia melainkan tatapan mata kamera.

Mungkin berswafoto merupakan penegasan untuk menyataan bahwa diri itu ada. Namun konsep ke-"diri"-an itu kini menjadi ambigu. Konsepsi “Aku” pada swafoto ialah aku yang ada di hadapan sorotan tajam mata kamera, di mana aku terserap oleh kedahsyatan pesona tatapan mata kamera. Sehingga aku menjelma menjadi bidang yang terhadapnya jutaan citra disorotkan dan akhirnya “Aku” itu sendiri menjadi layar.

Aku bukan lagi diproduksi oleh tatapan mata manusia, bukan pula hasil identifikasi dengan dunia sosialnya, melainkan “Aku” yang diproduksi oleh sorot mata kamera semata.

Tubuh yang dipotret bukanlah objek yang “ada bagi kesadaran” karena ia tak di tatap oleh mata manusia, ia justru “ada bagi tatapan”, tatapan mata kamera yang sebenarnya objek bagi kesadaran manusia. Sehingga konsepsi “Ada” juga berubah, di mana “ada di dalam dunia” tak hanya digantikan oleh “ada di dalam layar” melainkan sepenuhnya menjadi “ada oleh tatapan mata kamera”.

“Ada” sepenuhnya kini direduksi melalui mekanisme tatapan mata kamera. Mata manusia yang memandang tak lagi menjadi pusat produksi objek penampakan.

Hasilnya dalam swafoto membentuk relasi seseorang melihat-dirinya-sedang-melihat-dirinya, atau biasa disebut dengan relasi “narsisme”. Dalam relasi narsisme ini, terjadi pemisahan diri dari corporeal tubuhnya sendiri dan menjadi tubuh yang lain yaitu tubuh dalam wujud citraan, yang di kosongkan dari subjektivitas aslinya.

Ia menjadi tawanan dari penanda, yang memungkinkan subjek menghasratkan citra dirinya sendiri. Ia layaknya terjangkit penyakit self-vouyerism yakni penikmatan diri sendiri melalui penatapan diri sendiri.

Artikel Terkait