suwarsih.jpg
Maryati salahsatu novel karya Suwarsih Djojopuspito
Pendidikan · 3 menit baca

Suwarsih Djojopuspito dan Karyanya yang Terlupa

Itu menurut sifat seorang manusia, Lastri. Semakin masak jiwa seseorang, lebih mendalam ia merasakan kesepiannya itu. Kita tak dapat larut dalam diri orang lain – Sudarmo kepada Lastri dalam Novel Manusia Bebas (Buiten Het Garrel)

Boleh dibilang, namanya jarang disebut dalam khazanah kepenulisan sastra Indonesia. Pada laman Wikipedia juga hanya ada sedikit informasi tentang dirinya, tak banyak. Meskipun sedikit tulisan yang membahas tentang dirinya ataupun karya-karyanya, namun setidaknya ada beberapa tulisan yang bisa dijadikan referensi untuk menggali lebih jauh tentang sosok Suwarsih dan beberapa karyanya.

Pertama tulisan Gerard Termorsh dari Universitas Leiden dengan judul makalahnya A Life Free From Trammels: Soewarsih Djojopoespito and Her Novel Buiten Het Garrel pada tulisannya ini Gerard Termorsh banyak membahas tentang riwayat hidup Suwarsih, bahkan dapat dikatakan Gerard Termorsh mampu memberikan banyak informasi tentang Suwarsih dan karyanya.

Kedua adalah artikel yang ditulis oleh C.W Watson, profesor antropologi dari Universitas Kent dan juga staff pengajar di SBM ITB, tulisannya juga diterbitkan di jurnal Indonesia and The Malay World dengan judul tulisan Plus ca change…? a comparison Indonesian feminist novels: Suwarsih Djojopuspito’s Maryati and Istiah Marzuki’s Sundus.

Ketiga adalah tulisan Aquarini Priyatna, seorang dosen Sastera Inggris di Universitas Padjajaran, dengan makalahnya yang berjudul: Suwarsih Djojopuspito: Mencipatakan Subjek Feminis Nasionalis Melalui Narasi Autobiografis.  

Novel karya Suwarsih yang pertama saya baca adalah novel tipis terbitan Pustaka Jaya, Maryati. Berlatar tahun 1928 novel ini banyak berkisah tentang jaman pergerakan kaum nasionalis, dalam novel ini Suwarsih mampu menguraikan masalah-masalah yang dihadapi perempuan dijamannya: tentang poligami, kekerasan seksual, pernikahan yang dipaksakan, pernikahan yang terpaut berbeda umur, namun di sisi lain Suwarsih memaparkan peran perempuan dalam berjuang membentuk bangsa yang merdeka, perempuan yang terlibat pada masa pergerakan nasional, melalui dua tokoh Maryati dan kakaknya Rustini.

”Ada salah satu sifat pada Mas Daryanto yang kubenci. Ia bukan seorang demokrat, sudah mulai priyayi-priyayian dengan meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Sedangkan kami semua merasa kawan seperjuangan, sama martabat, hak hidup dan sama dalam segalanya”

melalui tokoh Rustini, Suwarsih ingin menyampaikan sikap tegasnya akan jiwa nasionalisnya. Juga sikap teags Suwarsih dalam membela kaumnya, bersikap keras terhadap penantangan poligami, tampak dari narasi di novel Maryati.

Aku tak bakal datang ke rumah Juwariah, bairpun ia biasa menjemput aku dengan ramah tamah dan menganggap aku seperti seperti adiknya sendiri. Aku seorang wanita, harus membela hak dan perasaan seorang wanita pula, sekarang dan di kemudian hari, terhadap orang yang menginjak-injak haknya itu.

Novel kedua karya Suwarsih yang saya baca adalah Manusia Bebas, setelah mendapat pinjaman buku dari Pak Watson, akhirnya saya bisa menikmati novel karya Suwarsih ini. Tokoh utama dalam novel ini adalah Soelastri dan Soedarmo, banyak yang berpendapat bahwa novel ini merupakan autobiografi dari penulisnya yaitu Soewarsih yang ditokohkan oleh Soelastri dan Soedarmo yang merepresentasikan suami dari Suwarsih, Soegondo Djojopoespito.

Pasangan pengantin muda ini hidup ditengah idealismenya untuk berjuang atas hak mendapat pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat yang hidup di negerinya. Jika dikaitkan dengan tinjauan waktunya maka sangat teras nilai-nilai pemikiran Soegondo yang merupakan seorang pemimpin kongres pemuda ke-II di mana kongres tersebut menghasilkan Sumpah Pemuda, dalam waktu tahun-tahun setelah kongres pemuda-II terasa ia masih memiliki pandangan bahwa Indonesia adalah negara yang satu, yang masih harus terus berjuang. Terlihat pada lagu yang dikenalkan oleh Soelastri kepada murid-muridnya.

Lihatlah bendera kami,
Merah putih, berkibar,
Dikibarkan hari ini,
Dengan hati yang riang

Mekipun kedua novel ini terpaut jauh tahun tebritnya dan juga penggunaan nama-nama tokoh yang berbeda, namun sangat kentara bahwa kedua novel ini satu sama lain saling terkait, merupakan narasi autobiografis dari penulisnya sendiri, Suwarsih.

Goenawan Mohamad pada catatan pinggirnya menuliskan bahwa Suwarsih memiliki penuturan yang lebih kompleks, lebih intim, lebih terbuka, dan dengan latar yang lebih luas ketimbang surat-surat Habis Gelap Terbitlah Terang. Dan GM menjuluki Suwarsih sebagai perempuan diluar garis yang lurus.

Memahami karya-karya Suwarsih (setidaknya melalui Novel Maryati dan Manusia Bebas) adalah memahami dunia perempuan yang memiliki sikap tegas dan berprinsip, tak banyak memang penulis yang mampu menulis begitu kompleks dan intim seperti Suwarsih.

Seperti juga namanya yang tak banyak dibahas atau mungkin juga disebut, karyanya juga tak banyak diketahui, namun Suwarsih telah membuat karya yang merupakan catatan penting bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia, melalui novel sebagai catatan autobiografisnya. Melalui novel-novel Suwarsih juga, saya dapat belajar bahwa sejarah yang terjadi dalam sebuah negara bukanlah hanya bersifat ketokohan namun yang lebih penting adalah sejarah sebagai proses.

Bagi siapapun yang tertarik pada karya sastra dan sejarah negeri ini setidaknya pada tulisan Suwarsih kita dapat belajar.