Di antara sekian banyak pengarang Indonesia dari Periode Balai Pustaka, seorang yang sangat produktif menulis novel ialah Nur Sutan Iskandar. Itu sebabnya tidak salah jika ia kemudian dijuluki sebagai Raja Pengarang Balai Pustaka. Hingga saat ini, produktivitasnya dalam menulis novel barangkali baru dapat tersaingi oleh pengarang Putu Wijaya dan Remy Sylado.

Sastrawan yang lahir pada 3 November 1893 di Sungai Batang, Mainjau, Sumatra Barat dan meninggal dunia pada 28 November 1975 di Jakarta ini memulai kariernya dengan bekerja sebagai guru. 

Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Melayu Kelas II, ia belajar menjadi guru bantu dan menempuh ujian Klien Ambtenaars Examen, Nur Sutan Iskandar kemudian menjadi guru Sekolah Desa di Sungai Batang, guru bantu di Muarabeliti, Palembang, dan guru Sekolah Melayu Kelas II di Padang.

Ketika bertugas mengajar di Tanjung Pinang, Riau, Nur Sutan Iskandar mendapat tawaran dari Sutan Muhamad Zein, pimpinan Balai Pustaka, untuk bekerja di Balai Pustaka. Ia kemudian berangkat ke Jakarta dan bekerja korektor naskah. 

Di Balai Pustaka, kariernya terus menanjak hingga menduduki jabatan redaktur kepala hingga pensiun. Karena karya-karyanya, ia memperoleh Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1961.

Novel Sejarah

Dari novel-novel Nur Sutan Iskandar, sebuah di antaranya yang memperoleh pujian dari para kritikus sastra dan dianggap sebagai novel terpenting, yaitu Hulubalang Raja. Novel ini merupakan novel sejarah yang dikerjakan berdasarkan disertasi H. Kroeskamp berjudul De Westkusten Minangkabau (1665 – 1668), yang terbit pada tahun 1931.

Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969: 56) mengatakan bahwa novel Hulubalang Raja menarik karena komposisinya yang berliku-liku, namun dapat dijaga pengarangnya dengan baik. 

Kehidupan dan suasana pantai barat Sumatra pada saat permulaan kompeni menginjakkan kaki di sana dapat dengan baik pula digambarkan pengarangnya. Lukisan tokoh-tokohnya yang banyak pun, lanjut Ajip Rosidi, senantiasa diperhatikan dengan seksama sehingga tokoh itu mendapat perhatian yang sama.

Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia I (1980: 80) mengatakan bahwa Hulubalang Raja merupakan novel sejarah yang jauh lebih baik dan menarik ditinjau dari segi sastra. 

Walaupun karya itu menerangkan peristiwa sejarah di Sumatra Barat pada zaman antara tahun 1665 dan 1668 berdasarkan penyelidikan sejarah yang amat teliti oleh H. Kroeskamp, demikian A. Teeuw, karya itu merupakan sebuah novel yang sesungguhnya serta baik susunannya dan ditulis dengan lancar sekali.

Novel Hulubalang Raja mengisahkan tokoh Sutan Ali Akbar atau Raja Adil bersama penduduknya yang berperang melawan Sultan Mahmud Syah yang dibantu kompeni. Karena terdesak, Raja Adil bersama pasukannya kemudian menyelamatkan diri, masuk hutan, dan menyusun kekuatan lagi. 

Sementara itu, Sutan Malakewi yang kemudian bergelar Hulubalang Raja, yang bergabung dengan kompeni, mendapat tugas membasmi orang-orang Puah yang ternyata dipimpin oleh Raja Adil.

Dalam pertempuran, Groenewegwn, petinggi kompeni, nyaris tewas kalau tidak ditolong oleh Sutan Malakewi, Dalam pertempuran berikutnya, Gruys, pengganti Groewenegen, terbunuh oleh Raja Adil. Usaha Sutan Malakewi untuk melacak raja Adil berakhir dengan perdamaian, setelah kemudian diketahui bahwa istri Raja Adil ternyata adik Sutan Malakewi.

Novel Nur Sutan Iskandar lainnya yang dapat digolongkan sebagai novel sejarah adalah Mutiara. Novel yang mengangkat kepahlawanan wanita Aceh, Cut Mutiah, dalam menghadapi Belanda ini, oleh kritikus sastra bermutu lebih rendah daripada Hulubalang Raja. 

Khas Minang

Novel-novel Nur Sutan Iskandar yang mula-mula, mengangkat persoalan khas Minangkabau. Novel yang termasuk ke dalam jenis ini adalah Apa Dayaku Karena Aku Perempuan, Cinta yang Membawa Maut, Salah Pilih, Karena Mentua, dan Tuba Dibalas dengan Susu.

Di antara novel-novel itu, Salah Pilih dinilai menarik oleh para kritikus sastra. A Teeuw, misalnya, dalam Sastra Baru Indonesia I  (1980: 89) mengatakan bahwa Nur Sutan Iskandar jelas kelihatan sepenuhnya dalam novel ini. 

Walaupun plot dan susunannya agak dipaksa-paksakan, ceritanya tersusun rapi, diceritakan dengan cara yang hidup dan suasana setempat yang menjadi latar kehidupan watak tokoh-tokohnya itu digambarkan dengan cara yang menarik.

Sapardi Djoko Damono dalam Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979: 39) mengatakan bahwa Salah Pilih mencoba menyelesaikan masalah adat secara unik. Pertentangan antara kaum muda dan kaum tua tidak mengakibatkan menangnya kaum muda dengan cara memisahkan diri dari lingkungan adatnya. 

Dalam novel ini, lanjut Sapardi, ditentukan pula bahwa keunggulan orang muda terhadap golongan tua karena kaum muda memperoleh pendidikan di sekolah.

Novel Salah Pilih sebenarnya hendak mengupas keburukan perkawinan tokoh Asri dengan Saniah. Karena Saniah pandai berbahasa Belanda, ia menjadi pilihan Asri. 

Akan tetapi, kepandaian dan keturunan bangsawan menimbulkan kesombongan kepada Saniah. Meski akhirnya Saniah meninggal, Asri tetap tidak kecewa. Asri justru menikah lagi dengan Asnah, gadis idamannya sejak kecil.

Novel Nur Sutan Iskandar lainnya yang juga mengangkat masalah adat khas Minang adalah novel Cinta yang Membawa Maut,  Apa Dayaku Karena Aku Perempuan, Karena Mentua, dan Tuba Dibalas dengan Susu.  

Daerah dan Karya Lain

Selain menulis novel yang mengangkat masalah adat di Sumatra Barat, Nur Sutan Iskandar juga menulis novel yang mengangkat masalah dan latar di luar daerah Minangkabau. 

Dengan menggarap novel yang berlatar dari daerah lain itu, novel-novelnya tampak menjadi beragam. Novel-novel ini di antaranya adalah Katak Hendak Jadi Lembu, Dewi Rimba, Neraka Dunia, Cinta dan Kewajiban, dan Jangir Bali.

Nur Sutan Iskandar juga juga menulis novel propaganda Cinta Tanah Air, Cobaan, Pengalaman Masa Kecil, Ujian Masa, Cerita Tiga Ekor Kucing, Gadis Kota yang Berjasa, dan Perjalanan Hidup Perjuangan Srikandi Irian Barat untuk Kemerdekaan.

Selain menulis karya asli, ia juga menerjemahkan dan menyadur karya pengarang mancanegara. Novel terjemahannya adalah Tiga Panglima Perang, Duapuluh Tahun Kemudian, Graaf de Monte Cristo (karya-karya A. Dumas), Belut Kena Ranjau (karya Baronesse Orezy), Anjing Setan (karya Rider Haggard), Memperebutkan Pusaka Lama (karya Eduard Keyzer), Iman dan Pengasihan (karya H. Sienkiewicz). Karya sadurannya adalah Si Bachil (drama karya Moliere) dan Abunawas.

Catatan: Artikel ini pernah tayang di Rubrik TELADAN IQRA.id edisi Kamis, 7 November 2019.