Penduduk Jayarunda digemparkan oleh Pemuda yang kedapatan sedang menyusu kepada seekor kucing di kebun. Bibirnya dengan lembut mencocok salah satu puting kucing hitam dengan bintik-bintik putih di sekujur tubuhnya. Warga yang melihatnya geram. 

Ini bukan kali pertama ia tertangkap melakukan hal seperti itu. Sebelumnya, seekor anjing ditemukan mati di kebun belakang rumahnya. Dengan bekas jeratan tali di leher. Orang-orang yang menemukan anjing itu tak pikir panjang, mereka sudah mengetahui bahwa ini pasti kelakuan Pemuda. 

Kini, mereka sudah muak dengan tingkah lakunya. Bersama warga kampung, mereka ramai-ramai mengerubungi Pemuda. Tidak hanya itu, balok kayu yang mereka bawa bergantian menghunjam Pemuda. Ada pula yang hanya menggunakan tangan kosong. Sampai akhirnya Pemuda mati dengan bibir yang masih mencocok puting kucing tersebut.

Adalah Kusna yang pertama menemukan bayi itu. Sesosok bayi yang tergeletak di samping mata air. Dengan seekor kucing yang menemaninya di keranjang yang terbuat dari anyaman rotan. 

Bayi itu mungkin ditinggal oleh seorang wisatawan. Seorang ibu yang tidak menghendaki kehadirannya atau karena seorang kekasih yang tidak bertanggung jawab. Wajahnya pucat, untungnya ia masih hidup.

Kusna si tukang sapu yang pertama menemukannya. Di sore saat semua orang mulai meninggalkan tempat ini. Di sela-sela ia menyapu dedaunan yang berguguran dari pohon. Tangisan bayi memecah keheningan. Ia melihat keranjang berisi bayi dengan kucing di sebelahnya membiarkan salah satu puting susunya berada di bibir si bayi.

Pekerjaannya ia tinggalkan, lantas ia membawa keranjang berisi bayi itu ke rumah, dengan kucing yang membuntut di belakang. Malang benar nasib bayi ini, pikirnya. Kehadirannya di dunia ini dimulai dengan suatu penolakan. Dari ibu yang melahirkannya, dari seorang lelaki yang menanam benih di rahim ibunya.

Rumahnya hanya terdiri dari satu kamar tidur dengan dipan yang terbuat dari kayu-kayu bekas yang disusun sedemikian rupa. Dengan kasur kapuk yang didapat dari tetangganya yang kebetulan membeli kasur baru dengan teknologi per. Kamar mandinya ada di luar terpisah dari rumah, berdampingan dengan sumur sebagai sumber airnya. Tidak ada ruangan khusus untuk dapur. Tidak ada ruangan yang bisa digunakan untuk duduk bersantai.

Kehadiran bayi ini –beserta kucingnya- membuat rumahnya lebih ramai dari biasanya. Bukan saja karena keduanya berada di dalam rumah. Tapi tetangga yang mulai berkerumun di luar rumah dan beberapa masuk untuk melihat si bayi. Seluruh kampung lambat laun mengetahui kabar tentang bayi yang ditemukan Kusna. Mereka berbondong-bondong datang untuk melihat.

Salah satu di antara mereka keluar dengan mengutuk Kusna dan bayi tersebut. Beberapa yang lain keluar tanpa mengatakan apa pun, mereka keluar lantas pergi begitu saja. Beberapa yang lain seolah tak percaya atas apa yang telah mereka lihat. Sampai salah satu sesepuh kampung berkata kepada Kusna untuk membuang bayi tersebut. Sebab, menurutnya bayi itu lahir dengan membawa kesialan bagi kampung ini.

Kusna bergeming atas permintaan sesepuh kampung tersebut. Baginya bayi ini –beserta kucingnya- adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya. Setelah hampir setengah abad ia hidup ia tidak pernah memiliki siapapun. Maka, tidak ada seorang pun yang bisa mengambil kebahagiaannya. Ia percaya mereka diberikan Tuhan kepadanya sebagai jawaban atas kesendirian yang selama ini ia alami.

Setiap hari para tetangga membicarakan dia dan kedua keluarga berunya. Desas-desus beterbangan dari mulut ke mulut. Anak-anak berlarian sambil bercerita tentang bayi yang dilahirkan seekor kucing. 

Para ibu membicarakan tentang Kusna yang sudah berhubungan badan dengan kucing tersebut. Sebab, di kampung ini mereka pernah menemukan seekor domba milik tetangganya yang mati dengan liang dubur yang terbuka hebat. Seolah sebuah batang kayu telah merobeknya.

Mereka hidup dengan tenang di rumah tersebut. Pekerjaannya sebagai tukang sapu ia tinggalkan. Ia kini sibuk mengurus bayi itu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ia menjual singkong yang ia tanam di kebun belakang. atau apabila rambutan di belakang rumahnya mulai ranum ia akan memanennya dan menjualnya di pasar. 

Hasil dari menjual singkong dan rambutan ia gunakan untuk membeli beras, pindang, ayam atau lauk pauk lainnya. Si bayi tidak memerlukan banyak makanan, cukup air susu kucing itu maka ia pun sudah kenyang dan kembali tenang. Pun kucing itu tidak begitu susah, cukup dengan nasi yang di campur potongan pindang dan diaduk.

Tak berselang lama, Kusna harus menerima kenyataan bahwa si kucing meninggal. Setelah beberapa saat lalu ia bahagia karena mendapat keluarga baru, kini ia merasakan kehilangan seperti yang pernah orang-orang rasakan. Di kebun belakang rumah di sebelah pohon rambutan ia menggali tanah untuk menguburkannya. 

Kini ia hanya berdua bersama si bayi. Setiap si bayi menangis ia tidak tahu harus berbuat apa. Sebab puting susu yang ia miliki tidak bisa mengeluarkan air susu. 

Pertama, ia pergi mencari kucing lain yang berkeliaran untuk di bawa agar si bayi bisa menyusu. Tapi semua kucing yang ia bawa tidak bisa mengeluarkan susunya dan si bayi pun tetap menangis meski puting kucing itu sudah ditempelkan ke bibirnya.

Tak berhenti di situ, ia pergi dari satu tetangga perempuan ke tetangga lain memintanya untuk meminjamkan puting susunya untuk si bayi. Tapi justru penolakan demi penolakan, cacian demi cacian yang ia terima. Salah seorang berkata padanya, “Anjing kau, pergi dari rumahku!” 

Kusna seperti mendapat suatu ilham setelah mendengar itu. Lantas ia pergi tergesa dan mencari anjing. Ia pergi ke hutan yang ada di utara kampung. Tidak begitu jauh, sebab dulu pekerjaannya sebagai tukang sapu berada di muka hutan tersebut, di sebuah tempat wisata pemandian. Hutan yang ia tuju persis melewati kawasan tersebut.

Satu anjing kecil berhasil ia bawa ke rumah, lantas puting susu anjing itu ia sodorkan kepada si bayi. Untungnya si bayi mau menyedot susu dari anjing itu meskipun ia harus memeganginya sebab jika tidak anjing itu akan berontak. Sejak itu, si bayi terbiasa dengan susu anjing di bibirnya. Kusna pun kini tak khawatir apabila si bayi menangis apa yang harus ia lakukan.

Kusna sudah mati beberapa tahun lalu. Kini si bayi sudah beranjak menjadi seorang remaja. Hidup sendiri di rumah yang diwariskan kepadanya. Kebiasaannya mencocokkan bibir ke puting susu kucing atau anjing masih dilakukan. 

Dengan bebas ia bisa memilih kucing atau anjing dan dibawa ke rumah untuk disedot susunya. Kebanyakan dari mereka berakhir di kebun belakang berbaris rapih bersama sang ibu susu yang dulu pertama kali memberinya air susu. Kucing dan anjing menjadi penghuni tetap tanah di kebun tersebut.

Pemuda, begitulah namanya, menjadi remaja yang berbeda dari kebanyakan remaja lainnya. Di pagi hari mereka bersiap pergi ke sekolah dengan seragam yang rapi dan tas digendongnya. Pemuda berkeliaran di kampung atau di hutan mencari air susu. Sampai sutu hari ia tidak menemukan satu kucing dan anjing di mana-mana. 

Di tengah rasa haus dan lapar yang melanda, ia menemukan seekor kucing tertidur di kandang di teras salah satu rumah warga. Tubuhnya begitu gemuk dibanding kucing kampung yang biasa berkeliaran. Batinnya berdesir. Perlahan ia melangkah masuk ke teras rumah, membuka kandang itu,  membawanya, membekap kucing itu agar tidak mengeong..

Di kebun belakang rumahnya, bersama kucing dan anjing lain yang sudah terlebih dahulu menjadi penghuni ia menggali tanah. Sebelum memasukkan kucing itu ke dalam, ia berbaring dengan bibir yang mencocok puting susu itu, lantas menyedot susunya seperti bayi kehausan dan kelaparan yang ganas menyedot susu dari puting ibunya. 

Meskipun kayu dan kepalan tangan datang menghunjam tubuhnya tak berselang lama setelah ia mulai menyedot puting susu itu, ia tetap di posisi yang sama dengan bibir yang menyentuh puting itu. Akhirnya ia bisa menyusul sang ibu susu yang pergi lebih dulu, “Ibu, aku menyusulmu.”