2 tahun lalu · 7068 view · 7 min baca · Perempuan 97035_48688.jpg
Foto: WisdomTimes

Susu Perempuan dan Putingnya

Melihat susu perempuan lengkap dengan putingnya bukanlah hal tabu. Susu perempuan lengkap dengan putingnya harus diperbincangkan, harus diterangkan. Sebab banyak yang salah paham. Susu perempuan, putingnya yang menghidupi juga menenggelamkan. 

Susu perempuan bukanlah hal yang vulgar ketika di bawahnya ada sebuah kehidupan yang harus disusui secara terbuka. Ketika ada yang langsung “tegang” melihat susu perempuan lengkap dengan putingnya, dipastikan mereka adalah kaum brutal, seolah susu beserta putingnya satu-satunya cara seseorang merangsang untuk dijamah atau menjamah.

Sebab memberi susu untuk anak tidak pernah memandang waktu. Mereka mengisap karena lapar, haus, dan butuh. Lapar bayi-bayi tak memiliki toleransi. Tak pandang waktu apalagi tempat luang. Yang bayi-bayi tahu hanya mendapatkan asupan dari ibunya saat itu juga, saat di mana lapar tidak bisa ditangguhkan. 

Perempuan yang menyusui di ranah publik harus dimaklumi, bila perlu diistimewakan. Ingatlah, tak ada satu perempuan pun yang ingin dipermalukan, dipelototi, namun ia tanggalkan seluruh rasa malu demi memenuhi kebutuhan gizi sang hidup yang dititipkan Tuhan padanya.

Seorang Ibu di pusat perbelanjaan membiarkan balitanya menangis. Toh, hanya sebentar. Ibu ini memilih untuk tidak menyusui balitanya sesegera mungkin. 

Ibu muda ini masih canggung menyusui. Katanya ga enak dilihatin banyak orang. Bukan hanya satu atau dua ibu yang merasakan canggung demikian, melainkan dominan ibu muda lebih memilih menunda menyusui balitanya ketika berada di tempat umum.

Kasus ibu menyusui di ranah publik bukan perbincangan baru. Kadang, banyak yang melakukannya secara terang-terangan, jujur, bahkan sangat terbuka untuk membuktikan bahwa perempuan beserta putingnya tak perlu takut untuk dilihat dunia. Tumbuh kembang anak lebih penting dari opini dunia pada mereka yang telah menjadi ibu. Seperti yang dilakukan ibu muda satu ini.

Busui-Busui yang Memerdekakan Diri

Busui (Ibu menyusui) merasa bangga jika ia bisa memompa asi sebanyak mungkin. Sebab, busui ini benar-benar tahu rasanya menjadi ibu yang lengkap. Meski perempuan, tak semuanya dikaruniai keistimewaan untuk bisa menyusui. Tentang menjadi busui ini, banyak yang masih nyinyir.

Sebuah foto anak perempuan bungsu Presiden Kyrgyzstan yang mengenakan pakaian dalam dan menyusui bayinya telah memicu debat mengenai masalah menyusui dan seksualitas. Aliya Shagieva mengunggah foto di media sosial pada April lalu dengan tulisan di bawah foto: 'Saya akan memberinya makan, kapan pun dan di mana pun dia butuh makan”

Dia kemudian mencabut unggahannya setelah dituding berperilaku tidak bermoral.


Mengapa harus menyerah? Bukankah ini adalah bentuk perlawanan bagi mereka yang masih kolot? Dengan mengonsumsi asi langsung dari puting ibunya di hadapan umum bukanlah soal pornografi apalagi penyebaran konten vulgar. Sama sekali bukan ini. 

Ketika foto Shagieva diunggah, sejumlah pengguna media sosial berpikir tak perlu mengunggah sebuah foto momen yang intim; yang lainnya mencelanya dengan alasan tidak sopan. Lebih dari itu, Shagieva sepertinya sedang melakukan perlawanan. Bahkan ia membiarkan tubuhnya menjelaskan lebih banyak dari kata-katanya dalam postingan.

Perempuan dan putingnya juga pernah menimpa perempuan parleman. Senator Australia Larissa Waters menjadi politisi pertama yang menyusui di ruang sidang di gedung parlemen negeri itu. 

Waters, dari partai sayap kiri Greens, menyusui ALia Joy, bayinya yang berusia dua bulan, selama proses pemungutan suara. Dalam foto itu, perempuan ini tersenyum puas. 

Senyumnya juga cukup menunjukkan kepada dunia bahwa seksualitas bukan melulu soal perempuan dan tubuhnya. Dialah wanita pertama yang berani tampil demikian meski sudah beberapa tahun lamanya peraturan terkait busui ini diperbolehkan.  

Seorang perempuan menyampaikan keluhan kepada Kepolisian Jerman karena seorang polisi meminta dia 'menekan' payudaranya untuk membuktikan sedang dalam masa menyusui. Perempuan itu bernama Gayathiri Bose. Dia merasa 'dipermalukan' dan akan mengkaji kemungkinan untuk gugatan hukum.

Pengalaman buruknya terjadi di Bandara Frankfurt ketika polisi merasa curiga dia membawa pompa payudara namun tidak melakukan perjalanan dengan bayinya. Perempuan berusia 33 tahun mengatakan dia dipanggil untuk ditanyai setelah tas tangannya yang berisi pompa payudara melewati mesin X-Ray. 

Para aparat tampaknya tidak percaya ketika dia berkeras sedang berada dalam masa menyusui sehingga memerlukan pompa payudara untuk menyimpan susunya. Paspornya kemudian diambil dan dia dibawa ke sebuah ruangan oleh seorang polisi perempuan yang meindaklanjuti pemeriksaannya. 

Di dalam ruangan itu, polisi tersebut meminta dia agar membuktikan memang sedang dalam masa menyusui. 

"Dia meminta saya membuka baju dan agar memperlihatkan payudara saya. Dia kemudian bertanya, bagaimana mungkin tidak ada yang melekat di payudara saya, jika memang sedang dalam masa menyusui dan menghasilkan ASI." 

Terpelas dari benar tidaknya ia adalah busui, akankah petugas bandara memperlakukan hal yang sama untuk wanita yang benar-benar membutuhkan pompa untuk kelangsungan hidup bayi-bayi?

Skelcher, seorang perempuan yang tentu saja ingin menuntaskan kewajibannya menjadi perempuan, yaitu mengandung juga menyusui. Saat Skelcher menyusui putrinya, ada tiga pengunjung lain di restoran yang terlihat mempermasalahkannya. 

"Ia mengatakan bahwa saya telah membuat makannya tertunda dan menyusui bayi di sebuah restoran adalah menjijikkan. Ia terus mengucapkan kata-kata kasar di depan teman-temannya; dan ketika pasangan saya bertanya apa ada masalah, dia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin melihat payudara saya ketika sedang menyantap makan malam."

Skelcher lalu menjelaskan situasi yang ia alami kepada seorang manajer restoran. Sang manajer mengatakan merasa simpati dan menekankan kepada para pengunjung restoran lainnya bahwa perempuan "berhak" untuk menyusui di mana saja di restoran tersebut.

Pantaskah Menyusui di Toilet?

Mengapa akhirnya toilet menjadi satu-satunya tempat yang diperbolehkan untuk perempuan menyusui? Bukankah toilet tidak cukup sehat untuk bayi juga balita? Akhirnya, pembebasan ini berakhir sia-sia.

Tak bisa dimungkiri jika fasilitas untuk ibu menyusui di ranah publik masih terbatas. Hal ini pula yang menyebabkan para ibu memilih untuk menyusui bayi mereka di tempat umum, seperti taman, angkutan umum, dan di pinggir jalan. Namun tindakan ini memicu kritik karena dianggap tidak senonoh, meskipun dilakukan untuk kepentingan sang bayi.

Menanggapi hal tersebut, satu mall yang terdapat di Bogota, Kolombia, melakukan kampanye unik dengan memajang berbagai mannequin ibu menyusui di sudut-sudut mall. Patung-patung di mall bernama Centro Mayor seolah memberi dukungan juga teman bagi perempuan yang masih tabu menyusui di ranah umum. 

Mereka ingin menghapus stigma masyarakat tentang ibu menyusui di tempat umum. Meskipun mengenakan pakaian stylish, mannequin tersebut bukan dimaksudkan untuk menjadi alat promosi bagi brand tertentu. Keberadaan mannequin itu menjadi tanda bahwa sudut di mall tersebut aman digunakan bagi ibu menyusui. 

Gerakan ini sebenarnya dimotori oleh Amigos de la Lactancia (Friends of Breastfeeding), sebuah organisasi yang mendukung gerakan ibu menyusui di tempat umum. 


Menurut mereka, kegiatan menyusui sebenarnya adalah hal natural dan baik bagi ibu menyusui dan sang bayi. Sayangnya, kegiatan tersebut masih dikecam banyak pihak. Mereka cenderung menyudutkan sang ibu, tanpa memberikan solusi yang memadai.

Namun, hasil survei yang dihelat oleh Maternal & Child Nutrition menunjukkan bahwa sebagian besar ibu di dunia masih merasa segan karena malu untuk menyusui bayi mereka di tempat umum. Survei yang melibatkan penelitian dari Inggris, Swedia, dan Jerman ini menggelar wawancara dan diskusi grup pada 63 wanita Inggris yang baru memiliki bayi. 

Hasilnya, dari survei menyimpulkan bahwa para ibu di era modern seperti sekarang ini masih kurang nyaman memberikan ASI di ruang publik. Alasan utamanya adalah tatapan kurang enak dan komentar tajam dari lingkungan sekitar.

Perkara menyusui di ruang publik sendiri masih kerap menjadi bahan perbincangan di Indonesia. Menyusui adalah suatu hal yang alamiah dan kodrati. Mari hentikan berpikir picik. 

Payudara seorang wanita secara kodrat adalah sumber kehidupan bagi bayi. Bila kemudian ada orang-orang atau oknum tertentu yang memandang bahwa menyusui di ruang publik itu tidak pantas dilakukan, maka mereka memandang payudara sebagai objek seksualitas saja. 

Beruntunglah di Indonesia ini para bayi dan ibu menyusui dilindungi hak-haknya untuk mendapatkan ASI dan untuk menyusui. Peraturan tersebut tertulis dalam Pasal 128 UU No. 36/2009 tentang Kesehatan, yaitu: setiap bayi yang lahir berhak untuk mendapatkan ASI eksklusif. 

Ada juga peraturan dalam Pasal 128 UU No. 36 tahun 2009, yaitu: Pemberian hanya ASI selama 6 bulan dan dapat terus dilanjutkan sampai usia 2 tahun. Pasal dalam UU Kesehatan ini kemudian menjadi payung dari beberapa Peraturan Pemerintah, Permenkes, dan juga Perda yang mengatur lebih lanjut tentang pemberian ASI. 

Di beberapa fasilitas publik kini bahkan menyediakan ruang untuk menyusui. Hal itu memang sudah merupakan amanat Pasal 22 UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. 

Pasal itu berbunyi: "Negara & pemerintah berkewajiban & bertanggung jawab memberikan dukungan sarana & prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak. Sarana dan prasarana itu salah satunya adalah menyediakan ruang menyusui." 

Bersyukur sekali, di Indonesia, menyusui di tempat umum menghadirkan nilai toleransi yang tinggi. Tentu bukan menyusui yang lain, melainkan menyusui seorang bayi atau balita. Bahkan peraturan menyusui untuk ibu yang bekerja diatur begitu baiknya oleh pemerintah. 

Tapi sayang, kebebasan ini masih ditanggapi malu-malu, jadi beban, dan dominan menolak pelan-pelan.

Terkait hak menyusui anak bagi para ibu yang bekerja pun diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 83 UU No. 13 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa pengusaha diwajibkan memberi peluang yang layak pada karyawan perempuan yang memiliki bayi yang masih menyusui.

Peluang-peluang yang sedemikian, termasuk di antaranya membangun fasilitas yang sesuai di tempat kerja yang memungkinkan para ibu menyusui di tempat kerja, juga memberikan keleluasaan untuk menyusui selama jam kerja, sesuai dengan peraturan perusahaan atau kesepakatan kerja bersama.

Peraturan ini harus dipahami dan dijalankan oleh perempuan-perempuan yang peduli tumbuh kembang bayi serta balitanya. Jangan lagi malu-malu menyusui, memanfaatkan setiap kesempatan untuk dapat memberi ASI eksklusif bagi sang buah hati. 

Kalian, para perempuan, tidak akan tampak binal jika payudara dibiarkan terbuka sebab menyusui. Penghargaan terbesar para perempuan, yaitu menempatkan susu juga putingnya pada tempat seharusnya.

Artikel Terkait