Namanya Susan. Entah umurnya berapa, yang jelas dia sudah beranak pinak banyak. Sebagian diminta teman-teman 'pengasuhnya'.

Susan ini anjing yang nggak terlalu banyak gaya dan nggak pernah keluyuran keluar rumah, macem perawan pingitan. Etapi kadang dia nangkring di motor kalau tahu pengasuhnya mau pergi. Mungkin dia sedang bosan di rumah melulu. Anjing juga butuh hiburan ya kan.

Dari tatapan matanya yang di foto itu saya sok tau mengartikannya, seperti ini..

Bukankah hidup ini adalah tentang menyesuaikan.

Aku tak bisa memilih dilahirkan sebagai apa, oleh siapa, dan hidup yang bagaimana. Maka ketika aku dilahirkan sebagai anjing ya dijalani saja sebaik-baiknya tanpa bermaksud merepotkan siapapun.

Menyesuaikan apa-apa yang diberikanNya dengan keadaan sekitar, nggak bisa ngomong ya menggonggong.

Beruntung pengasuhku memberiku makan dan minum, memandikan dan kadang mengajakku kelilingan menikmati udara segar, dengan motornya.

Terimakasih pengasuhku. Kalian mungkin bukan yang terbaik, tapi setidaknya aku tak pernah diperlakukan buruk. Dia Sang Pencipta telah memilihmu untuk bersamaku beberapa tahun ini, entah sampai kapan. Semoga sampai waktuku selesai nanti.

Eh ngomong-ngomong namaku bagus, aku suka menjadi Susanmu! Guk! 

Undangan

• 00.44
Iseng sekali, membangunkan lelap tidurku dengan ketukan di pintu berkali-kali tapi tak ada siapa-siapa di sana.
Dengan kesal kuletakkan bungkusan merah itu di meja kayu, dan sebelum melanjutkan tidur kubaca kartu merah yang menempel di atasnya, 

"Grey, jangan lupa bahagia. Datanglah besok jam sebelas, ada acara di rumah. Pakailah baju ini ya."
Love, Yesa.

• 08.17
Pagi yang kesiangan. Cuaca mendung murung. Setengah jam aku berusaha mengumpulkan niat untuk mandi, menyeduh kopi dan menghabiskan sepotong roti. Setelah berhias seadanya, menit-menit berikutnya adalah mematut diri di cermin dengan baju hitam berenda merah pemberian Yesa semalam. Ada yang ganjil, tapi entah apa.

"Kring."

"Grey, jangan terlambat, satu jam lagi acara dimulai. Bawakan aku bunga ya, apa saja."

"Hah.. bunga? Sekalian potnya mau?"

"Haha iya, boleh.. Jangan terlambat ya, Grey!"

"Terimakasih bajunya, Yesa!"

"Iya, sayang. Cepat datang, jangan terlambat!"

"Klik."

• 10.35
Rumah Yesa yang besar dan berhalaman luas dipenuhi tamu. Kidung-kidung dinyanyikan. Terlihat keluarga dan kerabatnya berkumpul di sisi kanan dan teman-teman di sisi kiri. Fani menyambutku, memelukku erat, bergantian dengan Ane, Medi dan Raka. Acara dimulai beberapa menit lagi, masih ada waktu menyerahkan bunga yang dia minta.

"Yesa, aku tak terlambat datang. Ini bunga yang kamu pesan. Terima kasih ya, Yesa. Selamat jalan."

Setelahnya semua gelap. Aku tak melihat dan mendengar apa-apa, selain tangis kesedihanku sendiri. 

Percakapan Imajiner

Percakapan imajiner selesai mandi tadi sore. Apa saja, termasuk angka-angka yang tak melulu matematika.

"Ngapain sih bongkar-bongkar, nyari apa?"

"Ini. Buku antologi puisi 3 tahun lalu. Buku ke 3 yang ada tulisanku di dalamnya. Nyempil di antara tulisan megah teman-teman Rumah Literasi. Senangnya.

"Puisi mana yang kamu suka?"

"Di halaman 83 dan 86. Puisi yang tak panjang-panjang amat tapi judulnya cukup panjang, 10 dan 7 kata."

"Kenapa judul saja sepanjang itu?"

"Entahlah, hanya merasa judul dan isinya sudah saling melengkapi, meski tak sesempurna Hujan di Bulan Juni milik Sapardi."

"Apa judulnya?"

"Sebab Kehilangan Adalah Cara Tuhan Memberi Ikhlas Pada Masing-masing Kita, dan Kepada Laki-laki yang Kutemukan di Dalam Cermin."

"Berapa kali membacanya?"

"Lebih dari 10 kali mungkin."

"Ada yang menarik?"

"Tebak saja.."

"Keduanya hasil imajinasi liar dari sesuatu yang sangat kamu benci sekaligus kamu suka."

"Ehe.. bener. Tahu aja."

"Yaiyalah tahu wong kita ini satu otak, aku di kiri kamu di kanan. Eh ada yang liar lagi nggak?"

"Ya kita ini. Kota penuh angka dan kata-kata yang tak berhenti bekerja."

"Lalu soal rindu, seliar apa padamu?"

"Haha.. bodo amat!" 

Dua Nasihat

"Beri aku nasihat."

"Tentang apa?"

"Apa saja."

"Satu, jangan mudah tertipu dengan apa yang kamu pikirkan, apalagi dengan yang kamu rasakan. Dua, sebab cinta adalah mengalami, bukan kebetulan-kebetulan yang dibiaskan. Dan ketika waktu tak mampu kita hentikan, kita juga tak mampu menghentikan laju cinta. Maka biarkan ia dengan jalannya."

"Kenapa dua?"

"Sebab mereka terhubung, bahkan terikat."

"Tak bisa dipisahkan lagi?"

"Bisa, asal waktu setuju."

"Sampai kapan menunggu waktu?"

"Sampai kamu lelah menghitung, mungklin. Tak terbatas; 3 hari, 7 minggu, 3 bulan, 7 tahun, 37 tahun, 370 tahun."

"Kelamaan dong, keburu selesai hidupku."

"Selesai adalah awal untuk sesuatu yang baru. Percaya kamu?"

"Emmm.. iya bisa sih. Terus gimana?"

"Gimana apanya?"

"Siapa yang lebih fana, angka atau kita?"

"Dua-duanya abadi, pertanyaanmu yang fana."

"Haha.."

"Bersiaplah, ingatanmu akan mencari sekaligus menemukan jawabannya. Itupun kalo kamu mau belajar memahaminya. Ingatlah, Grey, satu langkah satu kehidupan."

Lalu hening.
Percakapan larut malam selesai di menit 37 dari jam 1. Beberapa detik berikutnya seseorang di dalam cermin tersenyum menatapku.

"Selamat tidur, aku." 

Still Got the Blues

Daripada Parisienne Walkways saya lebih mabuk dengerin Still Got the Blues. Entahlah. Semacam patah, harga yang harus dibayar saat bertahan memperjuangkan kata 'seakan-akan'.

Lalu hubungannya apa sama video itu? Nggak ada sih.
Video menggambar sambil memutar lagu Parisienne Walkways itu mendadak mengingatkan tentang peranan.
Bahwa setiap kita memiliki peranan sendiri-sendiri, termasuk benda-benda yang kita punya. Misalnya tak semua baju dipakai sampai usang atau tak setiap orang yang ditemui bisa seiring sejalan. Sebagian baju harus rela disumbangkan dan beberapa orang yang dikenal tak perlu dipaksa suka jika memang tak ada feel-nya.

Tetapi apapun itu sediakan ruang untuk berterima kasih, salah satu dari sekian cara untuk menghargai hidup. Terima kasih kertas dan pensil atas kerjasamanya menghidupkan passionnya. Terima kasih Gary Moore, lagumu melahirkan tulisan ini. Terima kasih untuk yang telah meninggalkan segala luka, melepaskannya adalah sebenar-benarnya cinta.