"perempuan selalu benar  laki-laki yang salah, jika perempuan salah,  maka kembali pada kalimat awal,  perempuan selalu benar? 

Katanya perempuan yang selalu benar dan laki-laki yang salah, kalian pernah dengar kalimat ini?

Tetapi mengapa masyarakat selalu membuat perempuan salah tingkah? 

Perempuan harus ini,  harus itu, salah kalau begini, salah kalau begitu.

Padaha perempuan itu sangat mudah memahami kondisi sekitar, hanya saja masyarakat yang kurang mengerti posisi perempuan.

Saya bertanya pada teman-teman saya lewat status Whatsapp yang saya buat , hal apa yang terlintas pertama kali terbesit ketika kalian mendengar kata perempuan? 

Berlian, sesuatu yang indah,  layak memiliki hak yang sama, penerus generasi. 

Beberapa kata di atas merupakan jawaban dari teman-teman perempuan,  teman-teman laki-laki sama sekali tidak ada yang menyumbangkan komentar. 

Lebih baik berpikir positif saja,  teman-teman saya yang laki-laki mungkin kebanyakan sedang tidak memiliki kuota untuk berkomentar. 

Bagaimana menurut kalian?  

Apa itu perempuan, bagaimana pentingnya ada perempuan di bumi?

Bagi saya, perempuan adalah pelahir peradaban, penerus generasi, sama seperti pernyataan salah satu teman perempuan saya, mengapa begitu? Karena kalau bukan perempuan, peradaban mungkin akan punah perlahan, seperti kita tau tanpanya manusia di bumi akan semakin sedikit lalu berakhir kosong tanpa penduduk jika tidak terlahir seorang anak dari rahimnya.

Mari berpikir sejenak tentang menjadi perempuan, tak dapat di pungkiri beberapa perempuan susah bergerak karena stigma orang sekitar.

Stigma masyarakat menempatkan posisi perempuan pada sudut seolah-olah tidak memiliki hak luas seperti laki-laki, hanya laki-laki yang berkuasa, karena bagi masyarakat, kaum laki-laki adalah yang paling kuat.

Rata-rata masyarakat dengan mudahnya mengatakan“halah sudahlah, jadi perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, ujung-ujungnya akan ada di dapur, meskipun sekolah tinggi, perempuan yang baik itu yang selalu ada di rumah”

Menurut saya apa salahnya jika perempuan memilih pilihan hidupnya sendiri, berkembang menjadi seperti selayaknya. Perihal perempuan ujung-ujungnya akan ada di dapur, itu memang fakta yang tidak akan dihindari menjadi kewajiban jika nantinya menjadi seorang ibu.

Laki-laki atau anak-anak pun tetap akan ada di dapur jika menyukai bidang memasak atau memiliki pekerjaan seperti chef.

Apa salahnya si dengan berada di dapur?

Berikut ini adalah beberapa klaim masyarakat mengenai perempuan dan pasti tidak asing di telinga.

Pertama: Perempuan yang Baik adalah Perempuan yang Selalu ada di Rumah dan tidak Pernah Berinteraksi dengan Laki-laki.

Susahnya bukan main menjadi perempuan, sering berada di luar rumah saja sudah menjadikan sosok perempuan mendapat klaim tidak baik, lalu dengan perempuan yang di haruskan melakukan kegiatan di luar bagaimana?

Apa hal tersebut langsung membuat perempuan menjadi buruk? 

Perempuan yang berinteraksi dengan lawan jenis juga mendapat pandangan tidak baik di masyarakat, kita seharusnya menyadari,  laki-laki pun tidak akan bisa menghindari interaksi dengan lawan jenis. Interaksi dengan lawan jenis pada dasarnya memiliki batas tempatnya, maka dari itu saya yakin para perempuan pasti mengetahui itu, begitupun sebaliknya laki-laki. 

Kedua: Perempuan yang Baik itu Bisa Mandiri dan Tidak Berusaha Bergantung dengan Orang Lain.

Masyarakat mengklaim perempuan yang baik yang tidak suka bergantung dengan orang lain, sebelum itu kita perlu tau, ada dua macam perempuan dikatakan mandiri, bisa menghasilkan pendapatan dari rumah dan bisa menghasilkan pendapatan dari luar rumah. 

Beruntung bagi perempuan yang bisa menghasilkan penghasilan dari rumah, tapi bagaimana jika seseorang perempuan lain bisa mandiri dengan kehidupannya tetapi harus melakukan kegiatan di luar?, apa salah lagi?

Kalau saya pikir, mau mandiri seperti apa, jika perempuan segala tingkahnya salah di mata masyarakat umum, ya akan tetap salah dan tidak akan pernah benar. 

Ketiga: Perempuan yang  Memilih Berkarir Tidak Bisa Menjadi Ibu yang Hebat Bagi Anak-anaknya.

Secara tidak langsung klaim masyarakat di atas lagi-lagi  membuat saya sebagai perempuan menghela nafas panjang, harus bagaimana para perempuan?

Kenyataanya perempuan yang berkarir tetap bisa menjadi ibu yang hebat, setiap ibu memiliki caranya masing-masing dalam mendidik anak-anaknya. 

 Bagi saya, perempuan yang  berkarir tetap berhak di sebut dengan ibu yang hebat.

Hal tersebut mengingatkan dengan perkataan Najwa Shihab, mengapa seolah-olah perempuan tidak bisa mendapat gelar ibu yang hebat dan istri yang hebat secara bersamaan jika memilih berkarir, mengapa perempuan harus memilih salah satu dari dua posisi tersebut, padahal perempuan berhak mendapat gelar keduanya. Oleh sebab itu menyadarkan saya, bahwa perempuan berhak memilih dua hal tersebut secara bersamaan. 

Runtuh dan berantakan rasanya jika menjadi perempuann saat tidak bisa memilih apapun.

Saya cukupkan saja tulisan ini, pesan saya untuk perempuan di luar sana, kalian tau, kalian berhak bersuara, berhak dengan keadilan, berhak mendapat posisi yang sejajar dengan laki-laki untuk bependapat, berkarya dan berkarir.