Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah telah genap berusia 60 tahun kemarin, tepatnya 17 April 2020. Dalam perjalanannya, organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia ini telah banyak melahirkan para tokoh bangsa. Mahbub Djunaidi salah satunya.

Mahbub merupakan ketua umum pertama di PMII. Soal kirprahnya dalam memimpin organisasi besar itu tidak pernah diragukan. Sebab Mahbub Djunaidi merupakan orang yang bisa dikatakan telah mampu melampaui zamannya.

Kepiawaiannya dalam menulis pun juga telah diakui. Tak tanggung-tanggung, dirinya pun dijuluki sebagai sang pendekar pena.

Dirinya memang terkenal dengan menulis ihwal apa pun, seperti perkataannya yang sangat terkenal: "Selaku penulis, saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ihwal apa saja yang lewat di depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul."

Bagi dunia pers sendiri, namanya bukanlah hal asing atau hal baru ketika diucapkan. Sebagai seorang wartawan, Mahbub sering diberikan judul sebagai wartawan pemikir yang cerdas dan kental, juga jenaka dan penuh kejutan-kejutan dalam setiap tulisannya.

Lalu bagaimana kalau hari ini Mahbub Djunaidi masih ada? Kira-kira dia akan menuliskan tentang apa? Saya selalu membayangkan bagaimana Mahbub Djunaidi hidup di era sekarang. Apalagi di tengah penyebaran Covid-19 ini.

Gaya menulisnya yang penuh dengan humor tentu akan menjadikan penyebaran pandemi ini lebih sedikit ke arah tidak mengerikan. Apalagi melihat angka-angka kematian dan pasien yang telah terkonfirmasi positif, juga melihat penanganan pandemi yang dilakukan pemerintah, tentu membuat kita merasa khawatir, waswas, dan panik.

Tidak hanya itu, selain humor yang masuk ke dalam tiap tulisannya, Mahbub juga terkenal sebagai seorang pemberani mengkritik kebijakan pemerintah. Idealismenya yang kokoh bagaikan batu karang, susah ditiru oleh siapa pun.

Seperti contoh, Mahbub Djunaidi pernah menuliskan esai berjudul "Kecuali" yang terbit dalam pemberitaan kompas (1986), yang mengritik pada kelambanan pemerintah dalam memajukan transportasi, dengan cara menceritakan seorang tetangganya yang bernama Sri Lestari yang katanya tak pernah lestari soal percintaan.

Kelambanan pemerintah dalam menangani covid-19 ini, tentu tidak akan lepas dari kritikan Mahbub, pastinya tidak hanya mengkritik, Mahbub juga pasti akan memberikan solusi dan saran pada pemerintah.

Hal ini tentu berbeda ketika melihat realitas hari ini, apalagi di dunia jurnalisme dan kewartawanan dimasa pandemik. Mahbub pernah menuliskan beberapa istilah untuk menggambarkan karakteristik wartawan, seperti termaktub dalam Asal Usul (1996).

Kuli tinta, salah satu istilah yang dipakai Mahbub untuk menggambarkan atau kritikan yang disasarkan kepada wartawan atau jurnalis yang terlampau dekat dengan pemerintah atau perusahaan, serta instansi yang dapat menghasilkan materi.

Yah, sebagai seorang wartawan, Mahbub memang juga banyak memberikan kritikan pada teman sejawatnya.

Mahbub mengartikan Kuli Tinta sebagai kemampuan, kepintaran serta tulisan yang dihasilkan seorang wartawan seperti ini hanya bernilai komersialistik. Wartawan jenis ini, menurutnya tidak akan mengajukan pertanyaan kritis, dan akan menelan pernyataan dari narasumbernya secara bulat-bulat.

Padahal dimasa pandemik semua harus terbuka dan transparan, wartawan harusnya banyak mengkritisi dan mempertanyakan banyak hal, baik dari segi pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan pemerintah, transparansi anggaran terhadap realokasi anggaran bagi covid-19, serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang lainnya.

Diperuntukan pada siapa dan apa, serta asas manfaatnya. Namun demikian hal ini tidak dapat kita lihat di era pandemik, malah yang ada hanya memuat informasi pencitraan pemerintah dan informasi titipan, serta euforia lain-lainya.

Informasi titipan dapat diartikan bahwa informasi yang telah di framing oleh awak media, yang hanya baik saja dan membuang segala sesuatunya yang dapat membuat narasumber menjadi subjek kritikan.

Selain itu pula, media sebagai ujung tombak informasi selama pandemik, harusnya banyak menyajikan fakta dan informasi yang tidak membuat kepanikan masyarakat semakin tinggi, tidak malah hanya mempropagandakan angka-angka kematian sehingga membuat masyarakat cemas dan khawatir.

Tentu melihat hal ini, juga berlaku tidak hanya dalam pandemik, dalam keadaan normal sekalipun, jarang sekali wartawan atau perusahaan media yang dapat mengkritik kebijakan pemerintahan.

Padahal, dalam pasal pertama Kode Etik Jurnalistik misalnya yang menerangkan bahwa wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Independen, diartikan sebagai memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

Memang betul, menjadi Mahbub di segala kondisi dan suasana itu susah, apalagi ditengah pandemik covid-19.