Alangkah enaknya hidup ini kalau mudah tertidur. Bukannya mudah tertidur saat khatib sedang berkhutbah, atau mudah tertidur saat sidang di gedung DPR. Maksudnya mudah tertidur saat tubuh memang perlu istirahat.

Seperti seorang kawan yang biasa dipanggil “Guru”, karena penampilannya mirip Tuan Guru atau ulama Banjar, ia mudah sekali tertidur. Ia bahkan bisa tertidur beberapa detik setelah duduk di kursi tamu kantor pada jam istirahat. Lalu orokannya terdengar mendayu-dayu, tetap dalam posisi duduk, seakan sedang menerima ilham kewalian atau seperti Kogoro Mouri sebelum mendapat “pencerahan” dari Conan.

Pernah dalam sebuah perjalanan dari kantornya ke kantor Bupati, yang berjarak cuma kira-kira 10 kilometer, di dalam minibus milik kantor, Guru asyik mengobrol dengan kawan yang lain. Guru masih menyahut omongan kawan itu ketika memulai sebuah kisah. Belum habis kisah disampaikan, Guru sudah terlelap dengan nyaman. Sang kawan pun memasang muka cemberut karena merasa dikacangin.

Sebagai pegawai di bagian administrasi, yang berurusan dengan tetek-bengek birokrasi, sifat mudah tertidur nampaknya sangat bermanfaat buat Guru. Meskipun urusan birokrasi itu acapkali mengharuskannya kerja habis-habisan seharian, tubuhnya mampu mengambil kesempatan sekecil apapun untuk beristirahat dan memulihkan otak dan otot-ototnya.

Berbeda dengan aku yang susah tidur. Tidak tahu apakah aku mengidap insomnia, tapi agar bisa tertidur memang banyak syarat-syaratnya.

Soal kualitas tempat tidur tidak terlalu penting, empuk atau keras, kasur atau kursi kayu, tapi temperatur ruangan menempati posisi pertama dalam susunan persyaratan itu. Panas sedikit bisa jadi masalah. Karena itulah, kipas angin kuanggap sebagai benda keramat. Apalagi kalau turun hujan dan suhu dingin memenuhi udara, Tuhan seakan sedang sayang-sayangnya.

Bagi kebanyakan orang, pikiran yang tenang tentu bisa menghasilkan tidur yang nyaman. Masalah-masalah di tempat kerja, hubungan pertetanggaan yang tak selesa, hubungan percintaan yang kurang mesra, hutang yang membayang-bayang di kepala, jelas membuat susah tidur.

Yang paling meresahkan adalah ketika jiwa tak kunjung meresapi bacaan dengan sempurna. Kemampuan otakku yang seadanya kadang memaksa tubuh menunda istirahatnya, setidaknya sampai aku merasa konsep-konsep dan gagasan-gagasan dari buku yang baru dibaca berhasil terangkai dalam al-khayal memori al-hafizhah. Demikianlah, sekalipun hal itu lagi-lagi sekemampuan qalb-ku yang masih banyak penyakitnya.

Di antara syarat-syarat tidur lain, yang tak kalah penting adalah keheningan. Detak-detak jarum jam dinding memang tak seberapa, tapi suara kipas angin yang berderit-derit bahkan sering membuat kesal. Lebih mengganggu lagi, suara ribut tetangga depan rumah – nampaknya pegawai negeri baru – yang mabar alias main bareng Mobile Legend bersama kawan-kawannya.

Satu lagi, kucing. Kebetulan lingkungan tempat tinggalku dihuni beberapa keluarga yang memelihara kucing sebagai teman bermain. Konon memelihara kucing lagi tren di kalangan keluarga kelas menengah perkotaan. Lihatlah media-media sosial dan jagad internet secara keseluruhan, banyak penggunanya menjadi budak kucing.

Pada malam hari, kucing-kucing itu dilepaskan begitu saja di luar supaya tidak kencing dan berak di dalam rumah, dibiarkan kedinginan, kenyamukan atau berkelahi dengan sesamanya. Baru saat manusia memerlukan hiburan, hewan-hewan itu dibawa masuk, dimainkan-mainkan, dimanja-manja, diremas-remas dengan rasa gemas. Aku membayangkan apa yang bakal dikatakan Yuval Noah Harari: “dasar homo sapiens!”

Bila sesama kucing saling berkelahi, ributnya minta ampun. Seperti tuan-tuan manusianya, sebelum adu fisik mereka melakukan psy-war terlebih dahulu, mengeong-ngeong tak jelas, saling menyalahkan. Suara adu mulut kucing-kucing itu, dari geraman sampai teriakannya, sangat mengganggu upayaku menutup mata.

Seperti beberapa malam lalu, ketika dua kucing yang tak seimbang terlibat sengketa. Yang satu nampaknya lebih tua, bertubuh besar, berbulu lebat, belang hitam-putih, sedangkan satunya lagi masih kanak-kanak, lebih kecil, bulunya agak tipis tapi cantik, belang coklat muda dan putih.

Si coklat muda adalah anggota belum lama lingkungan komplek perumahan RSS kami. Ia dipelihara oleh tetangga sebelah rumah sejak dipisahkan dari induknya saat masih bayi. Tapi tetanggaku sangat menyayanginya, sampai rela memasukkan item berkilo-kilo Whiskas dalam anggaran belanja bulanannya. Hidupnya terbilang sejahtera. Meski tetap harus tidur di teras rumah, perutnya selalu kenyang dan badan gendutnya tetap terjaga.

Kenyamanan si coklat-putih sebagai kucing baru di lingkungan komplek nampak mengusik ketenangan si hitam-putih. Malam itu, ia bermaksud membuat perhitungan. Setelah melewati sela-sela pagar rumah tetanggaku itu, dengan langkah pelan dan berwibawa, si hitam-putih mendekati si coklat muda yang hampir tertidur di atas keset yang empuk.

Si hitam-putih mulai menggeram.

“Kamu anak baru, ya?! Enak banget kamu rebahan doang. Mentang-mentang tiap hari makan enak. Memangnya siapa kamu di sini? Ini wilayahku. Jangan bertingkah kamu!”

Si coklat muda yang tahu diri cuma mengeong kecil.

“Maaf, Om. Saya kucing piaraan biasa, cuma bisa manut sama tuan saya.”

“Berani menjawab aku?!  Anak baru udah belagu.”

Geraman si hitam-putih kini berubah jadi suara meong yang keras lagi panjang, berkali-kali. Aku yang sudah tidak tahan mendengar lengkingan jumawa itu melompat dari kasur, keluar kamar, membuka pintu rumah, lalu dari sebelah pagar kuusir kucing pengganggu tidur itu. Kulempari dia dengan apa yang ada di dekatku. Setelahnya aku baru sadar, sandalku tinggal sebelah.