“Untuk merawat keaslian bangunan, merawatnya tiap tahun tidak mudah; biaya yang dikeluarkan lebih mahal. Harga alang-alang dan bambu lebih mahal dari seng.”  ~ Andreas Bhara (56)

Ini terucap dari mulut Warga Kampung Adat Tololela, Kecamatan Ine Rie, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu.

Tololela terdiri dari 31 rumah adat khas Ngada (Sa’o) yang terletak di Desa Manubhara. Kampung ini tidak berada jauh dari Kampung Gurusina dan Bena yang sudah tidak asing lagi di telinga wisatawan yang pernah ke Nusa Tenggara Timur.

Ucapan yang menjelaskan tegangan antara merawat tradisi dan godaan beralih ke gaya hidup kekinian.

Merawat Sa’o (rumah adat) tidaklah mudah. Butuh kesabaran. Tiap tahun alang-alang dan atap bambu harus diganti. Harga bahan dan biaya kerja lebih mahal dari rumah modern. Harga alang-alang saja Rp100 ribu per ikat. Sementara harga selembar seng cuma Rp75 ribu.

Demi Melayani Turisme?

Dalam ketidakberdayaan mempertahankan tradisi, negara dan LSM hadir melakukan pendampingan juga menggelontorkan uang. Tujuannya agar tradisi mereka bisa bertahan.

Dengan bertahannya tradisi menarik perhatian turis untuk datang, tinggal, dan mengeluarkan uang. Kalau turis datang, warga mendapat tamsil, tambahan penghasilan.

Di Tololela, biaya inap semalam (termasuk makan malam dan makan pagi) seharga Rp180 ribu per orang. Dan tiap 31 rumah mendapat giliran untuk menjadi rumah inap.

Pungutan biaya inap diserahkan kepada bendahara yang ditunjuk oleh lembaga adat setempat. Harapannya, uang itu dikelola untuk keberlanjutan pariwisata.

Selain terdapat Sa’o-Sa’o yang dipertahankan keasliannya, terdapat beberapa rumah yang membuka warung (kios dalam kebiasaan setempat). Ada kritik, “mengapa mereka berjualan di dalam Sa’o?”

Ini tamparan, mengapa ada warna kekinian? Sementara wisatawan berimajinasi untuk menemukan kultur autentik, yakni rumah adat asli tanpa ada embel-embel modernitas.

Ini kontras dengan etalase Sa’o, di mana tengkorak hewan kurban dan tanduk kerbau dipertontonkan sebagai jejak kemewahan upacara besar seperti Ka Sa’o (peresmian rumah) dan Rheba (Syukuran Adat). Anda bisa membayangkan brand Mie berdampingan dengan simbol-simbol adat.

Gejala ini tidak aneh, karena toh warga pemelihara Sa’o ingin bertahan hidup dan mencari penghasilan. Muncul tanya, apakah dengan sekadar menjadi rumah inap bagi wisatawan bisa menjamin pendapatan warga setempat? 

Mayoritas warga setempat adalah petani yang hidup dengan menjual kelapa, kemiri, cengkih, kakao dan kopi. Tanah pun tidak sesubur dulu. Itupun tidak cukup untuk menjawab tuntutan biaya sosial (adat istiadat), anak sekolah, kesehatan, dan pajak Gereja.

Industri pariwisata di Flores (Nusa Tenggara Timur) memang menuntut otentisme dan tradisi yang dijalankan secara ortodoks, misalnya soal bangunan, bahasa, dan upacara-upacara adat yang dianggap menarik wisatawan untuk datang dan mengeluarkan uang.

Ini diarahkan untuk melayani pelancong yang beramai-ramai berlibur ke Indonesia, yang konon ingin mengalami kehidupan yang lain. Tapi, apakah uang-uang yang dibawa pitu mengendap pada dompet warga-warga?

Negara juga menggelontorkan uang bagi komunitas adat membangun dan merawat kembali tradisi mereka. Proposal pembangunan biasanya didahului dengan kewajiban pembentukan organ pariwisata setempat.

Defisit Rasa Memiliki

Ini berbanding terbalik tradisi masyarakat adat antik yang mengedepankan swadaya dan swadana. Warga biasa mengumpulkan dana secara partisipasi kolektif sesuai kemampuan.

Makna kemewahan dan keaslian tradisi adat istiadat adalah partisipasi penuh tanggung jawab dari warga adat untuk menjaga marwah tradisi. Ini misalnya tampak dari bagaimana Warga Tololela merawat bangunan Ngadu Bhaga, miniatur bangunan untuk menghormati nenek moyang mereka.

Dengan gelontoran uang dari negara, warga adat bisa menjaga keaslian tradisi mereka. Namun, di sisi lain, mereka tersisih sebagai stakeholder sesungguhnya dari tradisi.

Tidak heran, terdapat defisit rasa memiliki. Bahkan lebih janggal, menjadi tamu di kampung sendiri.

Dan acara-acara adat besar selalu menjadi lahan kekuasaan dan pemodal untuk menunjukan kedermawanan. Kedermawanan penguasa dan pemodal itu berbahaya jika menimbulkan ketergantungan, bukan lagi kemandirian warga adat.

Di sisi lain, iklan eco tourism dan nature tourism menarik bagi pelancong yang jenuh dengan gaya hidup kekinian. Karenanya, mereka memanfaatkan waktu senggang untuk menyaksikan secara langsung keterbelakangan dan ketidakberdayaan komunitas adat sebagai sebuah aktivitas tourism yang layak potret dan mengisi laman-laman media sosial populer.

Godannya adalah, apakah pola berpikir sebagai orang dalam (insider) atau warga adat itu sendiri jatuh dalam turisme kapitalis dan mengalah pada ekpansi kapitalisme pariwisata? Ataukah mereka bertahan merawat tradisi karena keresahan eksistensial mereka?

Karena bagaimanapun, kunjungan turis itu hanya dampak, bukan tujuan dan alasan utama ihwal mengapa warga lokal sebagai pewaris adat masih bertahan mempertahankan tradisi.